Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-91)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

130
Lukisan Raja Yoyakim merobek-robek dan membakar kitab Yeremia. (Sumber: hmn.wiki)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Setelah itu tembok kota Niniveh dapat dirobohkan dan terjadi pembunuhan besar besaran di Niniveh serta harta bendanya dijarah. Sin shum iskun lari dan mengungsi ke Harran, namun belum sampai ke wilayah yang ditujunya Sin sum ishkun dibunuh oleh kemenakannya yaitu Ashur Uballit.

Midian mendapatkan bagian wilayah timur termasuk sebagian wilayah yang sebelumnya menjadi taklukan Kerajaan Sycthia, sedang Niniveh menjadi bagian kerajaan baru yaitu kerajaan Khaldea yang berpusat di Babilonia. Nabopolassar terus mengejar Ashur Uballit dan akhirnya dapat merebut kota Harran, sedang Ashur Uballit melarikan diri ke wilayah tidak terlalu jauh dari Harran, yaitu di Charchemish.

Ashur Ubalit belum benar-benar habis. Dia kirim utusan dan bersurat ke Mesir kepada raja Necho II anak dari Psammetichus. Necho II merespon baik atas permintaan bantuan tersebut dan melihat peluang adanya peleberan kekuasaan kerajaannya. Dia berangkat membawa pasukan menuju Asyiria melalui wilayah Semit Barat.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-90)

Pada saat sama, Raja Yudea yaitu Yosia tidak ingin Asyiria bangkit lagi dan membangun persekutuan dengan Mesir yang bisa membuat dua kerajaan tersebut menjadi persekutuan kuat yang menjepit wilayah Yudea. Yosia tidak ingin ada kekuasan besar lagi yang membuat kerajaan Yudea tetap membayar upeti yang telah berjalan sangat lama. Dia kemudian menggerakkan pasukan menghadang Necho II di wilayah Megiddo.

Kitab 2 Raja Raja 23 : 29 – 30 dan 2 Tawarikh 35 : 20 – 24 mengkisahkan, sempat terjadi dialog antara Necho II dengan Yosia yang menunjukkan bahwa Necho II merasa heran dengan manuver yerusalem karena yerusalem bukan musuhnya. Namun Yosia tetap pada pendiriannya mencegah gerakan pasukan Mesir ke Asyiria.

Akhirnya terjadi peperangan antara Mesir dengan Yudea di Megiddo. Namun pasukan Yudea dapat dikalahkan dan Yosia terluka dalam peperangan. Ketika dibawa lari pulang ke Yerusalem, Yosia meninggal di perjalanan.

Yudea berkabung atas kematiannya dan Nabi Yeremia membuat syair ratapan untuk dinyayikan bagi Yosia. Kedudukan Yosia diberikan kepada anaknya yaitu Yoahas bin Yosia. Necho II tidak mengejar pasukan Yudea namun terus bergerak hingga dapat menemui Ashur Uballit kemudian menggabungkan pasukan dua kerajaan untuk merebut Harran. Namun usaha tersebut gagal dan terpaksa mundur dari peperangan menuju wilayah Charchemish.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-89)

Necho II menarik pulang pasukannya ke Mesir tetapi sebelumnya belok arah menuju Yerusalem. Yoahas tidak melakukan perlawanan kemudian ditawan di bawa ke Mesir, sedang kedudukannya oleh Necho II diberikan kepada saudaranya yaitu Elyakim bin Yoas yang kemudian mengganti namanya menjadi Yoyakim. Sekarang Yudea harus membayar upeti ke Mesir, dan Yoahas menjadi tanggungan atas pembayaran upeti tersebut.

Nabopolassar meskipun semakin tua, namun minatnya untuk menghabisi keluarga dinasti Asyiria belum habis. Pasukan Khaldea dikirimnya ke Charchemish dengan dipimpin oleh anaknya yaitu Nebukadnezar. Mendengar berita itu, Necho II dan pasukannya kembali bergerak ke Charchemish.

Necho II tidak punya pilihan lain untuk ikut berperang di Charchemish, karena jika Ashur Uballit dapat ditumbangkan, maka Khaldea pada akhirnya juga akan menyerang Mesir. Namun meskipun sudah ada penggabungan pasukan, tetap dapat dikalahkan oleh pasukan Khaldea.

