Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-18)

III. Nabi Ya’qub dan Esau.

158
Ilustrasi: Pertemuan Nabi Yaqub dan Esau. (Foto: hardcoremesorah)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

5. Nabi Ya’qub dipanggil dengan nama Israel.

Nabi Ya’qub menjadi teringat asal mula perjalannya ke Harran, dimana hal tersebut terkait dengan hak kesulungan (mewarisi tongkat Nabi Ishaq) yang jatuh kepadanya. Nabi Ya’qub merasa bersalah kepada kakaknya mengenai hak kesulungan yang dia dapatkan, dan merasa bahwa kakaknya masih marah kepadanya.

Setelah merenung panjang, Nabi Ya’qub ingin menyerahkan rasa bersalahnya itu. Nabi Ya’qub kemudian mengirim utusan kepada kakaknya tentang kedatangan di wilayahnya. Utusannya diperintahkan untuk menceritakan bahwa hambanya selama ini berada di Harran tempat kediaman Laban, dan telah mempunyai istri dan anak serta harta benda yang cukup banyak dan sekarang hambanya ingin mendapatkan limpahan kasih dari tuannya (kakaknya).

Ketika utusannya kembali, ia kemudian mengatakan bahwa Esau sedang dalam perjalanan menuju ke tempat perkemahan Nabi Ya’qub dengan diiringi 400 orang. Esau telah menjadi seorang pemimpin besar di wilayahnya. Nabi Ya’qub menjadi gelisah dan takut apakah akan diserang oleh Esau. Namun ia pasrah dengan akibat yang akan diterimanya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-17)

Kemudian dibaginya rombongannya menjadi dua bagian, termasuk anak istrinya juga dibagi dua. Demikian pula ternak-ternaknya dibagi menjadi dua. Meskipun telah pasrah, namun Nabi Ya’qub tetap memperhitungkan keselamatan rombongannya. Apabila salah satu rombongan diserang maka rombongan lainnya dapat menyelamatkan diri.

Nabi Ya’qub juga berdoa kepada Allah dengan mengeluhkan keadaannya kepada Allah, karena kepulangannya juga atas perintah Allah. Nabi Ya’qub juga bermaksud melunakkan hati Esau dengan pemberian ternak. Untuk itu ternak hadiah ini dipisahkan secara khusus dari ternak yang dibawa oleh dua rombongan keluarga dan pengikutnya.

Ternak hadiah terdiri dari 200 kambing betina dan 20 kambing jantan, 200 domba betina dan 20 domba jantan, 30 unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, 40 lembu betina dan 10 jantan, 20 keledai betina dan 10 keledai jantan. Suatu jumlah yang cukup besar untuk saat itu.

Ia pun membagi orang-orangnya untuk membawa ternak hadiah secara berkelompok sesuai jenis ternak. Para pembawa ternak hadiah ini ditempatkan di barisan paling depan dan berjalan agak jauh mendahului dua rombongan lainnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-16)

Ada pesuruh yang secara khusus diperintah untuk berbicara apabila bertemu dengan Esau. Jika ditanya siapa tuan dari pemilik ternak maka harus dijawab bahwa ternak itu adalah milik hambamu Ya’qub yang akan dipersembahankan kepada tuannya, yaitu Esau. Hambamu Ya’qub ada di belakang rombongan kami.

Ketika tiba waktu malam hari, Nabi Ya’qub mengajak semua istrinya dan kesebelas anaknya kembali ke sungai Yabok dan kemudian Nabi Ya’qub menyeberangkan istri dan anaknya serta bekal harta, kemudian sendirian menyebarangi sungai lagi.

Kitab Kejadian mengisahkan, dalam kesendiriannya itu, tiba-tiba Nabi Ya’qub merasa dirinya didatangi seseorang yang kemudian menyerangnya. Maka kemudian terjadi pergulatan hingga sampai fajar. Lalu orang itu menghentikan pergulatan dan akan pergi karena hari sudah masuk fajar.

Nabi Ya’qub menahannya dan tidak akan melepaskannya jika tidak memperkenalkan dirinya dan memberkatinya. Terjadi dialog sebentar kemudian orang itu berkata: “Namamu tidak lagi disebut Ya’qub tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-15)

Lalu Nabi Ya’qub berujar: “Katakanlah juga namamu”, dan orang itu menjawab: “Mengapa engkau menanyakan namaku?”, Kemudian orang itu memberkati Nabi Ya’qub setelah itu pergi. Fajar menyingsing dan kemudian nampak matahari terbit.

Nabi Ya’qub kemudian memberi nama tempat itu Pniel, yang mempunyai arti: “aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong”. Ketika berjalan Nabi Ya’qub terpincang karena pangkal pahanya terasa sakit.

Dengan peristiwa ini hingga sekarang orang Isreal tidak memakan daging yang menutupi pangkal paha, karena Allah telah memukul sendi pangkal paha Nabi Ya’qub. Peristiwa tersebut tidak diceritakan oleh Al-Quran, namun Al-Quran menyebut nama lain Nabi Ya’qub adalah Israel yang dalam Kitab Kejadian diartikan bergumul dengan Allah.

Mungkin peristiwa itu perlu dimaknai bahwa Nabi Ya’qub sedang dalam kegelisahan yang mencekam karena membayangkan kemarahan Esau terhadap dirinya sedang kepulangannya adalah atas perintah Allah.

Atas kegelisahan yang sangat tersebut, mungkin Nabi Ya’qub tertidur kemudian bermimpi namun terasa dalam keadaan nyata bahwa dirinya merasa bergumul dengan sosok manusia yang kemudian sosok tersebut berkata bahwa Ya’qub telah bergumul dengan Allah dan manusia. Namun mimpi seorang rasul bukanlah mimpi biasa, karena dari mimpinya itu Nabi Ya’qub kemudian dipanggil Israel.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-14)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here