Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-125)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

177
Ilustrasi: Lukisan pembantaian bayi di Betlehem. (Sumber: wiki)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Injil Barnabas pasal 8 menginformasikan, karena ketakutannya terhadap munculnya Messiah, maka ketika bayi ‘Iysaa tidak dapat diketemukan maka hal itu memantik kemarahan Herodes yang kemudian memerintahkan membunuh bayi bayi yang baru lahir di Bethlehem. Herodes berharap diantara bayi yang mati tersebut termasuk bayi ‘Iysaa.

Injil Matius 2 ayat 13-16 juga menginformasikan kepergian Yusuf dan Maryam ke Mesir membawa bayi ‘Iysaa dan pembunuhan oleh tentara Herodes terhadap bayi bayi di Bethlehem. Hari pembantain bayi bayi laki-laki di Bethlehem membuat kota Bethlehem dipenuhi tangisan penduduknya.

Peristiwa ini mengulangi peristiwa di Mesir pada masa kelahiran Nabi Musa, dimana bayi bayi laki-laki dari Bani Israel yang lahir bersamaan dengan masa kelahiran Musa harus dibantai.

Sekitar dua tahun kemudian, pada tahun 4 SM Herodes meninggal karena sakit dan kedudukannya digantikan oleh anaknya yaitu Archelaus. Raja baru ini menggunakan nama bapaknya untuk gelar rajanya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-124)

1. Masa kecil Yahya dan Yesus pulang dari Mesir.

Injil Barnabas dan Inijl 4 evangelic (Matius, Marcus, Lukas, Johanes) tidak menceritakan tentang masa kecil Yahya. Namun QS. Maryam 12 menginformasikan masa kanak-kanak Yahya, yaitu: “Wahai Yahya, ambillah (pelajarilah) Kitab Taurat itu dengan sungguh-sungguh, Dan Kami berikan hikmah kepadanya, selagi dia masih kanak-kanak”.

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa Nabi Zakariya mempunyai gulungan Taurat yang diberikan kepada Yahya, dan mengajarinya baca tulis sejak kanak-kanak. Allah telah berkomunikasi dan memerintah Yahya yang masih kanak-kanak agar membaca dan mempelajari Taurat.

Dan Allah kemudian memberikan hikmah kepada Yahya. Meskipun masih kanak-kanak, Yahya telah menjadi Nabi ketika mendapatkan wahyu untuk mempelajari Taurat.

Oleh karena sejak kanak-kanak Nabi Yahya atau Yaxye bin Zakariya hidup di perkampungan kecil sederhana ditepi hutan, berkomunikasi dengan Allah sejak kecil, menjadikannya seorang Nabi yang zuhud.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-123)

Nabi Yahya dikenal terbiasa makan dengan makanan yang tersedia di hutan dan memakai pakain yang dibuat dari apa yang ada di hutan dan dicintai semua mahluk termasuk binatang binatang di hutan.

Pada QS. Maryam 13-14 diceritakan tentang sifat Yahya, yaitu Allah menjadikan Yahya sebagi orang yang, mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama, bersih dari dosa, berbakti kepada kedua orang tuanya, bukan orang yang sombong dan durhaka, dan orang yang beratqwa.

Sejak masa kanak-kanak Nabi Yahya di hutan tepian sungai Yordan, tidak ada cerita lagi tentang Nabi Zakariya di Yerusalem dan aktifitasnya di Haekal Sulaiman. Nabi Zakariya mungkin menghabiskan waktunya bersama anaknya di perkampungan kecil di pinggir hutan dekat sungai Yordan, jauh dari Yerusalem, mungkin sesekali ke haikal Sulaiman, tidak menarik perhatian sehingga kaum yahudi banyak yang tidak mengerti keberadaannya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-122)

Tidak terdengar lagi perselisihan antara Nabi Zakariya dengan para imam Haikal Sulaiman. Baik Al-Quran maupun kitab injil Barnabas dan injil lainnya, tidak mengkisahkan kehidupan Nabi Zakariya dan keluarganya di perkampungan pinggir hutan.

