Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-40)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

158
Foto: Mumi Meremptah (Merneptah) (Kiri: Foto koleksi Agus Mualif Rohadi diambil dari musium di Kairo Mesir; Kanan: cuora.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Mereka semua kaget namun tidak mempunyai waktu untuk berbuat apapun. Mereka semua tenggelam binasa didalam laut merah. Tidak lama kemudian air laut telah kembali seperti semula, namun nampak Meremptah timbul tenggelam dipermukaan air.

Meremptah dalam keadaan seperti itu kemudian berkata “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan aku termasuk orang muslim,” (QS. Yunus: 90). Namun perkataan berimannya sudah tidak dapat membantunya lagi dan tidak diterima oleh Allah karena dirinya tetap dinyatakan sebagai golongan orang yang berbuat kerusakan (QS.. Yunus: 91).

Murka Allah menjadikan Meremptah, para pembesarnya dan seluruh bala tentaranya tenggelam dalam keadaan tercela dan dijadikan sebagai contoh seorang pemimpin yang mengajak kaumnya jauh dari rahmat Allah dan mengajak ke neraka, sedang laknat Allah terus disusulkan di negerinya (QS. Asy-Syu’ara 66, QS. Al-Qashash 39-42, QS. Adz-Dzariat 40, QS. Az-Zukhruf 55).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-39)

Jasad Fir’aun diselamatkan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahnya, yang kemudian dibawa kembali ke kota oleh sebagian bala tentaranya yang sebelumnya berbalik arah sedang sebagian terbesar lainnya telah ditenggelamkan Allah (QS. Yunus: 92, QS. Al-A’raf: 136, QS. Thaha: 78). Catatan sejarah menunjukkan Meremptah memerintah Mesir pada sekitar tahun 1213-1203 SM. Dengan demikian, peristiwa tenggelamnya Firaun (Meremptah) adalah tahun 1203 SM.

Sedang Musa dan Bani Israel telah diselamatkan oleh Allah untuk menuju tempat kediaman yang bagus yang Allah akan berikan rizeki yang baik bagi mereka (QS. Yunus: 93, QS. Asy-Syu’ara: 65). Bani Israel sekali lagi melihat Kekuasaan Allah yang tidak disaksikan oleh golongan umat manusia lainnya. Dengan telah selamat dari kejaran Meremptah, tumbuh harapan untuk hidup yang lebih baik di tanah yang dijanjikan untuk mereka.

Sedang laknat Allah bagi bangsa Mesir terus berlanjut dimana kekuasaan kerajaan Fir’aun ikut runtuh disebabkan Meremptah meninggal mendadak dengan hampir seratus persen kekuatan dan tentaranya lenyap. Penduduknya menjadi turun secara drastis. Negerinya kosong tanpa pemerintahan.

Wilayah bagian barat yaitu di Mesir menjadi terpecah belah dan menjadi ajang perebutan penguasa penguasa pada tiap-tiap kota yang melepaskan diri dari pusat kekuasaan ibu kota sedang bangunan bangunan megah yang didirikan dengan menindas Bani Israel juga ikut dihancurkan oleh Allah Swt.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-38)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here