Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-123)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

89
Maryam dengan membisu membawa bayi ‘Iysaa ke Haekal Sulaiman, langkahnya terhenti dikepung Bani Israel dan para imam Haekal Sulaiman. (Sumber: dari film, Portalaswaja.blogspot.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Penjelasan ayat-ayat Al-Quran tentang kabar kehamilan Maryam dan kelahiran ‘Iysaa bila diletakkan pada peta kota Yerusalem saat itu, adalah sebagai berikut:

Keterangan gambar:

1- QS. Maryam 16-21, menyebut Maryam pergi ke arah timur kemudian didatangi Malaikat Jibril yang mengabarkan tentang dirinya dianugerahi nggulaman Zakiyyan (anak laki-laki suci) yang kemudian diberi nama ‘Iysaa.

Berarti Maryam keluar dari Bait Suci melalui pintu gerbang Susa atau pintu gerbang domba kemudian pergi kearah timur, melalui jalan yang menuju Jericho. Namun mungkin tidak jauh tidak sampai melewati lembah Kidron.

2- QS. Maryam 22, setelah mengandung, Maryam pergi ke tempat yang jauh untuk mengasingkan diri.

Hukum Taurat mewajibkan perempuan dewasa apabila bepergian jauh harus dengan mahramnya. Injil Barnabas pasal 2-3 menyebut, setelah kelihatan mengandung, untuk menghindar dari tuduhan perzinahan dari kaum Yahudi yang berakibat Maryam dapat dihukum dilempari batu sampai mati, Maryam kemudian bertunangan dan dilanjutkan menikah dengan Yusuf, yang masih mempunyai hubungan saudara.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-122)

Disebut mereka pergi ke Nazareth yang letaknya jauh di utara berjarak sekitar 160 km dari Yerusamel. Dengan demikian Yusuf dan Maryam pergi melalui pintu gerbang Domba kemudian ke utara.

3- Injil Barnabas pasal 3 menyebut, karena Kaisar Augustus memerintahkan pencatatan penduduk, Yusuf mengajak pulang Maryam dalam keadaan hamil besar ke Bethlehem, karena di sana banyak tinggal saudara-saudaranya. Dengan demikian, Yusuf dan Maryam pulang ke Bethlehem lewat Yerusalem melalui pintu gerbang Ikan terus ke Betlehem.

QS. Maryam 23-26, mengkisahkan kelahiran ‘Iysaa. Kandidat tempat kelahiran ‘Iysaa yang pertama adalah Bethlehem jika disana bisa tumbuh pohon kurma. Kandidat ke dua adalah kota Jericho karena disana terkenal kurma yang enak. Jika melahirkan di Jericho maka dari Nazareth kemudian melalui jalan di dekat kolam Israel.

Dalam QS. Maryam 25 menyebut kurma matang, maka diperkirakan ‘Iysaa lahir setelah bulan Mei. Namun kandidat pertama adalah kemungkinan terbesar sebagai tempat kelahiran nabi ‘Iysaa, sebab di Jericho bukan tempat permukiman saudara-saudara Maryam dan Yusuf sesama keturunan Nabi Dawud.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-121)

7. Bayi ‘Isyaa dalam Gendongan Berbicara pada kaumnya dan Kisah Ilmuwan Majusi.

Injil Barnabas pasal 5 mengkisahkan, ketika genap delapan hari usia bayi Yesus, kemudian di bawa ke rumah Ibadah (Haekal Sulaiman) untuk disunat sesuai hukum Taurat. Injil Lukas pasal 2 ayat 21-24 juga menceritakan Yesus setelah genap delapan hari dibawa ke Haekal Sulaiman di Yerusalem untuk disunat dan berkurban.

Namun injil Barnabas maupun injil Lukas tidak mengkisahkan hal lain tentang peristiwa sunat tersebut. Pada injil Lukas pasal 2 ayat 25-38 menceritakan, di Haekal Sulaiman terdapat seorang salih yaitu Simeo dan seorang nabi perempuan yaitu Hana bin Fanuel dari suku Asyer bersaksi bahwa seseorang yang akan menentukan kemuliaan bangsa Israel telah lahir.

Sedang QS. Maryam 26-34 berkisah tentang bayi ‘Iysaa dibawa pada kaumnya dan berbicara pada kaumnya. Dimulai pada QS. Maryam 26, yang Allah, bisa pula melalui malaikat Jibril, memerintahkan kepada Maryam: “jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah -sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapapun pada hari ini”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-120)

Ayat tersebut memerintahkan Maryam untuk membisu jika ada yang menanyakan tentang bayinya. Bani Israel tentu masih ingat tentang kehamilan Maryam yang tidak diketahui bapaknya.

Kedatangan Yusuf dan Maryam yang menggendong bayinya, tentu menjadi perhatian bani Israel. Maryam diikuti oleh penduduk Yerusalem sejak sebelum memasuki Haekal Sulaiman. Ketika sampai di halaman Haikal Sulaiman para imam dan pejabat agama kemudian menghentikan Langkah Maryam.

Saat itu, di tempat tersebut sangat mungkin juga terdapat nabi Zakariya. QS. Maryam 27-29, menunjukkan bahwa bani Israel mencemooh Maryam yang menggendong bayi ‘Iysaa, namun Maryam tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.

Mereka tentu mengerubung dan mengepung Maryam sehingga Langkah Maryam terhenti. Mereka memberondong dengan olok olokan dan berbagai pertanyaan. Namun Maryam hanya memberi isyarat dengan menunjuk ke bayinya, agar mereka bertanya kepada bayinya itu.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-119)

Tentu bani Israel menjadi jengkel dan mungkin merasa dianggap gila karena disuruh bertanya kepada bayinya. Mereka mengatakan, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”. Namun ada imam senior mewakili bani Israel, yaitu Kayafas yang kemudian dengan sombongnya mengikuti isyarat dari Maryam dan kemudian menghampiri Maryam yang menggendong bayi untuk membuktikan siapa sebenarnya yang gila.

Bani Israel ataukah Maryam yang gila. Kayafas kemudian bertanya pada bayi tersebut. Tak terduga oleh mereka ternyata bayi ‘Iysaa kemudian menjawab. QS. Maryam 30-33 menginformasikan jawaban bayi ‘Iysaa, yaitu:

“Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here