Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-126)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

152
Lukisan Yesus membantu Yusuf sebagai tukang kayu. (Sumber: Pijar pemikiran.blogspot)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Kota Yerusalem sudah tenang kembali. Ketika ‘Iysaa menginjak umur dua belas tahun, sudah jauh dari peristiwa kelahirannya, Yusuf baru berani mengajak Maryam dan ‘Iysaa ke Yerusalem.

Mereka terlebih dahulu pergi ke Bethlehem kemudian bersama sama rombongan keluarga lainnya ke Yerusalem untuk beribadah di Haekal Sulaiman. Namun ketika selesai beribadah, Yusuf dan Maryam kehilangan Yesus, yang mereka pikir ikut pulang bersama rombongan keluarga lainnya, sehingga Yusuf dan Maryam melanjutkan pulang.

Ternyata ketika sampai di Betlehem dicarinya di tempat keluarga dan sahabatnya, Yusuf tidak menemukan ‘Iysaa. Tentu Yusuf dan Maryam panik karena ‘Iysaa baru pertama kali ke Yerusalem, sedang di sana tidak ada keluarganya. Di sana, Yusuf juga tidak mengajak ‘Iysaa bertemu sahabat-sahabatnya sesama murid Nabi Zakariya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-125)

Oleh karena itu Yusuf dan Maryam kemudian kembali ke Yerusalem untuk mencari ‘Iysaa. Pada hari ketiga pencariannya, mereka menjumpai ‘Iysaa di tengah-tengah para imam Haekal Sulaiman sedang berdebat mengenai hukum Taurat.

Setiap orang kagum dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari ‘Iysaa maupun jawaban-jawabannya atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada dirinya. Maryam kemudian menegur Yesus karena telah tiga hari mencarinya sambil kebingungan.

‘Iysaa menjawab bahwa dirinya sedang menjalankan perintah Allah yang wajib ditunaikannya terlebih dahulu. Setelah itu ikut bersama orang tuanya pulang ke Nazareth. Injil Lukas pasal 2: 42-51 menceritakan hal yang sama.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-124)

9. Yesus pamit kepada ibunya untuk menjalankan tugas kerasulan.

Pada QS. Ali Imran ayat 48, yang merupakan kelanjutan dari ayat 47, Allah memberikan penjelasan kepada Maryam siapakah anaknya itu, yaitu: “Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (‘Iysaa) Kitab, Hikmah, Taurat dan injil”.

Kapankah Nabi ‘Iyasa diangkat menjadi Rasul? Sejak bayi dalam buaian, ‘Iysaa telah dapat bicara tentang siapa dirinya kepada kaumnya (QS. Maryam ayat 30) berdasarkan wahyu yang diterimanya. Setelahnya kemudian mendapat pengajaran oleh Allah tentang Kitab, Hikmah, Taurat.

Pengetahuan tersebut telah terbukti ketika ‘Iysaa berumur 12 tahun, di Haikal Sulaiman dapat berdebat dengan para imam. Maka, kapan Nabi ‘Iysaa berdakwah melaksanakan kewajiban sebagai rasul?

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-123)

Injil Barnabas pasal 10 mengisahkan, dimana saat itu Barnabas telah menjadi sahabat ‘Iysaa, yaitu ketika Barnabas, ‘Iysaa dan Maryam sedang di Bukit Zaitun untuk mengumpulkan buah zaitun.

Ketika ‘Iysaa sedang shalat, Barnabas melihat ‘Iysaa dikelilingi suatu cahaya yang terang luar biasa, kemudian terdengar suara malaikat: “Semoga diberkati Allah”. Barnabas berkisah bahwa malaikat Jibril menunjukkan kitab kepada ‘Iysaa seperti cermin yang berkilau yang meneranginya dan isi kitab tersebut diwahyukan ke dalam hati ‘Iysaa.

Dan ketika peristiwa itu selesai, kemudian ‘Iysaa berkata pada Barnabas: “Imanlah Barnabas, bahwa aku mengetahui tiap-tiap Nabi dengan segala nubuwatnya, sehingga apapun juga yang aku katakan, seluruhnya dari kitab itu”. Perkataan tersebut menggambarkan proses pewahyuan tentang kitab nabi-nabi sebelumnya yang diterima sekaligus.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-122)

Kemudian ‘Iysaa menceritakan kejadian tersebut pada Maryam. Setelah itu berpamitan kepada Maryam karena dirinya tidak lagi bisa lebih lama tinggal dengan ibunya karena telah diperintah Allah berbicara pada kaumnya demi baktinya kepada Allah. Maryam menjawab bahwa hal itu telah diberitahukan kepadanya sebelum ‘Iysaa lahir.

Peristiwa yang terjadi dibukit zaitun di sebelah timur kota Yerusalem tersebut, menunjukkan ‘Iysaa mulai mendapatkan perintah untuk menjalankan tugas kerasulannya. Sangat mungkin, saat itu Yusuf, Maryam, dan ‘Iysaa telah pindah dari Nazareth dan tinggal di Bethlehem yang berada tidak terlampau jauh di selatan kota Yerusalem.

Oleh karenanya mereka sering bepergian ke Haikal Sulaiman, dimana kemudian ‘Iysaa mendapatkan seorang sahabat, yaitu Barnabas. Peristiwa di bukit Zaitun tersebut terjadi pada saat Nabi Iysaa berumur sekitar 30 tahun. Injil Matius, Markus, Lukas dan Johanes tidak mengisahkan peristiwa ini.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-121)

10. Nabi ‘Iysaa berkeliling berbicara sebagai rasul kepada Bani Israel.

QS. Ali Imran 49-51 menunjukkan bahwa Nabi ‘Iysaa berdakwah keliling sebagai rasul dengan membenarkan taurat yang datang sebelum kedatangannya. Nabi ‘Iysaa juga menghalalkan sebagian yang sebelumnya diharamkan kepada Bani Israel.

Dakwah keliling yang dilakukan Nabi ‘Iysaa yang juga sering menunjukkan shalat menghadap ke Haekal Sulaiman, merupakan hal baru bagi Bani Israel, karena biasanya dakwah di lakukan oleh para Imam bertempat di Haekal Sulaiman.

Terkadang, Nabi ‘Iysaa menunjukkan mukjizatnya yang dengan itu semua, agar dilihat oleh kaumnya sebagai tanda kebenaran kerasulan Nabi ‘Iysaa bagi kaumnya.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here