Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-85)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

76
Relief Sargon II. (Sumber: en.wikipedia.org)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Di Samaria, kekalahan terhadap Tiglat Pileser III mendorong terjadinya perebutan kekuasaan di kerajaan. Pekah bin Remalya dibunuh oleh Hosea bin Ela yang kemudian menggantikannya menjadi raja. Saat yang hampir bersamaan, Tiglat Pileser III meninggal setelah menjadi raja sekitar dua puluh tahun dan diganti oleh putranya yang bergelar Salmaneser V.

Pergantian raja Asyiria dimanfaatkan oleh Hosea dengan menghentikan pembayaran upeti ke Asyiria. Ketika Asyiria menyerbu Samaria yang telah membangkang, ternyata Hosea akhirnya menyerah kepada Salmaneser dan berjanji membayar upeti lebih besar dari raja Samaria sebelumnya agar Salmaneser menghentikan serbuannya ke kota Samaria.

Namun Hosea tidak menghentikan usahanya, kemudian diam diam membuat perjanjian persekutuan dengan kerajaan Mesir yaitu dengan raja So dan kemudian menghentikan lagi pengiriman upeti ke kerajaan Asyyur (Assyiria). Kerajaan Israel samaria sedang merencanakan peperangan melawan bangsa Asyiria Bersama Mesir. Rupanya Hosea tidak memperoleh informasi tentang keadaan yang sebenarnya tentang kondisi kerajaan Mesir.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-84)

Saat itu Mesir belum sepenuhnya dapat bangkit dari situasi keterpurukuan akibat meninggalnya secara mendadak Merenptah yang berakibat Mesir terpecah pecah sehingga telah lama menghilang pengaruhnya di wilayah Kanaan (Semit Barat). Meskipun pada masa setelah meninggalnya Nabi Sulaiman, kerajaan Mesir telah dapat menyatukan kembali negerinya, namun Mesir belum menjadi negeri yang cukup disegani di kawasan.

Di Mesir belum muncul orang yang betul betul kuat yang dapat membangun militer yang kuat. Bahkan masih sering terjadi pemberontakan lokal untuk mencoba merebut kerajaan dengan ambisi menyatukan Mesir. Kondisi tersebut belum memungkinkan Mesir bergerak keluar wilayah dan menempatkan kekuatan militernya untuk kembali merebut pengaruh atau menguasai bekas wilayah Kanaan.

Ketika Hosea menghentikan pengiriman upeti, Salmaneser V segera mengerahkan pasukannya memblokir wilayah utara Israel. Ternyata Mesir tidak mengirimkan bantuan militer pada Hosea. Kota kota Israel utara dengan cepat ditaklukkan kembali dan penduduknya diangkut ke Asyur untuk diperbudak.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-83)

Dari penyerangan tersebut Salmaneser membawa berbagai macam harta rampasan baik berupa emas, perak, timah putih maupun hitam, berbagai macam kain dari lenan dan wool, dan lain lain dalam jumlah yang besar dan dibawa ke Assyiria. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 724 SM. Penyerangan dan pengangkutan penduduk Bani Israel dan Aram untuk diperbudak di Asyur dapat dilihat dalam dokumen ANET, Tablet Nimrud, dan kutipan lainnya yang merupakan catatan tahunan Tiglath Pileser III.

Namun belum sampai menaklukkan seluruh wilayah kerajaan Israel Samaria, tiba tiba Salmaneser V meninggal, dan digantikan oleh saudaranya yang lebih muda dan kemudian menyematkan gelar rajanya yaitu Sargon II.

Saat pergantian kekuasaan di Asyur tersebut, Mesir mulai menanamkan pengaruhnya di kawasan. Mesir mulai menepati perjanjian dengan menempatkan tentaranya di Samaria. Untuk beberapa tahun Samaria sepertinya terlepas dari tekanan Asyria namun dengan mengeluarkan biaya untuk menghidupi tentara Mesir.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-82)

Langkah Mesir membuat Sargon II tidak langsung menyerang kota Samaria. Beberapa tahun kemudian Asyur memblokir jalur kearah kota kota Israel di utara yang telah dikuasainya. Perdagangan dengan wilayah Israel utara terhenti. Tentara Samaria dan Mesir tidak langsung menyerang Asyyur untuk membuka jalur.