Dengan demikian, keberadaan mereka betul betul di tempat tersembunyi yang jarang ada orang berkunjung di tempat tersebut. Oleh karena itu penduduk Yerusalem tidak dapat menemukan mereka yang berada di tempat yang aman.

Sedang Nabi ‘Iysaa masa kanak-kanaknya berada di Mesir. Sejak Yusuf membawa Maryam dan ‘Iysaa ke Mesir, tidak banyak terdengar aktifitas Yusuf dan keluarganya. Di Mesir terdapat situs Sayyidah Maryam terletak di Bahnasa kawasan Bani Mazar provinsi El Menya atau Al-Minya.

Di situs tersebut terdapat sumur tua yang di tutup, konon airnya bisa untuk pengobatan. Terdapat pepohonan yang rindang di situs tersebut konon menjadi tempat berteduh Maryam, sehingga disebut pohon Sayyidah Maryam. Di daerah Bahnasa ini Maryam dan keluarganya bertempat tinggal.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-121)

Injil Barnabas pasal 9 dan Injil Matius pasal 2 : 19-23 menyebutkan, ketika ‘Iysaa berumur 7 tahun, Yusuf mendengar bahwa Herodes telah meninggal. Jarak yang jauh dan mungkin tidak ada orang yang melakukan perjalanan dari Bahnasa di Mesir ke Jerusalem, sehingga setelah kematian Herodes berjalan sekita lima tahun, Yusuf baru mendengar kabar kematian tersebut.

Injil Barnabas menyebut ada malaikat yang memberi tahu Yusuf bahwa mereka yang menginginkan kematian ‘Isyaa telah meninggal dan menyuruh Yusuf membawa keluarganya kembali ke tanah Yudea.

Yusuf kemudian kembali ke tanah airnya namun tidak langsung ke tanah Yudea, tetapi terlebih dahulu bertempat tinggal di Nazareth yang jauh dari Yerusalem sambil mengamati situasi di Yudea.

Di Nazareth, dikisahkan Yusuf dan Maryam menjalani kehidupan seperti masyarakat pada umumnya, karena penduduk tidak banyak mengetahui tentang peristiwa kehamilan Maryam dan kelahiran ‘Iysaa.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-120)

Penduduk hanya mengetahui bahwa Yusuf dan Maryam sebelumnya pernah berada di Nazareth ketika Maryam sedang hamil. Yusuf menjalani profesinya sebagai tukang kayu dan membuka lahan pertanian.

‘Iysaa juga sering membantu pekerjaan Yusuf. ‘Iysaa juga telah mempunyai adik dari pernikahan ibunya dengan Yusuf, yaitu Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Namun ada yang menolak bahwa Yesus mempunyai adik karena keyakinannya bahwa Maryam adalah perawan abadi.

Yang disebut sebagai saudara Yesus bukanlah adik adik Yesus yang lahir dari Maryam, tetapi saudara lain dari istri Yusuf yang lain, dan ada yang menyebut sepupu Yesus. Namun tidak menjelaskan siapa istri Yusuf lainnya atau bagaimana sepupu ‘Iysaa tersebut ikut Yusuf.

Yusuf lebih memilih menetap di Nazareth karena raja yudea adalah Archelaus anak Herodes yang kejamnya tidak kalah dengan bapaknya. Raja pasti pengetahui situasi saat kelahiran Yahya dan ‘Iysaa.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-119)

Archelaus pernah memerintahkan pembunuhan Bani Israel dan peziarah yang sedang merayakan paskah di Haekal Sulaiman karena Bani Israel mendesaknya untuk mengurangi pajak yang semakin membeBani penduduk.

Akibat kekejamannya itu, Archelaus tidak mampu membuat hubungan yang baik dengan Bani Israel baik di yudea maupun samariya. Sering terjadi keributan antara istana dengan penduduk. Akhirnya ada pengaduan kepada Kaisar Roma yang berakibat Archelaus ditangkap, diturunkan jabatannya dan akhinya diasingkan.

Oleh Kaisar Roma, untuk sementara di wilayah Yudea tidak diangkat raja, yang langsung berada di bawah pengendalian kekuasaan Gubernur Roma.

BERSAMBUNG

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here