Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-86)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

71
Bani Israel di masa raja Hizkia, merobohkan berhala dan peralatan penyembahannya di seluruh wilayah mereka. (Sumber: WordPress. Com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

b. Usaha Kerajaan Yudea bertahan dari pemusnahan oleh Asyiria.

Pada masa Hosea bin Ela menjadi raja Samaria, Hizkia bin Ahas menjadi raja Yudea. Hizkia adalah orang yang taat menjalankan ajaran tauhid. Pada masanya berhala-berhala di Yudea dihancurkan dan bukit-bukit tempat pengurbanan di hancurkan dan Bait EL Sulaiman (Masjidil Aqsha) sepenuhnya kembali menjadi pusat semua peribadatan tauhid di Yerusalem.

Kitab 2 Tawarikh 29-31 menyebutkan bahwa Hizkia sejak awal pemerintahannya, langsung memfungsikan lagi bait El Sulaiman yang telah lama diterlantarkan. Para imam risalah Taurat dari orang-orang Lewi dikumpulkan dan digerakkan lagi untuk menjadi imam dan penyelenggara peribadatan di seluruh negeri, sesuai perintah Nabi Dawud dan Nabi Natan.

Peralatan-peralatan peribadatan difungsikan lagi. Demikian pula, penyelenggaraan kurban bakaran di halaman Haekal Sulaiman dengan menggunakan perkakas pengurbanan sebagaimana yang tercantum dalam kitab Taurat yang sebelumnya telah lama tidak digunakan difungsikan kembali.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-85)

Hizkia juga melaksanakan lagi perayaan hari paska yang sudah beratus tahun tidak diselenggarakan untuk mengingatkan kepada Bani Israel bahwa mereka pernah diselamatkan Allah dari kesengsaraan dan perbudakan di Mesir, dan sekarang dalam ancaman penjajahan bangsa lain. Negeri kerabatnya yaitu Samaria telah dihukum Allah dan banyak yang telah diangkut diperbudak ke negeri lain.

Ketika datang waktunya perayaan hari paskah, Hizkia berkirim surat ke seluruh kota bahkan berani berkirim surat ke kota kota bekas wilayah Samaria yang telah banyak didiami orang dari negeri lain, dan kotanya diperintah oleh orang dari negeri lain. Surat dikirimkan mulai dari kota bersyeba, wilayah Efraim, Zebulon dan Manasye hinga ke wilayah terjauh yaitu di wilayah suku Asher dan Napthali. Roti tidak beragi dibuat lagi untuk perayaan paskah.

Perayaan akan berlangsung selama tujuh hari. Hizkia juga mengatur kembali sumbangan dan membenahi rumah rumah atau bilik bilik tempat tinggal dirumah peribadatan untuk suku Lewi yang bertanggung jawab dalam peribadatan. Ibadat kurban diminta dilaksanakan di seluruh wilayah suku-suku Bani Israel. Kegiatan Hizkia tidak menjadi perhatian Sargon II karena Hizkia tertib dalam mengirimkan upetinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-84)

Sargon II, setelah menghapus peta kerajaan Israel Samaria kemudian disibukkan dengan adanya gangguan dari kerajaan Aram yang bekerja sama dengan orang-orang Hamath menantang asyiria di Qarqar. Sargon II melihat ganggguan ini lebih penting dihadapi karena wilayah tersebut sangat berdekatan dengan Asyiria. Butuh waktu lama mengatasi perlawanan tersebut, namun Sargon II akhirnya berhasil menghacurkan Aram dan Hamath.

Bahkan untuk memastikan agar mereka tidak bangkit lagi, serangannya dilanjutkan untuk menguasai wilayah barat hingga menyeberang laut Mediterania yaitu sampai ke pulau Siprus. Sargon II memaksa wilayah phunisia hingga Siprus membayar upeti kepada Asyiria. Saat itu, upeti dari negara taklukan adalah alat untuk melihat perilaku dan kesetiaan dari raja taklukan. Untuk mengamankan wilayah geopolitik Asyiria, Sargon II membangun kota baru di timur Laut Niniveh, yang dinamakan Dur-Sharukin (Kota Sargon).

Selesai menguasai wilayah utara dan barat, Sargon II yang haus peperangan, membawa pasukannya ke wilyah timur laut menuju Urartu (ararat). Dia mempimpin sendiripasukannya menuju wilayah yang sangat berat dan belum pernah di datanginya, mengarungi sungai Zab dari hulu hingga hilir kemudian memasuki pegunungan Zagros.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-83)

Dengan susah payah pasukannya naik turun lereng dan lembah gunung yang berat hingga sampai diselatan kota Tabriz. Namun pasukannya telah mengalami kelelahan mental yang sewaktu waktu bisa berubah menjadi pemberontakan. Pasukannya mulai membangkang dan menolak untuk melakukan perang.

Pada situasi sulit itu, pasukan Urartu yang dipimpim Rusas menyerangnya, sehingga Sargon harus menghadapi serangan dengan resiko bunuh diri, hanya dengan mengandalkan pasukan pengawal khususnya. Dengan tekat bunuh diri, pasukan khusus dan Sargon II menempur Rusas dan pasukannya. Namun hal itu justru membuat Rusas takut kemudian menarik pasukannya mundur.

Mundurnya Rusas justru membuat semangat tempur pasukan Sargon II yang tidak mau berperang kembali bangkit, kemudian mengejar pasukan Rusas hingga lari ke pegunungan. Namun Sargon II memutuskan tidak terus mengejar ke wilayah yang sama sekali tidak dikenalnya dengan resiko pasukannya memberontak.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-82)

Sargon II kemudian mengajak pasukannya pulang. Ekspedisi Sargon II gagal di wilayah timur laut, namun telah mengamankan Asyiria dari gangguan wilayah timur laut. Sargon II berada dalam puncak kekuasaannya. Upeti datang dari banyak negara bahkan Mesir pun mengirim upeti agar tidak menjadi perhatian Asyur.

Namun raja yang haus perang ini tiba tiba meninggal, dan tahtanya dipegang oleh anaknya yaitu Sanakherib atau Sanherib. Sargon II, karena sangat menonjolnya, sehingga anaknya mungkin tidak banyak dikenal oleh negara negara taklukan. Sanherib sebelumnya tidak pernah mampak dalam medan perang.

Oleh karena itu, naiknya Sanherib disambut teriakan kemerdekaan negara negara taklukan, tidak terkecuali kerajaan Yudea. Hizkia bin Ahas dengan berani menghentikan pembayaran upeti kepada kerajaan Asyur yang dibayar sejak ayahnya minta perlindungan kepada raja Asyur atas serangan kerajaan Samaria dan Aram.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-81)

Hizkia menganggap ada kekosongan kekuatan diwilayah Kanaan (Semit Barat). Kemudian menggerakkan pasukan Yudea, merebut Samaria dan mengusir orang-orang yang ditempatkan oleh Sargon II di Samaria. Hizkia juga mengejar kaum Filistin yang pada masa Sargon II berkuasa leluasa memasuki wilayah Israel. Orang-orang Filistin di kejar kejar hingga mereka kembali ke wilayah Gaza.

Namun tidak semua pembesar istananya setuju dengan pendapat bahwa Sanherib adalah raja yang lemah. Nabi Bani Israel, yaitu Yesaya bin Amos mengingatkan raja Hizkia, bahwa mereka belum mengenal Sanherib.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here