Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-89)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

144
Lukisan raja Manasye dipenjara sedang memohon ampun kepada Elloh atas perbuatannya meninggalkan ajaran tauhid. (Monachos Corner.weebly.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Ketika sampai di Yerusalem, tanpa membuang waktu dia langsung mengerahkan tentara dan rakyat Yudea untuk membuang dan memusnahkan semua berhala dan mezbah mezbah untuk penyembahan berhala dan menggantinya dengan mezbah-mezbah untuk menyembah Allah.

Rakyat Yudea bergembira dengan perubahan yang terjadi pada rajanya. Bukit-bukit pengurbanan dihancurkan lagi, namun penyelenggaran kurban di bukit pengurbanan masih dibolehkan sepanjang kurban untuk Allah Bani Israel, bukan untuk berhala. Setelah itu, Manasye mendirikan tembok tinggi di luar kota Dawuddibagian sebelah barat Gihon, di lembah sampai dekat pintu gerbang ikan, mengelilingi Ofel, membentengi kota Dawud.

Setelah menertibkan negara taklukan, Esharhaddon mencari peruntungan lagi dengan meneruskan misi ayahnya yang belum terlaksana dengan kembali menyerang Mesir. Perang terjadi di wilayah Filistin di askhelon.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-88)

Pasukan Esharhaddon yang sebenarnya telah lelah karena menertibkan daerah taklukan, tidak dapat mencapai kemajuan dalam perangnya, kemudian mundur sebentar dari medan perang. Esharhaddon memberikan kesempatan istirahat bagi tentaranya.Mesir juga menarik tentaranya mundur dari askhelon menuju ke Memphis.

Dua tahun kemudian Esharhaddon kembali membawa tentaranya untuk memerangi Mesir dengan langsung masuk lebih dalam melewati wilyah delta. Pada kesempatan ini, dengan persiapan yang jauh lebih baik, pasukannya dapat mengalahkan tentara Mesir.

Raja Mesir yaitu Tirhakah lari ke wilayah selatan Mesir. Istri dan anak-anak serta banyak pejabat dan kerabat Tirhakah menjadi tawanan Asyiria dan dibawa ke Niniveh. Esharhaddon mampu menjadikan Mesir sebagai daerah taklukan, dan ditempatkannya seorang gubernur yang bernama Necho.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-87)

Ketika Esharhaddon meninggal dalam suatu perjalanan menuju Mesir, kekuasaan Asyiria diambil oleh anaknya yaitu Ashurbanipal. Sedang raja di Babilonia oleh Ashurbanipal diberikan kepada saudara mudanya yang sangat disayanginya yaitu Shamas Shum Ukin. Shamas juga membawa patung dewa Marduk untuk dikembalikan ke Babilonia.

Perubahan kekuasaan Asyiria dimanfaatkan oleh sepupu Tirhakah yaitu Tantamani yang mewarisi kekuatan Tirhakah, untuk kembali merebut kekuasaan di Mesir. Rakyat Mesir di kota kota di selatan mendukungnya dan berhasil menumbangkan Necho dan membuat anak Necho yaitu Psammetichus lari mengungsi ke garnisun Asyria di wilayah Sais.

Laporan dari Mesir ditanggapi dengan pengerahan angkatan perang yang besar ke Mesir. Tantamani dan pasukannya dapat dipukul mundur dan kembali lari ke wilayah selatan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-86)

Akibat pemberontakannya, kota thebes di bakar dan diporak porandakan dan kuil dewa Amun dirusak lumayan berat. Benteng benteng dirobohkan dan harta benda diangkut ke Niniveh. Ashurbanipal kembali menempatkan Psammetichus (Psamtik) sebagai Pharaoh Mesir.

Namun Psammetichus tetaplah orang Mesir, meskipun sempat di indoktrinasi cukup lama di Niniveh sebagai orang taklukan, lambat laun Psammetichus menunjukkan bahwa dirinya adalah pewaris imperium besar Mesir. Ia berbelok pelan pelan dengan cara mengurangi sedikit demi sedikit tatacara Asyiria dalam pemerintahannya.

Setelah lebih dari lima tahun menjadi raja Mesir, ketika mulai merasa kuat, pada tahun 658 SM, dia mengirim utusan rahasia kepada raja Gyges, raja wilayah Lydia untuk membangun kekuatan bersama melawan Asyiria.

Gyges menanggapi positif surat tersebut, karena dengan adanya surat itu menunjukkan adanya pengurangan kekuatan Asyiria. Lima tahun kemudian, Psammetichus menyerang garnisun Asyiria di wilayah delta Nil dan memukul mundur pasukan Asyiria hingga ke wilayah semit barat, bekas wilayah kerajaan Israel Samaria.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-85)

Psammetichus kemudian menjadikan kota Sais atau Sa El-Hagar di delta nil barat sebagai ibu kota Mesir dan menempatkan anaknya di Thebes. Namun sial justru menimpa Gyges, tiba tiba negerinya diserang oleh Cimmeria. Intervensi Cimmeria terhadap wilayah Lydia dibiarkan oleh Ashurbanipal karena mengetahui bahwa Gyges telah berkhianat.

Asyiria hanya mengirim pasukan untuk mengamankan perbatasan dari kemunkinan serangan Cimmeria. Pasukan Cimmeria berhasil membunuh Gyges dan merampok kota Sardis.

Ashurbanipal juga mendapatkan keberuntungan karena mendadak raja Cimmeria yaitu Dugdame terserang penyakit ganas yang membuatnya meninggal. Orang orang Cimmeria kembal kenegerinya dan Ashurbanipal tanpa perang menguasai lagi wilayah Lydia tanpa susah payah.

Namun Ashurbanipal tidak melanjutkan perjalanan pasukannya ke Mesir, karena pada saat yang hampir bersamaan, negeri di wilayah timur dan tenggara kerajaannya menunjukkan tanda tanda akan melakukan pemberontakan. Terdapat hubungan dan perang yang rumit antara kerajaan Asyiria, Scythia, Medes (Midian), Elam, Persia, Babilonia yang dapat mengancam dominasi Asyiria.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-84)

Tahun 653 SM selepas invasi Cimmeria di Lydia, Asyiria dibantu sekutunya Scythia terlibat perang yang melelahkan melawan pasukan gabungan Cimmeria, Midian dan Persia. Meskipun Asyiria memenangi peperangannya, Ashurbanibal harus menempatka komandan perang dari Scythia yaitu Madius sebagai raja yang membawahi wilayah Midian dan Persia.

Ashurbanibal harus menempatkan orang yang hanya bisa memajaki rakyat tapi tidak mampu mengelola hasil pajak dan bahkan kalau tidak mencukupi mereka akan keliling menjarah milik rakyat. Ashurbanibal telah menanam bom di wilayah Midian dan Persia.

Tidak lama setelah itu, adiknya sendiri mengkhianatinya. Shamas shum ukin di Babilonia bekerjasama dengan bangsa Elam memberontak untuk memerdekakan diri dari kekuasaan Asyiria. Ashurbanibal dapat menumpas pemberontakan itu, yang membuat adiknya bunuh diri. Ashurbanibal mengejar ke wilayah Elam dan membakar kota kota, kuil-kuil dan istana raja Susa dirampoknya.

Wilayah Elam dihapusnya dari peta negeri-negeri di kawasan. Ashurbanibal membawa siapa saja yang dapat dianggap mempunyai klaim terhadap tahta Elam, diasingkannya ke kota-kota bekas kerajaan Israel Samaria dan membiarkan wilayah Elam dalam kekosongan pemerintahan dalam waktu yang cukup lama.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here