Kabar Duka, Penyair Sufistik Abdul Hadi WM Wafat

11388

Jakarta, Muslim ObsessionInnalilahi wa Inna ilaihi roji’un. Tokoh sastrawan Abdul Hadi Wiji Muthari (WM) dikabarkan meninggal dunia, Jumat (19/1/2024) pukul 03.36 WIB. Sosok yang dikenal sebagai penyair sufistik itu wafat di usia 77 tahun.

Mengutip Republika, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka, Vila Mahkota Pesona Jatiasih, Bojong Kulur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta.  Adapun pemakaman jenazah Guru Besar Universitas Paramadina itu akan dilakukan usai shalat Jumat di taman permakaman setempat.

Lewat akun Instagram resmi, Universitas Paramadina menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya salah seorang akademisi kampus tersebut.

Prof. Abdul Hadi WM dikenal luas akan sumbangsih pemikiran dan karya-karyanya dalam bidang filsafat dan kesusastraan Islam, khususnya yang bertema sufi. Ia termasuk satu dari segelintir ilmuwan yang meneliti sang “bapak sastra Indonesia”, Hamzah Fansuri yang hidup pada abad ke-16 M.

“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, Prof Dr Abdul Hadi WM (1946-2024) selaku guru besar dan dosen Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta keikhlasan,” demikian petikan pernyataan duka Universitas Paramadina, Jumat (19/1/2024).

 

Penyair Sufistik

Mengutip Wikipedia, Abdul Hadi WM terlahir dengan nama Abdul Hadi Wijaya. Ketika dewasa ia mengubah nama Wijaya menjadi Wiji. Ia lahir dari garis keturunan peranakan Tionghoa di wilayah Sumenep, Madura.

Ayahnya, saudagar dan guru bahasa Jerman bernama K. Abu Muthar, dan ibunya adalah putri keturunan Mangkunegaran bernama RA Sumartiyah atau Martiyah. Mereka dikaruniai sepuluh orang anak dan Abdul Hadi adalah putra ketiga; tetapi kedua kakaknya dan empat adiknya yang lain meninggal dunia ketika masih kecil.

Anak sulung dari empat bersaudara (semua laki-laki) ini pada masa kecilnya sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat dari pemikir-pemikir seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal.

Sejak kecil pula ia telah mencintai puisi dan dunia tulis-menulis. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar.

Bersama teman-temannya Zawawi Imron dan Ahmad Fudholi Zaini, Hadi mendirikan sebuah pesantren di kota kelahirannya tahun 1990 yang diberi nama Pesantren An-Naba, yang terdiri dari masjid, asrama, dan sanggar seni tempat para santri diajari sastra, seni rupa (berikut memahat dan mematung), desain, kaligrafi, mengukir, keramik, musik, seni suara, dan drama.

Sebagai pengajar, saat ini dirinya tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Falsafah Universitas Paramadina, dosen luar biasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta dan The Islamic College for Advanced Studies (ICAS) London kampus Jakarta.

Sebagai sastrawan, Hadi bersama sahabat-sahabatnya antara lain Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar dan Leon Agusta menggerakkan program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS), di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional dan Yayasan Indonesia, dengan sponsor dari The Ford Foundation.

Sekitar tahun 1970-an, para pengamat menilainya sebagai pencipta puisi sufis. Ia memang menulis tentang kesepian, kematian, dan waktu. Seiring dengan waktu, karya-karyanya kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here