Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-50)

V. Nabi Musa, Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

117
Gunung Nebo, diperkirakan Nabi Musa naik ke tempat ini, ke puncak Pisga. Nabi Musa naik sendirian, sehingga tidak diketahui persis posisi Nabi Musa melihat wilayah Baitul Maqdis. (Foto: friendship tours)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

22. Meninggalnya Nabi Musa.

Dalam Kitab Ulangan dikisahkan, pada suatu hari, Nabi Musa mengumpulkan seluruh Bani Israel untuk mendengarkan kata-katanya. Inti perkataannya adalah karena umurnya sudah 120 tahun dan tidak bisa lagi banyak melakukan kegiatan, sedang Allah telah menyatakan dirinya tidak akan diizinkan menyeberangi sungai Yordan.

Sedang Allah akan menyeberangkan Bani Israel ke Baitul Maqdis dan akan membantu Bani Israel mengalahkan lawan-lawannya. Telah ditunjuk yang memimpin dalam menyeberangi sungai Yordan dan berperang mengalahkan lawan-lawan Bani Israel adalah Yosua (Yusa’) bin Nun.

Kemudian Nabi Musa memanggil Yusa’ bin Nun ke depan di hadapan seluruh Bani Israel, mengambil sumpahnya dan meneguhkan hatinya untuk masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka (Ibrahim, Ishaq, Ya’qub). Oleh karena itu Tuhan akan menyertai, tidak akan membiarkan dan tidak akan meninggalkan Yosua dan Bani Israel.

Kemudian Nabi Musa mengajak Yosua ke kemah suci dan berdiri di dalam kemah suci untuk mendengarkan firman dan perintah Tuhan yang memperingatkan Bani Israel, jika mereka meninggalkan-Nya maka Tuhan akan mengingkari perjanjian-Nya yang diikat dengan Bani Israel, sehingga Bani Israel akan ditimpa malapetaka dan bencana.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-49)

Dengan demikian Yusa’ bin Nun telah diangkat menjadi pemimpin Bani Israel untuk memasuki tanah yang dijanjikan (Baitul Maqdis). Setelah mendengarkan firman Allah itu, Nabi Musa kemudian menuliskan nyanyian yang akan diperdengarkan dan diajarkan kepada Bani Israel turun temurun sebagai saksi ketika mereka ditimpa bencana dan malapetaka karena meninggalkan Allah, sehingga Bani Israel menyadari keslahannya. Nyanyian ini dikenal dengan Nyanyian Musa, sebuah nyanyian yang bait-baitnya sangat panjang.

Setelah itu Nabi Musa memberi berkat kepada setiap suku-suku Bani Israel. Selain itu, Nabi Musa juga menyampaikan sebuah nubuwah kenabiannya (Ulangan 33, 2), yaitu: “Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir. Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus. Di sebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala. Sungguh ia mengasihi umatnya, semua orangnya yang kudus –di dalam tangan-Mu lah mereka, pada kaki-Mu lah mereka duduk, menangkap sesuatu dari firman-MU”.

Terdapat dua sosok penting dari nubuwah itu, yaitu: (1) Tuhan, dan yang ke (2) Ia yang datang dari puluhan ribu orang yang kudus, yang di tangan kanannya nampak api yang menyala (hukum). Siapakah sosok yang kedua yang dimaksud dalam nubuwah itu?

Setelah pemberian berkat, Nabi Musa diperintahkan Allah naik ke atas pegunungan Abarim, naik ke salah satu puncak gunungnya, yaitu gunung Nebo yang puncak gunungnya dikenal dengan puncak Pisga. Nabi Musa tanpa ada yang menemani, naik dari dataran Moab, bertentangan dengan arah ke Yerikho. Di puncak gunung tersebut, Nabi Musa diizinkan memandang dataran Baitul Maqdis, namun tidak akan bisa memasukinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-48)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here