Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-38)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

92
Lukisan Nabi Musa dan Bani Israel di tepi Laut Merah. Bani Israel gelisah dan panik menunggu apa yang akan dilakukan ketika melihat tentara Meremptah mulai nampak, sedang jalan di depannya terhalang laut. (Nicolas Poussin, The crossing of the red sea, National Gallery of Victoria, Melbourne, Australia)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

10. Laut terbelah terbentang jalan menyebarang.

Kejadian yang menimpa Qarun dengan cepat didengar oleh Meremptah dan pembesarnya. Namun hal itu tidak membuatnya sadar tapi justru berniat akan menumpas Bani Israel mulai dari tanah Goshen, Avaris, Memphis hingga sampai Ke Fayoum. Bala tentara Fir’aun telah dikonsolidasikan untuk melakukan pekerjaan yang sangat besar mengingat jumlah penduduk Bani Israel sangat besar yang jumlahnya sudah setara atau bahkan melampaui jumlah penduduk bangsa Mesir.

Nabi Musa dan Harun yang mengetahui rencana tersebut, kemudian berdoa di rumah ibadahnya memohon petunjuk Allah menghadapi rencana Fir’aun memusnahkan kaumnya. Wahyu kemudian turun kepada Nabi Musa. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi harun memimpin Bani Israel keluar dari Mesir. Mereka harus berangkat meninggalkan Mesir pada malam hari, karena Fir’aun dan bala tentaranya pasti akan mengejarnya (QS. Asy-Syu’ara 52).

Saatnya telah tiba ketika ketetapan Allah telah turun. Nabi Musa kemudian mengirim utusan ke beberapa kota menemui kaumnya yang ketika bencana dan wabah melanda Mesir, belum pindah ke Goshen agar diam-diam berkumpul di Rameses. Mereka diberi tahu bahwa Allah telah memerintahkan Nabi Musa dan Harun agar membawa Bani Israel keluar dari Mesir. Setelah berkumpul kemudian secara tidak kentara, pada malam hari pergi ke Succoth dengan membawa seluruh harta benda dan ternaknya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-37)

Yang berada di Goshendan Avaris pada malam hari yang sudah ditentukan juga sudah diminta mulai bergerak ke Succoth. Ini adalah peristiwa hijrah Bani Israel dalam jumlah besar untuk pertama kalinya. Namun akhirnya Meremptah mendapat laporan bahwa Bani Israel telah meninggalkan rumahnya dan membuatnya sangat marah. Pada saat bangsa Mesir masih berkabung atas meninggalnya anak-anak sulung mereka, Meremptah mengirim utusan ke kota-kota untuk mengumpulkan dan menggerakkan bala tentaranya dan berkumpul di ibu kota yaitu Rameses yang terletak di Avaris atau dekat Avaris.

Meskipun Fir’aun selalu menganggap Bani Israel adalah kekuatan yang kecil, namun Bani Israel adalah penduduknya yang jumlahnya besar (QS. Asy-Syu’ara: 53-56). Fir’aun dan Haman pasti berpikir bahwa perlu membawa bala tentara dari seluruh Mesir dalam jumlah yang sangat besar agar dapat menumpas seluruh penduduk Bani Israel yang akan berperang melawan bala tentaranya. Persiapan perang telah dilakukan, seluruh peralatan perang telah dikeluarkan dari tempatnya, mulai dari kereta perang, kuda perang, tombak, pedang dan panah.

Perbekalan perang mulai disiapkan dalam jumlah besar baik berupa gandum maupun pengumpulan ternak yang nantinya disembelih untuk bahan makanan bagi para bala tentara. Harta kekayaan kerajaan harus dikeluarkan secara besar-besaran dari seluruh gudang dan peternakan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena harus berperang melawan jumlah penduduk Bani Israel yang sangat besar dalam waktu yang tidak bisa diperkirakan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-36)

Bagaimanapun juga, Bani Israel adalah penduduk yang mempunyai fisik cukup kuat yang telah bertahun-tahun telah terbiasa bekerja rodi, sehingga Bani Israel pasti cukup kuat dalam berperang. Suatu persiapan perang yang membutuhkan waktu berhari-hari. Meremptah menyemangati bala tentaranya, bahwa Bani Israel adalah kelompok kecil dan lemah namun telah menyulut kemarahan.

Namun demikian, Meremptah juga mengingatkan agar setiap orang tanpa kecuali harus tetap meningkatkan kewaspadaan (QS. Asy-Syu’ara 54). Perkataan yang mengisyaratkan Fir’aun tidak memandang remeh Bani Israel yang berjumlah sangat besar yang fisiknya telah terlatih dalam kerja paksa. Gerakan bala tentara Fir’aun besar-besaran dari seluruh kota menuju ibu kota sehingga tidak ada tentara yang tersisa di setiap kota pasti telah pula diperkirakan oleh Bani Israel.

Ketika seluruh penduduk dari Bani Israel telah berkumpul di Succoth, pada malam yang telah ditetapkan, ratusan ribu orang bahkan mungkin lebih dari satu juta orang dari Bani Israel, mulai bergerak keluar meninggalkan wilayah Mesir menuju arah ke wilayah yang oleh Allah telah disediakan untuk mereka sebagaimana janji Allah kepada Ibrahim yang akan memberikan tempat tinggal bagi keturunannya (Baitul Maqdis).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-35)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here