Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-58)

VI. Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Haikal Sulaiman dan Pecahnya Kerajaan Israel.

162
Suku Filistin yang posisinya dipisah dengan sungai, menawarkan adu jago satu lawan satu untuk menyelesaikan pertempuran dengan Bani Israel. (Sumber: Alkitab SABDA)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Sejak menjadi penghibur Saul, Dawud kemudian menjadi penghuni istana. Jika Saul pergi berperang, Dawud selalu mengikuti dan bahkan ikut pula berperang. Dawud bahkan menjadi kesayangan dari putera mahkota kerajaan Israel, yaitu Jonathan bin Saul dan mereka berdua sangat bersahabat. Karena kuatnya persahabatan di antara mereka, sehingga Jonathan berpesan kepada Dawud, jika dirinya mati dalam peperangan agar Dawud memperhatikan dan menolong anak-anaknya, yang disanggupi oleh Dawud.

5. Dawud melawan Jalut (Goliat).

Peperangan paling berat yang dihadapi oleh Bani Israel saat itu adalah menghadapi suku Filistin yang pusat kekuatan sukunya berada di wilayah Gaza, namun puak-puak sukunya banyak tersebar di wilayah Bani Israel. Pertempuran dengan suku Filistin menjadi sangat berat karena persenjataan dan perlengkapan perang suku Filistin lebih modern disebabkan kemampuan suku Filistin mengolah logam besi dan perunggu untuk dijadikan peralatan dan perlengkapan perang dibanding senjata dan perlengkapan perang yang dimiliki oleh Bani Israel.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-57)

Dalam pertempuran di banyak medan pertempuran, Bani Israel sering mengalami kekalahan dan tidak pernah menang di wilayah Gaza. Dalam suatu pertempuran yang melelahkan di wilayah Yehuda di Sokho, Allah menguji tekat dan disiplin Bani Israel. Ketika Bani Israel dalam keadaan terdesak sehingga perlu mundur ke tempat yang lebih aman, harus bergeser tempat menujus uatu lembah yang memisahkan dua perbukitan, namun kemudian terhalang oleh suatu sungai, sehingga harus menyeberang.

Dalam situasi melelahkan dan menguji mental tersebut, Allah justru menguji keimanan Bani Israel, seperti yang dikisahkan dalam Al-Baqarah ayat 249, dimana Thalut (Saul) memperingatkan bala tentaranya, yaitu: Maka Ketika Thalut membawa bala tentaranya, dia berkata, Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka siapa yang meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan siapa yang tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Namun mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka.

Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-56)

Ternyata hanya sedikit yang taat dengan peringatan Saul, dan ketika sedang menyeberangi sungai banyak bala tentara Bani Israel justru banyak meminum air sungai. Karena minum secara tidak terkontrol dan kenyang air justru membuat badan terasa semakin Lelah dan semangat semakin kendor. Setelah menyeberang, ketika Bani Israel berkemah dan beristirahat di bukit yang terdapat lembah Tarbantin, semangat tempurnya menjadi kendor karena kelelahan.

Sedang suku Filistin berkemah dan beristirahat di bukit di seberangnya, di wilayah antara Sokho dengan Azeka di Efes Damin. Jarak perkemahan kedua pasukan cukup jauh, sehingga mereka dapat beristirahat dengan tidak terlampau khawatir menghadapi serangan mendadak dari salah satu pihak. Dalam situasi masing-masing dalam keadaan Lelah, namun suku Filistin merasa dalam keadaan lebih kuat, kemudian menawarkan adu jago untuk menyelesaikan pertempuran yang panjang.

Suku Filistin menujuk jagonya yang berukuran tubuh besar di luar ukuran manusia normal, bersenjata lembing besi yang ditaruh di bahu dan tombak panjang dari besi yang mata tombaknya besar, memakai penutup kepala dari tembaga, berbaju zirah dari tembaga yang diatur seperti sisik ikan dan penutup kaki dari tembaga pula. Karena besar ukuran tubuhnya, mereka menjuluki Goliat atau yang dalam bahasa arab disebut Jalut.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-55)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here