Pernah Alami Masa Emas, Ini Penyebab Peradaban Islam Alami Kemunduran

5759

Jakarta, Muslim Obsession – Dalam sejarah, peradaban Islam pernah memimpin dunia dengan beragam inovasi teknologi namun tak begitu lama, runtuh karena satu dan lain hal. Simak beberapa penyebab runtuhnya peradaban tersebut di sini.

Selama abad keemasan peradaban islam, sejumlah ilmuwan, filsuf, dan ahli pendidikan muncul dengan berbagai inovasi.

Kemunculan mereka membentang dari era Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rashidin, hingga pemerintahan dengan sistem kerajaan seperti Umayah, Abassiyah, Ottoman di Turki (Turki Usmani), Moghul di India, hingga Kesultanan Malaka dan Kerajaan Aceh.

Memasuki Abad ke-18 dan ke-19, peradaban Islam merosot digantikan dengan peradaban Eropa.

Sejumlah pakar dari Faculty of Islamic Contemporary Studies, Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia, dalam makalah berjudul ‘The Weakness of the Islamic Civilization: The Causes and its Solution’ memaparkan alasan penurunan peradaban Islam tersebut.

Berikut paparannya:

1. Konflik Internal Muslim

Konflik internal muslim muncul karena perbedaan pemikiran di antara kelompok-kelompok Islam.

“Setelah terbunuhnya Khalifah Umar dan Usman, sebuah penyimpangan muncul dalam bentuk kemunculan sekte seperti Khawarij, Syi’ah Rafidha, dan Syi’ah Nashibah,” tulis para pakar.

Selama periode para sahabat, muncul aliran pemikiran Qadariyah dan Mu’tazilah di Basrah, serta Jahmiyyah dan Muhassimah di Khurasan.

Pada Abad 3, Khalifah al-Makmun memperkenalkan buku filosofi Yunani dan berkat buku tersebut, sejumlah kelompok menjadi cukup berani untuk mengutuk pemerintahan.

“Perpecahan menjadi semakin jelas lantaran ketidaksepahaman soal al-Quran, Sunnah, dan karakteristik Allah, pertanyaan terkait Sunnah, surga-neraka serta dosa-dosa besar. Alhasil, fokus kepada bidang pengetahuan dan kemampuan lain menjadi terganggu,” tulisnya.

2. Penurunan moralitas dan sikap muslim

Dekadensi moral yang dipengaruhi peradaban Barat juga berperan dalam kemerosotan peradaban Islam.

Pengaruh itu muncul lewat beragam aktivitas seperti hiburan, seni, serta kebudayaan Barat yang negatif yang menumpulkan pikiran, tetapi diadopsi oleh generasi yang lebih muda sebagai perkembangan.

“Dekadensi moral itu diikuti oleh sikap kaum muslim yang mudah berpuas diri terhadap persaingan global dan ilmu pengetahuan. Strategi tersebut dengan cermat diatur dan dipantau oleh kekuatan Barat,” tulis para pakar.

3. Kristenisasi dan Perang Salib

Selama Abad ke-17, Gereja Katolik Roma yang mengatur sebagian besar Eropa telah mendirikan Kementerian Propaganda Keagamaan di Vatikan. Tujuannya adalah menyebarkan agama Kristen ke seluruh dunia.

Sekolah propaganda tersebut dibangun di Paris dengan dana dari kementerian tersebut. Beberapa institusi lainnya dibangun di Jerman, Prancis, dan Bulgaria.

Selain itu, ada kolaborasi utama antara misionaris kristen dengan imperialisme dalam bentuk Perang Salib yang dimulai pada 1095 dan berlangsung selama dua dekade. Agendanya adalah untuk meredam perkembangan Islam.

4. Rencana penjajahan terhadap kaum muslim

Orientalis Belanda, Snouck Hurgronje, pernah menyarankan teknik ‘Berteman’ dengan para ulama serta ‘Pemisahan’ Islam sebagai agama dan Islam sebagai filosofi politik. Asumsinya, hal tersebut akan mempercepat penghancuran Islam.

“Hal tersebut bertujuan membuat kaum muslim melupakan kewajiban menyebarkan pengetahuan untuk peradaban manusia,” tulis para pakar.

5. Pelarangan Terhadap Kaum Ulama

Kaum Barat juga melarang ulama dan pemimpin beraktivitas. Pasalnya, tanpa para ulama, pengetahuan tidak dapat menyebar. Contohnya adalah pemennjaraan dan penyiksaan terhadap Muhammad Kamaluddin al-Sananirriy dan Abdul Mun’im Abu al-Fatah di Mesir.

Selain keduanya, ada pula pelarangan Haji Abdu Rahman Limbong ke Mekkah. Ada pula pembunuhan terhadap Hassan al-Banna (1948), Abd Qadir Audah (1954), dan Syed Qutb (1965).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here