Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-19)

III. Nabi Ya’qub dan Esau.

116
Lukisan Nabi Ya’qub membuat mezbah dan membakar hewan qurban di atas mezbah, seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

7. Peristiwa yang memalukan Nabi Ya’qub.

Lalu Hemor pergi kepada sukunya dan menjelaskan pertemuan damainya dengan keluarga Nabi Ya’qub dan menyampaikan persyaratan harus bersunat. Suku Hemor menyetujuinya kemudian mereka ramai-ramai bersunat.

Tetapi ketika mereka sedang dalam keadaan kesakitan karena sunat, Simeon dan Lewi dengan membawa pedang, mengambil Dina dan membunuh Hemor dan anaknya, juga orang-orang yang menghalanginya serta mengambil ternak-ternaknya dan kemudian membawanya pulang.

Mendengar peristiwa tersebut Nabi Ya’qub marah kepada Simeon dan Lewi karena telah mempermalukannya di hadapan penduduk negeri itu, namun Simeon dan Lewi bersikeras dengan perbuatannya karena adiknya telah diperkosa.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-18)

Dengan perististiwa itu, Nabi Ya’qub kemudian memerintahkan seluruh keluarga dan rombongannya meninggalkan tempat tersebut agar tidak terjadi perselihan yang berlarut-larut dengan penduduk negeri itu.

Saat itu muncul perintah Allah agar Nabi Ya’qub pergi ke Betel untuk mendirikan mezbah di sana. Nabi Ya’qub kemudian memerintahkan kepada semua yang ikut dengannya agar meninggalkan dewa-dewanya dan mengganti pakaiannya karena dirinya akan mendirikan mezbah di Betel.

Di rumah EL, semua harus menjadi orang beriman kepada Risalah Tauhid. Oleh karena itu, semua yang ikut dalam rombongan Nabi Ya’qub harus telah beriman tauhid. Yang tidak beriman tauhid boleh tidak ikut dalam rombongan. Dengan demikian ketika berangkat ke Betel, semua yang ikut dengannya telah beriman tauhid.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-17)

8. Kembali ke Betel, Kelahiran Benyamin dan kematian Nabi Ishaq.

Kitab Kejadian mengisahkan, ketika Nabi Ya’qub dan rombongannya sampai di tugu yang pernah didirikannya dulu, kemudian didirikanlah mezbah untuk dijadikan pusat penyembahan kepada Allah. Menjadi titik pusat perputaran dalam thawaf seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim. Agar mezbah tidak disembah, kemudian dijadikan tempat penyembelihan kurban dan membakar daging hewan kurban.

Tiba tiba datang fimran Allah yang meneguhkan namanya menjadi Israel dan memberi tahukan bahwa keturunannya akan menjadi sangat banyak dan akan menjadi suku-suku yang besar dan bahkan menjadi bangsa dan akan muncul raja-raja dari keturunannya.

Wilayah yang dulu diberikan kepada Nabi Ibrahim akan diberikan kepadanya dan keturunannya. Setelah mendapatkan firman itu, Nabi Ya’qub kemudian menuangkan minyak pada tugu tersebut dan kembali meneguhkan tempat itu dengan nama Betel.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-16)

Setelah istirahat beberapa lama di Betel, Nabi Ya’qub kemudian melanjutkan perjalanan ke Mamre-Hebron. Saat itu Rahel sedang hamil. Ketika masih di jalan ke arah Efrata, rombongan tersebut berhenti karena Rahel akan melahirkan. Rahel sangat kesulitan melahirkan sehingga menghabiskan tenaganya.

Ketika lahir anak laki-laki, Rahel menamakan anaknya dengan Ben Oni, tetapi Nabi Ya’qub menamakannya BenYamin. Namun tidak lama kemudian Rahel meninggal, dan jenazahnya dikuburkan di sisi jalan ke Efrata. Nabi Ya’qub mendirikan penanda dengan tugu di atas kuburnya. Akhirnya Nabi Ya’qub sampailah di Mamre-Hebron. Saat itu Nabi Ishaq sudah sangat tua.

Pada masa Yusuf sudah di Mesir, sedang di Hebron, suatu saat Esau dan rombongan keluarganya pulang ke Hebron menengok ayahnya, bertemu dengan Nabi Ya’qub yang saat itu sedang prihatin karena belum menemukan Yusuf.

Tidak lama setelah semua keluarga Esau dan Nabi Ya’qub berkumpul, Nabi Ishaq kemudian meninggal dalam usia panjang sekitar 180 tahun. Esau, Ya’qub dan keluarganya menguburkan Nabi Ishaq di gua Makhpela berada di dekat kubur Nabi Ibrahim, Sarah, dan Ribka.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-15)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here