Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-57)

VI. Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Haikal Sulaiman dan Pecahnya Kerajaan Israel.

136
Di rumah Isai, Nabi Samuwel mengurapi Dawud secara sembunyi-sembunyi di depan ayah dan saudara-saudaranya Dawud agar tidak diketahui Saul. (Foto: newlifenarrabri)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Kitab Samuwel mengisahkan bahwa cukup lama Saul memimpin Bani Israel, dan seluruh masa hidupnya diisi dengan peperangan demi peperangan dengan berbagai suku Kana’an maupun suku Amon, Moab, Edom, Zoba, Filistin, Amalek dan lain-lain.

Peperangan Saul menunjukkan suatu peperangan dalam wilayah yang luas yang sekaligus menunjukkan bahwa wilayah Baitul Maqdis yang diklaim oleh Bani Israel yang terbagi dalam dua belas wilayah kesukuan sesungguhnya di wilayah tersebut telah ada suku-suku lain yang lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut yang suku-suku tersebut juga mempunyai klaim wilayah kesukuannya yang mereka pertahankan.

Klaim wilayah suku-suku Kana’an, puak-puak suku filistin dan suku-suku lainnya berada di dalam klaim wilayah kerajaan Bani Israel. Oleh karena itu klaim kerajaan Israel menimbulkan perang, meskipun tetap hidup bersama.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-56)

Dalam perjalanan peperangannya, Saul masih sempat membentuk keluarga dan bahkan mempunyai beberapa anak laki-laki dan ketika anaknya telah dewasa juga ikut berperang dengannya. Bahkan setelah anak-anaknya juga membentuk keluarga. Anak Saul yang paling menonjol adalah Yonathan. Hal itu menunjukkan bahwa Saul menjadi raja Bani Israel dalam kurun waktu yang cukup lama.

Kitab 1 Samuwel 13 menunjukkan bahwa tidak selalu Saul (Thalud) dalam melakukan peperangan mengikuti petunjuk Nabi Samuwel agar menjalankan hukum perang Nabi Musa. Sering kali Saul tidak mampu mengendalikan pasukannya apabila memperoleh kemenangan, kemudian melakukan perbuatan yang melanggar hukum perang Musa. Tidak jarang Bani Israel mengambil harta yang seharusnya tidak boleh diambilnya atau tidak memusnahkan harta lawan yang harusnya dimusnahkan namun justru diambilnya menjadi hartanya. Motivasi berperang sering berubah menjadi bertujuan menjarah harta benda milik orang lain.

Karena perbuatan yang melanggar hukum perang Musa itu, kemudian Nabi Samuwel mendatangi Saul dengan mengatakan bahwa dirinya telah mendapat wahyu dari Allah bahwa Allah tidak meridhai perbuatannya dan akan menunjuk orang lain untuk menggantikannya sebagai raja. Meskipun Saul mengakui telah berdosa disebabkan pelanggarannya terhadap hukum perang Musa dan menyatakan ingin bertobat, namun Nabi Samuwel tidak bisa membantunya karena Allah telah menetapkan seperti itu.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-55)

Nabi Samuwel berpesan agar Saul tetap menjalankan tugasnya sebagai raja dan jika berperang agar berpegang teguh dengan hukum Musa, agar Allah tidak semakin murka kepada Bani Israel. Setelah menyampaikan wahyu yang diterimanya itu, Nabi Samuwel yang sudah semakin berusia tua kemudian pulang kembali ke tempat tinggalnya di Rama.

Dalam QS. Al-Baqarah: 248, Nabi Bani Israel itu menjelaskan bahwa terdapat tanda-tanda tentang kerajaan yang sebenarnya yang diberikan oleh Allah, yaitu: Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu, yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan Keluarga Harun, yang dibawa malaikat; Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu, jika kamu orang beriman”.

Dalam kitab Samuwel, selama Saul melakukan peperangannya tidak dikisahkan Bani Israel membawa tabut Taurat dalam peperangannya. Oleh karena itu, sering terjadi pelanggaran oleh Bani Israel terhadap hukum Taurat. Kisah peperangan Bani Israel yang paling berat adalah menghadapi suku Filistin dalam medan peperangan yang luas, saling mengalahkan dan memenangkan dalam banyak pertempuran, meskipun Filistin memiliki senjata yang lebih bagus dari Bani Israel.

Suku Filistin telah memiliki teknik mengolah logam besi dan perunggu, sedang Bani Israel justru memperoleh pedang buatan suku Filistin dari perdagangan gelap. Suku Filistin hanya melayani jual beli dengan Bani Israel terbatas pada peralatan pertanian seperti cangkul dan sabit. Sedang untuk peralatan perang, Filistin menerapkan embargo terhadap Bani Israel.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-54)

4. Nabi Samuwel dan Dawud.

Di Rama, Nabi Samuwel sangat bersedih atas banyaknya kesalahan yang dibuat oleh Saul dan Bani Israel, hingga suatu saat mendapat wahyu yang menegurnya atas kesedihannya terhadap Saul sedang Allah telah memutuskan untuk mengganti Saul. Wahyu yang juga sekaligus memerintahkan Nabi Samuwel untuk pergi ke Betlehem menemui Isai (cucu Boas dengan Ruth), karena salah satu dari anak Isai telah ditetapkanNya menjadi pengganti Saul, dan agar diurapi.