Pasukan Asyiria di sapu bersih dan Ashur Uballit dibunuh dalam peperangan. Semua orang yang dianggap berpeluang menuntut hak atas tahta Asyiria di kejar dan dibunuh. Asyiria lenyap dari peta dunia dan digantikan oleh Khaldea pada tahun 605 SM.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-88)

Pasukan Mesir mundur dan terus dikejar pasukan Khaldea. Namun pengejaran terhenti karena terdapat berita kematian Nabopolassar disebabkan usia tua. Nebukadnezar harus pulang dulu ke Babilonia untuk mengamankan tahta Khaldea bagi dirinya.

Kerjaan Khaldea yang menggantikan Asyiria juga dikenal dengan Babilonia Baru. Putra mahkota naik tahta dengan menggunakan nama Nebukadnezar II. Sebagian bekas wilayah Asyiria di timur menjadi kerajaan baru yaitu kerajaan Midian yang wilayahnya meliputi Persia. Dua negara baru yang raja rajanya masih ada hubungan keluarga karena Cyarxes raja Midian adalah mertua Nebukadnezar II.

a. Runtuhnya Kerajaan Yudea dan Hancurnya Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha).

Kitab Yeremia 36 mengkisahkan, Nabi Yeremia mendapatkan wahyu yang menyatakan bahwa raja Babilonia akan datang ke Yerusalem dan menaklukkan Yerusalem. Nabi Yeremia memerintahkan penulis wahyu yang diterimanya yang bernama Barukh untuk menuliskan wahyu tersebut dengan tinta dalam gulungan kertas.

Dari perintah tersebut, dapat diketahui bahwa saat itu telah ditemukan kertas dan tinta untuk menulis. Saat itu kertas yang terkenal adalah kertas papirus yaitu kertas dari pepohonan belukar papirus yang batangnya di tumbuk hingga menjadi tipis kemudian dikeringkan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-87)

Setelah itu, Nabi Yeremia memerintahkan Barukh pergi ke Yerusalem untuk membacakan wahyu tersebut kepada raja Yoyakhim, para pejabat Yudea dan rakyat Yudea. Di Yerusalem, Barukh membacakan wahyu tersebut pada rakyat Yudea di Haekal Sulaiman.

Setelah pembacaan itu, para imam Haekal Sulaiman meminta Barukh segera pergi dan menyelamatkan diri bersama Nabi Yeremia, sedang kitabnya dibawa para imam tersebut untuk dibacakan kepada raja.

Para imam Haekal Sulaiman kemudian pergi ke istana dan membacakan wahyu yang diterima Nabi Yeremia yang isinya mengingatkan raja Yoyakim (nama kelahirannya adalah Eliakim), bahwa raja Babilonia suatu saat akan menyerang dan menghancurkan Yudea. Setelah mendengar wahyu tersebut, Yoyakim menjadi sangat marah kemudian meminta kitab tersebut lalu dirobek robek dan di bakar.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-86)

Setelah itu memerintahkan membunuh Barukh dan Nabi Yeremia, namun pasukan pembunuhnya tidak dapat menemukan keberadaan dua orang tersebut. Atas perbuatan Yoyakim tersebut turun wahyu kepada Nabi Yeremia yang menyatakan bahwa Yoyakim dan keturunannya tidak akan dapat duduk di tahta Dawud dan kematiannya akan dicampakkan secara hina.

Kenyataan yang harus dihadapi adalah Yudea akan sendirian tanpa bantuan dari manapun karena Necho II, raja Mesir setelah kekalahan di Charchemish perhatiannya lebih pada memperbaiki kondisi pasukan Mesir untuk menghadapi kemungkinan serangan dari kerajaan Khaldea. Namun Yoyakim yang dalam kehidupannya sehari hari menyimpang dari ajaran Taurat justru marah pada Nabi Yeremia, memerintahkan pembunuhan Nabi Yeremia, dan ketika tidak ditemukan diperintahkan pencarian dan pengejaran.

Ketersinggungan Yoyakim karena menganggap wahyu yang diterima Yeremia telah merendakan dirinya dan bangsanya. Tidak dapat menemukan orang yang dikejarnya, kemudian tulisan tulisan wahyu dan ajaran Nabi Yeremia dimusnahkan dan pengajarannya di hentikan.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here