Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-29)

IV. Nabi Syu’aib, Ayub, Zulkifli.

122
Wilayah Houran (warna oranye dan merah), dekat Damsyk (Damaskus). (Foto: worldview.stratfor.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

2. Masa Kerasulan dan Tempat Kerasulan Nabi Ayub.

Nabi Ayub berasal dari bangsa Edom, suku keturunan Esau bin Ishaq bin Ibrahim (Ish bin Ishaq bin Ibrahim). Masa kerasulan Nabi Ayub diperkirakan pada sekitar tahun 1250 SM. Sangat mungkin semasa dengan Nabi Syu’aib hanya berada di tempat kerasulan yang berbeda dan selisih sedikit waktu sebelum masa kerasulan Nabi Musa.

Kitab Ayub menyebut pengutusannya di tanah Us. Lokasi Us tersebut sekarang ini cukup sulit diketahui persisnya berada di wilayah mana. Ada beberapa tempat yang disebut ada peninggalan Nabi Ayub, yaitu di Sanliurfa yang sekarang masuk di wilayah Turki, di Bukhara yang masuk dalam wilayah negara Uzbekistan dan Houran di wilayah Syiria.

Dari ketiga tempat tersebut, yang cukup rasional adalah di Houran karena masih dekat dengan wilayah Kana’an atau bahkan saat itu masih masuk dalam wilayah Kana’an, selain karena Nabi Ayub berasal dari keturunan Esau yang kediamannya di Seir.

Apalagi Kitab Ayub adalah salah satu zubur dari nabi-nabi Bani Israel, meskipun kaum Yahudi memandang Nabi Ayub termasuk golongan Goyim (non Yahudi). Tempat kerasulan di wilayah Hauran atau Hawran atau Houran adalah wilayah pemukiman bangsa Aramia atau Aramaic atau Amorities, bangsa yang jauh lebih besar dari suku-suku di wilayah Kana’an.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-28)

Pada masa sebelum Nabi Ayub, suku Amorities pernah berjaya menguasai wilayah yang sangat luas hingga ke wilayah Mesopotamia. Sekarang kawasan Hauran terletak di bagian selatan wilayah Syiria di Propinsi Dara’a berbatasan langsung dengan bagian utara Yordania.

Bagian utara wilayah ini bersebelahan dengan oasis Ghouta, di bagian timurnya dengan dataran Ash-Shafa, bagian selatan dengan gurun Stepha Yordania dan bagian barat bersebelahan dengan dataran tinggi Golan. Wilayah ini menjadi lintasan menuju Damsyk (Damascus).

Sebagian kisah Nabi Ayub diceritakan Al-Quran dalam QS. Shad: 41-44 dan QS. Al-Anbiya’: 83-84, yang kisahnya dapat pula diperoleh dari zubur para nabi atau kitab-kitab Ibrani, yaitu Kitab Ayub. Tidak diceritakan bagaimana awal mula Nabi Ayub atau ayah dan keluarganya bisa berada agak jauh dari wilayah Seir. Sangat mungkin karena kegiatan utama ayah atau kakek atau beberapa keturunan di atas Nabi Ayub adalah berdagang yang sering bepergian ke wilayah Aram dan akhirnya bermukim di Houran.

Dalam Kitab Ayub, sosok Nabi Ayub ditunjukkan sebagai sosok yang kaya raya, orangnya sangat salih, meskipun kaya tetapi hidup secara zuhud, selalu menjauhi perbuatan jahat, sangat dermawan dan sangat penyabar, sangat peka dengan kesulitan orang lain, sangat mengkhawatirkan cara hidup anak-anaknya yang sering menyalahgunakan kekayaan orang tuanya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-27)

Ia memiliki ribuan domba, ribuan onta, ratusan pasang lembu, ratusan keledai dan mempunyai banyak budak. Nabi Ayub mempunyai istri yang sangat setia dikaruniai 10 anak, 7 laki laki dan 3 anak perempuan. Istrinya disebut bernama Rahma dari suku Efraim. Sangat mungkin nama Rahma bukan nama sebenarnya, karena istrinya bukan orang Arab tetapi dari Bani Israel dari suku Efraim.

Nabi Ayub juga mempunyai beberapa sahabat yang setia dan sering terlibat bertukar pikiran tentang ajaran tauhid maupun tentang falsafah kehidupan. Para sahabatnya bahkan tidak terbatas berada di sekitar rumah tinggal Nabi Ayub, namun juga mempunyai sahabat yang bertempat tinggal yang sangat jauh dari rumahnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa jaringan usaha Nabi Ayub sangat luas.

Dikisahkan bahwa dengan cara hidupnya yang kontras dengan kekayaannya membuat Nabi Ayub dalam berdakwah tauhid pada bangsa Aramaic menjadi pendakwah yang sangat disegani dan dihormati sehingga pengikutnya sangat banyak. Karena dakwahnya yang sangat berhasil itu membuat setan berusaha keras menyeret dan menyesatkan hidup Nabi Ayub. Titik lemah Nabi Ayub terletak pada kehidupan anak-anaknya yang sering menjadi masalah baginya karena suka berpesta dan bermabuk-mabukan.

Peringatan dari Nabi Ayub tidak pernah diperhatikan. Setiap kali anak-anaknya habis berfoya foya dengan kaumnya, Nabi Ayub kemudian menyembelih hewan kurban sejumlah orang yang berfoya foya karena kekhawatirannya atas dosa anak-anaknya, kekhawatiran atas kesalahan ucapan anak-anaknya yang secara tidak sadar telah menyimpang dari ajaran tauhid yang mungkin menyinggung atau bahkan ada ucapan yang mengkutuk Allah.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-26)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here