Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-90)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

130
Choga Zanbil, kompleks peradaban kuno peninggalan Elam di Susha, Iran. (Sumber: World Cultural Heritage Voices)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Kondisi Elam seperti itu memberikan kesempatan pada orang orang Persia memasuki kota kota diseluruh wilayah Elam. Bahkan Ashurbanipal membiarkan ketika ada orang Persia, yaitu Teipes mengklaim sebagai raja Anshan, salah satu kota Elam. Pembiaran tersebut sangat mungkin karena Teipes berkuasa atas perlindungan Madius yang juga mengakui kekuasaan Asyiria atas Anshan dan membayar upeti ke Asyiria.

Peristiwa ini menjadi awal dari seluruh wilayah Elam yang pada akhirnya akan menjadi wilayah Persia. Dimulai dari Anshan, Teipes mulai membangun identitas Persia, mulai dari cara berpakaian. Teipes hanya menjadi raja Anshan sekitar tiga tahun kemudian meninggal dan digantikan oleh anaknya yang bernama Cyrus. Sebuah nama yang beberapa ratus tahun kemudian akan dipakai sebagai nama dari salah seorang keturunannya yang menjadi raja Persia yang sangat terkenal.

Kesibukan Ashurbanipal di wilayah timur dan tenggara negerinya dan perubahan yang terjadi di negeri-negeri sekitarnya, membuat raja Manasye yang taat terhadap Asyiria menjadi raja Yudea cukup lama yaitu selama lima puluh lima tahun. Ketika meninggal kemudian digantikan oleh Amon, anaknya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-89)

Kitab 2 Raja Raja 21 mengisahkan, Amon bin Manasye ternyata menjalani hidup dalam kemurtadan yaitu kembali melakukan peribadatan menyembah berhala yang berakibat fatal. Amon hanya menjadi raja dua tahun dan mati dibunuh oleh tentaranya karena kemurtadan yang dilakukannya.

Namun Bani Israel tidak ingin kerajaan jatuh pada tangan para pembunuh raja Amon, sehingga rakyat Yudea beramai ramai membunuh para pembunuh raja Amon. Rakyat Yudea kemudian mengangkat Yosia bin Amon menjadi raja Yudea menggantikan ayahnya. Saat itu Yosia bin Amon baru berumur delapan tahun.

Kitab 2 Raja Raja 22 mengisahkan, Yosia melakukan peribadatan seperti yang dilakukan Hizkia. Ketika sudah dewasa, Yosia merenovasi Haekal Sulaiman yang sudah sangat tua. Ketika proses pembangunan renovasi itu, imam Haekal Sulaiman, Imam Hilkia mengambil kitab Taurat Musa dari tempat penyimpanannya. Sudah ratusan tahun kitab taurat tidak dibacakan kepada Bani Israel.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-88)

Taurat ini oleh Imam Hilkia kemudian ditunjukkan kepada Yosia, yang kemudian ingin mendengarkan pembacaan kitab taurat itu. Ketika Yosia mendengar bacaan taurat tersebut, dia menjadi ketakutan atas akibat dari perbuatan para raja pendahulunya maupun yang telah dilakukan oleh rakyat Israel. Yosia ketakutan akan murka Allah Israel yang akan menimpakan malapetaka kepada Bani Israel dan negeri Yudea. Yosia tersungkur menangis dan bertobat.

Atas pertaubatannya itu, seorang nabi perempuan Bani Israel yaitu nabiyah Hulda menyampaikan firman Allah kepada Yosia, bahwa: “Sesungguhnya Allah telah murka dan akan mendatangkan malapetaka pada negeri ini dan penduduknya karena telah melupakan dan meninggalkan Allah, namun Yosia akan meninggal dalam damai dan tidak menyaksikan mala petaka yang akan jatuh pada Bani Israel dan negerinya,” (Kitab 2 Raja Raja 22 : 14 – 20).

Yosia, berusaha sekuat tenaga membawa Bani Israel bertaubat atas perbuatan mereka selama beratus ratus tahun. Seluruh tetua suku Bani Israel, para imam dari suku Lewi dan raja raja kota kerajaan Yudea dipanggilnya untuk melakukan pertaubatan dan membersihkan seluruh wilayah kerajaan Yudea dan bekas wilayah suku-suku Bani Israel Samaria dari keberadaan bermacam macam berhala, baik yang ada disemua pintu gerbang dan batas wilayah maupun bukit bukit pengorbanan di semua wilayah kesukuan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-87)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here