Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-39)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

159
Lukisan Bani Israel menyeberangi Laut Merah, dipimpin Nabi Musa. (Foto: pinterest)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Meremptah melihat Bani Israel yang sudah sangat dekat membuatnya ingin dengan segera menyerang dan menghabisi Bani Israel. Nafsunya yang sudah menggelegak hingga ke ubun-ubun, membuat akalnya hanya melihat bahwa kesempatan untuk melenyapkan Bani Israel sudah di depan matanya dan tangannya ingin segera mengayunkan pedangnya untuk menebas musuhnya.

Allah telah mendekatkan jarak dirinya dengan Bani Israel sehingga yang ada dalam dirinya hanya nafsu angkara yang ingin segera menuntaskan perkerjaan, sehingga telah membekukan akalnya.

Tidak lama kemudian datang wahyu kepada Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut. Maka dengan segera Nabi Musa melepaskan diri dari kerumunan kaumnya kemudian berlari ke laut. Kaumnya menjadi bingung melihat perbuatan Nabi Musa seperti mau menceburkan dirinya ke laut.

Mereka mungkin mengira Nabi Musa mau bunuh diri dengan mencebur ke laut. Namun tepat di bibir laut, mereka menyaksikan Nabi Musa tegak berdiri dan mengangkat tinggi-tinggi tongkatnya, kemudian meneriakkan nama Elloh, dipukulnya air laut dengan keras. Tiba-tiba air laut bergerak hebat kemudian terbelah. Terlihat pemandangan yang luar biasa yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun untuk melihat pemandangan seperti itu.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-38)

Tentu perintah seperti itu tidak dapat diduga oleh siapapun, bahkan tidak diduga oleh Nabi Musa dan Nabi Harun. Angin timur yang sangat keras menyibak air laut sehingga membentuk dua bagian gunungan air. Sedang dasar laut menjadi jalanan yang kering hingga bisa dilalui.

Sejenak pemandangan tersebut menjadikan Bani Israel terpana, terpesona dan tidak percaya. Namun kemudian terdengar teriakan Nabi Musa memanggil dan memerintahkan agar Bani Israel menyeberang melalui jalan dari belahan laut tersebut (QS. Asy-Syu’ara: 60-64, QS. Thaha: 77). Mereka berjalan di tengah-tengah gunungan air dengan heran, bercampur takut namun lama kelamaan menjadi kegembiraan luar biasa dan semangat mereka menjadi membara.

11. Fir’aun tenggelam jasadnya diselamatkan.

Meremptah dan tentaranya tentu juga menyaksikan pemandangan yang sangat luar biasa tersebut. Mereka juga pasti terheran-heran dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun mereka melihat Bani Israel terus berjalan di tengah gunungan air laut, dan tidak terjadi apa-apa pada orang-orang yang sedang dikejarnya tersebut.

Meremptah tidak mengetahui bahwa air laut yang tersibak dan terbelah membentuk dua gunung air yang dipisahkan bentangan jalan sampai kesebarang adalah akibat ayunan tongkat mukjizat Musa yang bisa membahayakan dirinya dan para bala tentaranya.

Namun nafsu membunuhnya membuatnya menjadi lupa bahwa selama di Mesir, Nabi Musa dan Nabi Harun telah menunjukkan berbagai macam mukjizatnya yang membuat dirinya dan rakyatnya banyak mengalami kesulitan. Mereka lupa bahwa anak-anak sulungnya juga mati karena mukjizat Nabi Musa. Yang ada dalam benak Meremptah justru membalas kematian para anak sulung rakyat Mesir.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-37)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here