Surga Ma’wa

83

Oleh: Dea Guru H. Ahmad Nahid, M.Pd (Wakil Pengasuh dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa Indonesia)

Kata Ma’wa biasa digunakan untuk menunjukkan tempat tinggal. Akar katanya adalah awa-yawi yang artinya menyatu dengan suatu tempat dan menetap di sana. Ahli tafsir Atha mengatakan, surga Ma’wa disebut sebagai tempat tinggal Jibril dan para malaikat lainnya.

Keberadaan surga Ma’wa disebut dalam QS. An-Najm ayat 15,

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ

“Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”

Jannatul Ma’wa menjadi tempat para hambaNya yang bertakwa, beramal shalih, menahan hawa nafsu, dan meyakini kebesaran Allah SWT.

BACA JUGA: Surga ‘Adn (Eden)

Surga Ma’wa diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dari zamrud hijau. Kandidat penghuninya, adalah:

– Orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala. (QS. An-Najm [53]: 15)

– Orang-orang yang benar-benar beriman dan berawal shalih. (QS. As-Sajdah [32]: 19)

– Orang-orang yang takut kepada kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala dan menahan diri dari hawa nafsu yang laknat. (QS. An-Nazi’at [79]: 40-41)

Tentang Surga Ma’wa ini juga terkait dengan kisah pemimpin para malaikat yaitu Jibril AS. Saat berdialog dengan Allah SWT.

BACA JUGA: Surga Firdaus

“Sekiranya umat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan shalat dua rakaat, sekalipun shalatnya banyak kekurangan, waktunya pun tergesa-gesa dan tidak konsentrasi, maka demi kemulian dan keagungan-KU, sungguh shalat mereka itu lebih AKU sukai dari pada shalatmu! Mengapa? Karena shalat mereka berdasarkan perintah-KU, sedangkan shalatmu itu bukan berdasarkan perintah-KU!”

Jibril: “Ya TUHANku lalu apakah balasan yang bakal ENGKAU berikan atas ibadah mereka?”

ALLAH: “Balasan yang bakal AKU berikan adalah Surga Ma’wa.”

Mendengar kata “Surga Ma’wa” sebagai balasan atau ganjaran kepada umat Islam yang mengerjakan perintah Allah SWT yang mengerjakan shalat dua rakaat, tentu saja malaikat Jibril menjadi sangat berkeinginan melihat seperti apa wujudnya “Surga Ma’wa” itu.

Lalu, Jibril memohon izin kepada ALLAH agar diperkenankan melihatnya. Maka ALLAH-pun mengabulkan permohonan Jibril ini, sehingga dia segera berangkat menuju surga tersebut, dia bentangkan seluruh sayapnya lalu terbang untuk menempuh perjalanan menuju “Surga Ma’wa” .

BACA JUGA: Neraka Wail

Pada awalnya tentu saja malaikat Jibril tidak mengetahui berapa jauh sesungguhnya jaraknya Surga Ma’wa itu. Tetapi baru diketahui ketika setiap kali dia membuka sepasang sayapnya maka dia berhasil mencapai jarak sejauh 300.000 tahun perjalanan, tetapi belum juga tampak “Surga Ma’wa.

Begitu juga setiap menutupkan sayap padahal ia terbang selama tiga ratus ribu tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau enam ratus buah. Namun sejauh itu ia belum berhasil mencapai tujuannya yaitu Surga Ma’wa.

Setelah merasa begitu letih Jibril-pun beristirahat disebuah pohon raksasa dia bersujud kepada ALLAH SWT seraya mengadu: ” Ya ALLAH, apakah perjalananku telah sampai separuhnya, ataukah baru dua pertiga atau bahkan separuhnya?

ALLAH SWT berfirman kepadanya: “Hai Jibril walau pun kau mampu terbang tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan AKU tambah lagi enam ratus sayap, niscaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari perpuluhan yang telah AKu-berikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan shalat dua raka’at yang mereka kerjakan!

BACA JUGA: Neraka Huthamah

Subhanallah, kedudukan Jibril yang demikian mulianya saja, masih belum mampu mencapai Surga Ma’wa, coba renungkan kaum muslimin alangkah bodohnya kita, jika masih banyak yang ngeyel tidak mau menjalankan shalat yang telah diperintahkan Allah SWT kepada kita.

Kenyataannya di dunia ini, di antara saudara-saudara kita masih banyak terlihat kaum muslimin yang tidak tahu diri, masih banyak yang meninggalkan logika akal sehatnya, berani-beraninya meninggalkan shalat.

Padahal jika ia mengetahui, tak dapat dilukiskan akan ada penyesalan luarbiasa sepanjang masa jika ia berani meninggalkan kewajiban yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT. Naudzubillahimindzalik.

Alangkah beruntungnya umat Muhammad ﷺ yang istiqamah mengerjakan perintah shalat tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Demikian besar ganjaran yang diberikan Allah SWT kepada kaum muslimin yang secara konsisten penuh dengan ketulusan mengerjakan perintah shalat.

Sudah sangat wajar dan seharusnya demikian, ibadah yang kita lakukan, sholat dan ibadah-ibadah yang lainnya, hanya ditujukan kepada Allah semata.

Wallahu a’lam bish shawab.

Mari istiqamah dalam beribadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here