Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-59)

VI. Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Haikal Sulaiman dan Pecahnya Kerajaan Israel.

131
Lukisan Dawud bertempur dan mengalahkan Jalut (Goliat) dengan ketapel. (Sumber: magdalenee)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Pemandangan di medan laga menjadi sangat kontras. Jalut yang bertubuh besar dengan ukuran tidak normal melebihi ukuran kewajaran manusia dengan peralatan dan perlengkapan tempur yang mematikan, sedang Dawud dalam ukuran manusia normal dengan peralatan dan perlengkapan perang yang aneh yaitu ketapel dan tongkat.

Dalam Kitab 1 Samuel 17: 43, diceritakan Jalut menjadi tersinggung dengan lawannya yang diajukan oleh Bani Israel, dengan berkata: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat? Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara”. Dawud menjawab: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah dari segala barisan Israel yang kau tantang itu”.

Ketika Jalut semakin mendekatinya, Dawud kemudian bergerak mengelilingi Jalut dengan lincah dengan jarak di luar jangkauan tombaknya. Jalut kesulitan menggunakan tombaknya menghadang gerakan Dawud.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-58)

Kemudian Dawud mengambil batu yang ada di kantung gembalanya dan dengan ketapelnya batu tersebut terlontar meluncur dengan cepat menembus sela-sela penutup kepala Jalut mengenai dahinya dengan keras, hingga batok kepala Jalut menjadi retak dan seketeika Jalut berteriak keras dan roboh. Dawud kemudian berlari mendekati tubuh Jalut lalu mengambil pedang Jalut, dipakai menebas leher Jalut.

Baik suku Filistin maupun Bani Israel kaget dengan peristiwa tersebut, kajadian yang cepat yang sama sekali tidak diperkirakan. Ketika dilihat Dawud menenteng kepala Jalut, suku Filistin kemudian lari dari medan perang dengan arah yang tidak teratur dan dikejar oleh Bani Israel dengan sorakan yang bergemuruh. Perkemahan suku Filistin kosong dan kemudian dijarah oleh Bani Israel.

Saul kemudian menyuruh memanggil Dawud yang datang dengan menenteng kepala Saul, dan meminta Dawud agar tetap bergabung dalam balatentara Bani Israel. Sedang Yonathan mengikat janji dengan Dawud karena Yonathan mengasihi Dawud. Bahkan Yonathan kemudian memberikan baju perangnya, pedang dan panahnya kepada Dawud.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-57)

QS. Al-Baqarah 251 menceritakan: “Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Namun, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkanNya) atas seluruh alam”.

Ayat ini menginformasikan tentang Dawud atas izin Allah dapat membunuh Jalut, juga pemberian Allah kepada Dawud berupa kerajaan dan Hikmah. Allah juga menunjukkan bahwa adanya peperangan adalah cara Allah melindung sebagian manusia dari sebagian lainnya, namun karunia Allah meliputi seluruh alam.

Karunia diberikan kepada orang-orang yang menang perang maupun orang-orang yang kalah perang. Sebuah ayat yang sangat ringkas, tetapi menunjukkan prinsip dasar perang di jalan Allah. Tidak ada masalah dengan menang atau kalah, dan mati atau hidup dalam perang di jalan Allah.

Sedang peristiwa bagaimana Dawud mendapatkan kerajaan masih merupakan peristiwa yang panjang yang akan dijalani sejak Dawud diurapi oleh Nabi Samuel. Dawud juga diberi hikmah yang dengan itu Dawud justru akan diuji dalam hal menerapkan keadilan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-56)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here