Doakan Agar Dapat Hidayah

452

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University)

TRUE SYORY:

Ini kisah tentang Umar, sahabat Nabi yang dulunya preman ulung dan sadis pada akhirnya memeluk Islam.

Umar Bin Khattab dikenal sebagai sosok yang temperamental, sadis dan jago gulat.  Pasar Ukaz menjadi saksi ketangguhan dan kekejamannya kala itu.

Sifatnya berubah tatkala ia memeluk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun 6 kenabian berkat DOA Nabi Muhammad memohonkan HIDAYAH untuk Umar Al Khattaab.

BACA JUGA: Kesempatan Menambah Pahala

POINTERS:

Umar bin Khattab termasuk orang yang sangat menentang ajaran Rasuulullaah ﷺ.

Dikisahkan, saat Rasuulullaah ﷺ mengumumkan misi kenabiannya, Umar saat itu tengah berusia 27 tahun.

Sebagaimana para pembesar Quraisy lainnya, Umar menganggap seruan kenabian sebagai kegilaan yang menentang kepercayaan nenek moyang mereka.

Sehingga tidak heran jika pada masa awal dakwah Rasuulullaah ﷺ, Umar sangat membenci dan memusuhinya serta para pengikutnya.

Pada suatu hari, Umar berpapasan dengan Nu’aim Bin Abdullah saat dalam perjalanan ingin membunuh Nabi Muhammad ﷺ.

Nu’aim yang melihat kerut dan muram di wajah Umar kemudian bertanya: “Ada apa denganmu, Umar?”

BACA JUGA: Perkuatlah Pertahanan Diri

“Aku mencari dan menginginkan Muhammad, lelaki yang mencerai-beraikan keturunan Quraisy, yang meruntuhkan impian mereka, menghilangkan agama leluhur merena, menyerapahi tuhan-tuhan sesembahan mereka. Aku akan MEMBUNUH Muhammad,” jawab Umar geram.

“Demi Allaah, nafsumu telah menipu dirimu sendiri. Tidakkah kau melihat bahwa anak cucu Bani Manaf tidak akan meninggalkanmu begitu saja. Mereka masih ada di atas Bumi ini. Lalu kau akan membunuh Muhammad, salah seorang cucu Bani Manaf itu?

Tidakkah kau melihat sanak keluargamu sendiri dan kepada merekalah seharusnya kau tegakkan perkaramu itu?”

Mendengar hal itu Umar lantas berkata, “Siapa yang engkau maksud dari sanak keluargaku?”

BACA JUGA: Waktu Kita Sangat Terbatas

“Anak pamanmu, Sa’d bin Zaid dan saudari kandungmu, Fathimah. Demi Allaah, keduanya telah memeluk Islam dan mengikuti ajaran Agama yang dibawa Muhammad. Temuilah keduanya,” seru Nu’aim.

Umar sempat tak percaya mendengar sepupu dan adik kandungnya telah masuk Islam. Tanpa berpikir panjang, ia pulang dan mencari Faatimah.

Begitu sampai di rumah, ia mendapati Faatimah bersama Sa’d dan Khabbab Bin al-Art tengah membaca lembaran-lembaran Al-Quran.

Khabbab sedang membacakan surah Thaaha di hadapan keduanya. Mengetahui Umar datang, Khabbab lantas bersembunyi ke samping rumah. Faatimah pun bergegas menyembunyikan lembaran-lembaran suci itu di bawah pahanya.

Umar yang sempat mendengar lantunan ayat yang dibaca Khabbab lantas bertanya, “Suara apa yang baru saja aku dengar?”

“Kami tidak mendengar apa-apa,” jawab keduanya.

BACA JUGA: Jangan Mudah Dibeli

“Tidak, aku mendengarnya. Jangan sembunyikan apapun dariku. Demi Tuhan, akau mendengar kabar jika kalian berdua telah mengikuti ajaran Muhammad dan mengingkari ajaran leluhur kita,” ucap Umar.

Umar lalu mendekati Sa’d bin Zaid yang juga suami adiknya itu dan memukulnya hingga terpelanting. Faatimah yang saat itu melihatnya kemudian berdiri melindungi dan memeluk suaminya.

Umar lantas memukul adiknya sampai bersimpah darah.

“Ya! Kami berdua telah memeluk Agama Islam dan beriman kepada Allaah dan Rasul-Nya.  Umar, lakukan saja apa yang kau mau. Islam tetap tidak akan pernah lepas dari hati kami,” tegas Faatimah.

