Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-7)

II. Nabi Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq.

80
Wilayah penyebaran suku-suku Kana’an kuno dalam Kitab Tanakh atau Perjanjian Lama, yaitu mulai dari pegunungan Libanon dan pegunungan Hermon di utara hingga pegunungan Negev di selatan. Nabi Ibrahim mendapatkan Baitul Maqdis sejak di bukit More hingga Lus dan bertempat tinggal di Hebron.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

A. Nabi Ibrahim

Seringnya perpindahan tempat ini menunjukkan bahwa rombongan Nabi Ibrahim adalah rombongan nomaden yang tempat tinggalnya berupa tenda-tenda besar yang mempunyai dapur umum.

Menempati area cukup luas yang tidak dimiliki sendiri namun cukup subur sebagai sumber makanan utama untuk kegiatan peternakan. Oleh karena itu sulit ditemukan peninggalan arkeologis dari kehidupan Nabi Ibrahim di wilayah Kana’an.

Baik Al-Quran maupun Kitab Taurat pada Kitab Kejadian, tidak mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim menetap pada suatu wilayah di Kana’an yang menunjukkan ciri-ciri kemajuan peradaban tertentu. Berbeda dengan kota Iram tempat diutusnya Nabi Hud, Wadi Al-Qura’ tempat diutusnya Nabi Shalih dan kota Uruk tempat lahir Nabi Ibrahim yang telah mempunyai peradaban yang jauh lebih tinggi.

Ciri-ciri peradaban yang sudah tinggi saat itu adalah, sudah ada pemerintahan yang dipimpin raja, terdapat kuil pemujaan untuk penduduk dan tempatnya berdampingan dengan kompleks istana yang besar untuk raja dan keluarganya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-6)

Kuil, istana dan rumah penduduk terbuat dari batu atau bata merah, terdapat sistem mata pencaharian untuk hidup berupa perdagangan, pengolah pertanian dan perkebunan yang dilengkapi sistem irigasi memanfaatkan sumber air dan sistem peternakan, jumlah penduduk telah mencapai ribuan. Bahkan di Uruk penduduknya diperkirakan sudah mencapi 100 ribu orang.

Perjalanan Nabi Ibrahim di tanah Kana’an hingga sampai di Mamre Hebron sangat mungkin hanya menemukan perkampungan perkampungan kecil di pingggir sungai atau di hutan dengan jumlah penduduk puluhan atau beberapa ratus jiwa yang kehidupannya banyak memanfaatkan hasil hutan, baik dari pepohonan atau hasil berburu binatang hutan dan menangkap ikan untuk makan dan minum serta memanfaatkan pepohonan untuk membuat rumah tinggal.

Perkampungan kecil yang tidak ada batas-batas perkampungannya, menunjukkan bahwa wilayah tersebut saat itu masih terbuka untuk datangnya kaum nomaden seperti rombongan Nabi Ibrahim. Sangat banyak dan luas ruang untuk dipilih dan ditempati bagi rombongan baru agar rombongannya bisa hidup.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here