Nabi Samuwel sempat mengungkapkan kekhawatirannya akan dibunuh Saul jika dirinya pergi ke Betlehem, namun Allah memberi petunjuk agar Nabi Samuwel pergi dengan membawa seekor lembu muda untuk kurban di Betlehem.

Ketika Samuwel sampai di Betlehem, para tetua di sana sempat ketakutan karena khawatir tentara Saul akan membunuh mereka, karena kedatangannya pasti terkait dengan orang yang telah ditetapkan menjadi raja pengganti Saul.

Namun Nabi Samuwel mengatakan bahwa dirinya akan melaksanakan kurban untuk keselamatan Bani Israel. Dengan ketakutannya penduduk Bethlehem itu, membuat Nabi Samuwel semakin waspada dan berhati hati karena Saul telah membuat pengumuman yang telah disebar luaskan yang isinya membahayakan jiwanya kemananapun dirinya pergi sekaligus membahayakan orang-orang yang bertemu dengannya, bahkan bisa mengakibatkan hukuman mati.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-53)

Ketika dilihatnya Isai, Nabi Samuwel kemudian menyuruh Isai dan keluarganya mensucikan diri untuk membantunya melaksanakan kegiatan kurban. Saat itu, keluarga Isai bukanlah keluarga yang menonjol sehingga keterlibatannya dalam kegiatan kurban tersebut tidak terlampau menjadi perhatian. Ketika dilihatnya anak-anak lelaki Isai yang datang dalam kegiatan kurban itu, dia berpikir bahwa salah satu di antara yang dilihatnya saat itu adalah yang akan ditunjuk oleh Allah untuk diurapi. Namun Nabi Samuwel menunggu petunjuk Allah apakah di antara mereka adalah yang dimaksudkan sebagai pengganti Saul.

Kemudian turun wahyu yang menyatakan bahwa yang datang saat itu, bukan orang yang ditetapkan menjadi raja. Allah kemudian memberi tahukan ciri-ciri anak Isai yang harus diurapi, dimana orangnya berkulit kemerah merahan, matanya indah dan parasnya elok. Nabi Samuwel kemudian bertanya kepada Isai apakah masih ada anaknya yang lain, yang dijawab masih ada anaknya yang bungsu yang sedang menggembalakan kambing.

Kemudian Isai disuruh memanggil anak bungsunya tersebut. Nabi Samuwel mengatakan bahwa acara makan daging kurban belum dapat dilaksanakan sebelum anak bungsunya ikut hadir. Maka Isai menyuruh anaknya untuk mencari saudara bungsunya untuk diajak pulang mengikuti acara makan daging kurban bersama Nabi Bani Israel itu.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-52)

Ketika anak bungsu Isai datang, terlihat sesuai ciri-ciri yang disebutkan dalam wahyu Allah. Nabi Samuwel berdiri menyambutnya kemudian diambilnya tabung tanduk berisi minyak yang telah disiapkannya lalu anak tersebut langsung diurapinya di tengah keluarga dan saudara-saudaranya yang menyaksikannya. Upacara pengurapan dengan minyak khusus yang dicampur dengan rempah-rempah khusus yang menjadi pertanda pengurapan untuk penetapan seorang raja.

Anak tersebut bernama Dawud bin Isai bin Obed bin Boas yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai raja kerajaan Israel. Upacara pengangkatan seorang raja yang sangat sederhana. Tidak ada kekuatan dalam ukuran manusia yang dapat dijadikan pegangan bahwa hal tersebut dapat menjadi kenyataan. Hanya keimanan yang tinggi yang membuat peristiwa tersebut menemukan realitasnya.

Dikisahkan dalam kitab Samuwel, sejak Dawud diurapi tanpa sepengatuhan Bani Israel ini, di tempat lain, terjadi perubahan pada diri Saul yang digambarkan mudah merasa terganggu dan sering kali merasa gelisah dan cemas, sehingga memerlukan orang yang dapat menghiburnya dan menenteramkan hatinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-51)

Saul kemudian menyuruh mencari orang yang pandai bermain kecapi yang dapat menghibur dirinya. Pada akhirnya hamba Saul menunjukkan bahwa orang yang pandai main kecapi dan pandai menghibur seperti yang diharapkan Saul, adalah Dawud bin Isai. Saul kemudian mengirim orangnya kepada Isai, agar mengirimkan Dawud kepadanya untuk menghiburnya.

QS. Saba’: 10 menyatakan: “Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman) Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya”.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Dawud mempunyai beberapa anugerah keahlian dan suara yang merdu yang apabila Nabi Dawud menyenandungkan tasbih mensucikan Elloh, maka gunung dan burung-burung pun ikut bertasbih.

Suara dan bacaan tasbih Dawud dapat menenteramkan hati siapa saja yang mendengarkannya, yang itu oleh kitab Samuwel diceritakan bahwa Nabi Dawud mempunyai keahlian bermain kecapi dan bernyanyi dengan suaranya yang merdu yang dapat menghibur dan menenteramkan siapa saja. Selain itu, Dawud juga dianugerahi kemampuan mengolah besi dan logam.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here