Umar lalu tertegun mendengar kata-kata Faatimah. Ketika melihat darah bercucuran dari tubuh adiknya itu, ia menyesali perbuatannya dan menahan amarahnya. Ia kemudian meminta lembaran-lembaran Al-Quran yang dibaca Faatimah dan suaminya.

BACA JUGA: Ketika Sahabat Disuruh Nabi Mengulang Shalatnya Sampai Tiga Kali

Faatimah sempat menolak untuk memberikan lembaran tersebut karena khawatir akan dihancurkan oleh kakaknya.

Kemudian, Umar pun berjanji tidak akan merusak dan bahkan akan mengembalikannya begitu selesai membacanya.

Ketika Umar hendak mengambil dan membaca lembaran itu, Faatimah berkata: “Saudaraku! Engkau dalam keadaan tidak suci atas kemusyrikan dan kekafiranmu. Dan tidaklah menyentuh lembaran itu kecuali orang-orang yang telah mensucikan dirinya.”

Umar lantas mandi besar dan mengambil lembaran Al-Quran lalu membaca surah Thaaha.

“Alangkah indahnya kalimat-kalimat ini, betapa mulianya ajaran-ajaran yang dikandungnya. Sungguh tak ada Manusia yang mampu membuat untaian kalam seindah ini,” tutur Umar yang hebat dalam sastra Arab ini.

BACA JUGA: Ujung-ujungnya Pasti Tersiksa

Mendengar perkataan Umar tersebut, Khabbab yang semula bersembunyi lalu keluar dan berkata, “Demi Allaah, wahai Umar, sungguh, aku sangat berharap engkaulah lelaki yang dimaksud dalam doa Rasulullah.

Kemarin aku mendengar Muhammad berdoa, ‘Yaa Allaah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua lelaki ini, Al-Umar Al-Hakam ibn Hisyam atau Umar Ibn Khattaab.'”

Umar yang mendengar ucapan Khabbab itu lantas bergegas ingin menemui Rasuulullaah ﷺ dan memeluk Islam di hadapannya. Tak lupa ia mengambil pedangnya dan menyarungkannya.

Pada waktu itu, Rasuulullaah ﷺ tengah berada di rumah pengungsian Arqam bernama Baitul Arqam di Bukit Shafa bersama Hamzah, Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib, dan beberapa Sahabat lainnya.

Betapa terkejutnya Hamzah melihat dari celah pintu ada Umar yang sedang berdiri menjinjing pedangnya. Hamzah lantas mengatakannya kepada Rasuulullaah ﷺ.

BACA JUGA: Orangtuamu Menanti Kiriman di Alam Kubur

“Izinkanlah dia masuk. Bila bermaksud baik, kita akan menyambutnya. Bila bermaksud buruk, kita akan memenggalnya dengan pedangnya sendiri,” kata Rasuulullaah ﷺ saat itu.

Hamzah kemudian membukakan pintu dan masuklah Umar dengan menyampaikan niatnya untuk memeluk Islam.

“Wahai Muhammad, aku datang untuk beriman kepada Allaah, juga kepada Rasul-Nya, dan kepada ajaran yang ia bawa dari-Nya,” kata Umar.

Rasuulullaah ﷺ lantas bertakbir dan diikuti para Sahabat. Takbir tersebut menggetarkan rumah Arqam dan seluruh Sahabat di rumah itu mengetahui bahwa Umar telah masuk Islam.

Peristiwa ini terjadi tiga hari setelah Hamzah memeluk Islam, pada suatu hari di bulan Dzulhijjah tahun ke-6 kenabian.

BACA JUGA: Urus dan Ramaikan Masjid, Allaah Pasti Penuhi Kebutuhan Hidupmu

Umar Bin Khattaab juga mulai ikut berdakwah menyebarkan Agama Allaah SWT setelah masuk Islam.

Namun, pada tahun-tahun awal dakwahnya belum efektif dan menuai banyak menuai antipati.

Meski demikian, pada akhirnya tidak ada seorang pun yang mengungguli prestasi Umar Bin Khattab dalam mengislamkan orang-orang non Muslim kala itu.

Mari kita mendoakan mendapat hidayah dari pada kita marah marah dan menyumpahi, kita jadi stress.

Mari berdoa, agar Allaah SWT menganugerahkan kita kemudahan dan kemampuan untuk selalu berbaik sangka, dan menjauhi buruk sangka.

Dan Allaah SWT senantiasa membimbing kita untuk selalu eling mengingat Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya pada Allaah SWT.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here