Langkah Mesir dan Samaria menahan diri justru membuat Sargon II merasa dalam posisi lebih kuat kemudian memerintahkan tentaranya lebih masuk kedalam wilayah Samaria. Akhirnya pengepungan dan penghentian jalur logistik terjadi sampai di dekat kota Samaria.

Pengepungan sudah berjalan sekitar dua tahun, namun Samaria tetap dapat bertahan. Pada sekitar tahun 715 SM, Sargon II menambahkan kekuatan militernya mengerahkan tentaranya ke ibu kota kerajaan Israel Samaria. Kota Samaria dikepung lebih rapat selama tiga tahun dan terputus hubungan dengan wilayah utara dan sekitarnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-81)

Kota Samaria mulai kehabisan sumber sulpai logistik dari daerah sekitarnya. Kekurangan pangan mengakibatkan Mesir menarik mundur tentaranya dan meninggalkan kesulitan besar bagi raja Hosea. Tidak lama kemudian, Kota Samaria betul betul dilanda kelangkaan bahan makanan. Pada saat yang sangat sulit itu Hosea harus sendirian menghadapi kepungan Asyyiria dengan kekuatan pasukan yang jauh berkurang.

Sargon II mengetahui situasi sulit tersebut, kemudian dalam suatu sergapan yang cepat membuat Hosea akhirnya menyerah, ditawan dan dipenjarakan. Rakyat Samaria yang badannya kuat berjumlah sekitar 27.000 orang dibawa ke tempat pembuangan untuk di perbudak.

Sebagian ditempatkan di asia kecil yaitu di wilayah Hittee di Halah di dekat sungai Habor atau khabour (anak sungai Eufrat, sekarang di tenggara Turki, timur laut Syiria) tidak jauh dari wilayah Gozam, dan sebagian lagi ditempatkan di kota Media (Medes atau Madai, sekarang terletak di Iran).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-80)

Kitab 2 Raja-Raja 17 menyebutkan, sebagai pengganti penduduk Samaria, Sargon mengangkut orang-orang dari Babel (babilonia), Kuta, Awa, Hamat dan Sefarwaim. Orang Babel menyembah berhala Sukotbenot, orang Kuta menyembah berhala Nergal, orang Hamat menyembah berhala Asima, orang Awa menyembah berhala Nibas dan Tartak, orang Sefarwaim menyembah berhala Adramelekh dan Anamelekh.

Sedang Bani Israel yang masih tinggal di bekas wilayah kerajaan Israel Samaria dilarang menyembah Allah atau Hashem (Hashem Melekh atau Tuhan raja, nama lain Allah yang dikenal Bani Israel).

Dengan cara seprti itu, Sargon II telah bertindak keras terhadap Bani Israel yang ingin merdeka melepaskan diri dari kekuasaan Asyiria, yaitu dengan menghapus peta kerajaan Israel Samaria dari peta negara negara saat itu. Allah telah menghukum Bani Israel Samaria karena telah lama berpaling dari Allah dan tidak mengindahkan peringatan para nabi dan rasulnya, bahkan membunuh banyak nabinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-79)

Pemusnahan wilayah kerajaan sepuluh suku Bani Israel di Samaria oleh Sargon II menjadi awal bertebarannya sepuluh suku Israel (diluar suku Yehuda dan suku Benyamin) ke eropa. Secara perlahan lahan mereka memulai perjalanan legendaris yang sulit dilacak detilnya dalam sejarah perjalanan suatu bangsa.

Mereka dari Asia kecil (Hittites sekarang masuk dalam wilayah Turki) sebagian mengarungi daerah eropa dan sebagian menyebarngi pegunungan Kaukasus. Dalam waktu yang sangat panjang, Israel diaspora tersebar dan menjadi komunitas etnis yang besar di seluruh daratan Eropa hingga di Inggris, sedang yang menyeberangi pegunungan kaukasus dapat mencapai wilayah Rusia.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here