Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-37)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

139
Istana Qarun/Qarun Qsar Temple. Didirikan sekitar tahun 323-330 SM, di dekat danau Qarun di kota Fayoum, Mesir. Didirikan dalam rangka mengenang peristiwa Qarun di telan bumi. Tempat asli Istana Qarun berada di danau Qarun yang tertelan bumi.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Fir’aun dan agar memenuhi permintaan Nabi Musa terhadap Bani Israel, yang jika tidak dipenuhi akan muncul wabah belalang yang akan menghancurkan pohon dan tetumbuhan yang tersisa yang masih hidup setelah diserang hujan es.

Kali ini orang yang menyembunyikan keimanannya di keluarganya juga ikut menyarankan agar memenuhi tuntutan Musa sehingga Mesir terhindari dari kehancuran. Namun Fir’aun tetap tidak memperhatikannya. Maka kemudian wilayah Mesir diserbu belalang yang sangat banyak hingga menutupi semua hal yang ada di atas tanah.

Fir’aun kembali menemui Musa dan mengaku dosa dan minta agar wabah belalang tersebut dihilangkan. Namun setelah wabah belalang berlalu, Fir’aun kembali ingkar janji. Kemudian wilayah Mesir dilanda gelap gulita beberapa hari, namun hal tersebut tidak menggoyahkan hati raja. Setelah selesai hari-hari tidak ada matahari dan tidak ada cahaya, Nabi Musa tidak lagi mau menemui raja.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-36)

Tiba tiba Penduduk Mesir dilanda peristiwa setiap anak sulung meninggal termasuk anak sulung Meremptah. Masyarakat Mesir yang semakin ketakutan kemudian menemui Bani Israel dan memberikan barang-barang berharga termasuk emas kepada penduduk Bani Israel, dengan harapan Nabi Musa dan Harun tidak lagi mendatangkan musibah bagi mereka.

Mengenai musibah dan wabah yang melanda bangsa Mesir, Al-Quran dalam QS. Al-A’raf: 130-135, QS. Az-Zukhruf: 49-50 menceritakan secara sepintas dan tidak detil. Sedang Kitab Keluaran 7 : 14-24, 8 : 1-32, 9 : 1-35, 10 : 1-29, 11 : 1-9, menceritakan secara detil. Namun Meremptah, para pembesarnya dan sebagian kaumnya tetap bersikap angkuh, sombong dan tetap memperlakukan Bani Israel sebagai budak bangsa Mesir yang menghamba kepada mereka.

Musibah apapun yang menimpa mereka, tidak membuat mereka menjadi orang yang beriman sesuai anjuran Nabi Musa dan Harun (QS. Al-Mukminun: 46 –47). Bencana sebagai bukti yang diancamkan Nabi Musa kepada mereka justru dipakai untuk menyalahkan Nabi Musa yang dianggap akan menghancurkan bangsa Mesir. Mereka menyatakan bukti apapun yang dibawa Musa tetap dianggap sebagai sihir dan tidak akan membuat mereka beriman kepada Allah dan Musa.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-35)

Hari raya Paskah Bani Israel yang harus diperingati setiap tahun.

Riwayat munculnya hari raya Paskah bagi Bani Israel adalah terkait dengan Allah akan menghukum bangsa Mesir dengan kematian semua anak sulung manusia maupun binatang milik bangsa Mesir. Kitab Kejadian 12 : 1-28 mengisahkan, beberapa hari sebelum anak sulung dimatikan, Allah menyampaikan firman kepada Nabi Musa dan Harun sebagai berikut:

Hari raya Paskah adalah hari keempat belas sampai hari ke dua puluh satu pada bulan Nissan, yaitu hari dan bulan jatuhnya hukuman Allah pada bangsa Mesir dengan dimatikannya anak sulung manusia maupun binatang pada malam pertama hari Paskah setelah anak domba jantan disembelih. Pada senja hari sebelum anak sulung dimatikan, setiap keluarga Bani Israel harus menyembelih seekor anak domba atau kambing jantan yang tidak boleh cacat. Darah sembelihan harus disapukan ke bagian atas dua tiang pintu rumah agar anak sulung Bani Israel tidak ikut menjadi kurban.

Anak domba sembelihan harus dibakar atau dipanggang dari kepala sampai kaki termasuk isi perutnya, dan tidak boleh direbus dalam air. Sayur yang boleh dimakan adalah sayur pahit. Ketika makan, Bani Israel harus mengikat pinggangnya, memakai kasut kaki sambil tangannya memegang tongkat. Memakannya harus dengan roti beragi dan memakan dengan cepat. Bila masih ada daging yang masih tersisa pada pagi harinya sisa daging harus dibakar sampai habis.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-34)

Bani Israel mengoleskan darah hewan kurban ke tiang (kusen) pintu rumah agar anak sulung mereka terhindar dari kematian. (The Jerusalem Connection)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here