Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-36)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

103
Lukisan Nabi Musa mencelupkan tongkatnya ke sungai Nil, sehingga sungai Nil berubah menjadi sungai darah.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Ketika raja mengancam akan membunuh Musa dengan tangannya sendiri, terdapat orang Mesir dan bahkan mungkin dari kalangan istana mencoba mengingatkan Meremptah, namun dengan kata-kata yang menyembunyikan keimananannya.

Orang beriman ini meminta agar perbuatannya terhadap Bani Israel tidak melampaui batas. Dia khawatir akan datang bencana bagi rakyat Mesir seperti halnya yang diancamkan oleh Nabi Musa dan Harun dengan mengingatkan bencana yang menimpa kaum Aad dan Tsamud, dan tidak ada orang yang dapat menyelamatkannya dari adzab Allah.

Dia juga mengingatkan tentang Kiamat dan saat orang saling memanggil di Padang Mahsyar untuk meminta tolong. Orang beriman tersebut juga mengingatkan kembali bahwa Mesir pernah kedatangan seorang rasul dari Bani Israel yang telah menolong bangsa Mesir dari musibah kemarau panjang. Namun orang Mesir menganggap setelah wafatnya Yusuf tidak akan datang lagi rasul di Mesir. Dia khawatir Allah membiarkan bangsa Mesir tetap tersesat karena perbuatannya yang telah melampau batas terhadap Bani Israel (QS. Ghafir: 26-35).

Namun Meremptah tetap tidak bisa diingatkan oleh orang beriman dari kalangannya tersebut. Bahkan untuk membuktikan kuasanya sehingga mengatakan bahwa dirinya adalah tuhan bagi kaumnya, diperintahkannya kepada Haman untuk membangun gedung yang tinggi yang terbuat dari batu-batu yang dibakar hingga berwarna merah yang menaranya dilengkapi pintu dan jendela agar dirinya bisa mencari tuhannya Musa, dan bila dia tidak menemukan tuhannya Musa dan Harun maka akan dikatakannya bahwa Musa dan Harun hanyalah pendusta belaka.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-35)

Allah telah menjadikan semua perbuatan Fir’aun sebagai perbuatan yang sangat indah baginya sehingga membuatnya semakin tertutup dari jalan kebenaran, padahal semua tipu dayanya tersebut tidak pernah berhasil (QS. Ghafir: 36-37, QS. Al-Qashash: 38). Perbuatan Meremptah itu justru semakin membuat orang beriman tersebut semakin berani berbicara pada masyarakat Mesir dengan mengingatkan bangsa Mesir agar mengikuti dirinya, sedang Allah memelihara orang beriman tersebut dari kekejian Fir’aun (QS. Ghafir: 38-45).

Tipu daya keji Fir’aun terhadap Bani Israel justru membuat kaumnya terpecah, yang membuat Meremptah semakin takut bahwa rakyatnya semakin banyak yang percaya kepada Nabi Musa dan Harun, sehingga terus melanjutkan perbuatan kejinya. Meremptah mengatakan kepada kaumnya bahwa Mesir dimana sungai sungai mengalir di bawah kakinya adalah miliknya, merasa lebih hebat dari Musa yang dianggapnya sebagai orang yang hina yang tidak memakai gelang emas. Malaikat juga tidak mengiringi Musa berjalan.

Perkataan Meremptah seperti itu membuat sebagian besar kaumnya tetap patuh kepadanya sehingga membuat mereka menjadi kaum yang fasik (QS. Az-Zukhruf: 51 –54). Kitab Keluaran 7: 1-13 menceritakan pertemuan Nabi Musa dan Harun dengan Fir’aun dan para pembesarnya yang berakhir dengan pertarungan antara Nabi Musa dan Harun dengan pesihir ini tidak sedetil yang dikisahkan dalam Al-Quran.

Kitab keluaran juga tidak menceritakan munculnya orang beriman dari keluarga Fir’aun yang berani mengingatkannya yang hal tersebut juga menunjukkan bahwa terdapat sebagian masyarakat Mesir yang tidak menyetujui perbuatan rajanya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-34)

Atas kekejian Fir’aun, Haman dan Karun yang di luar batas yang didukung oleh kaumnya dan tidak mau melepaskan Bani Israel pergi dari Mesir, kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengadzab Fir’aun dan kaumnya dengan adazb yang lebih besar dan lebih keras dari kekalahan para pesihir mereka. Bangsa Mesir kemudian dikepung adzab (QS. Ghafir: 45-46, QS. Al-‘Ankabut: 48). Allah menghukum Meremptah dan bangsa Mesir.

Mesir kembali dilanda musibah dan wabah. Dengan tongkatnya, Nabi Musa menjadikan air sungai Nil berubah menjadi sungai darah yang mengalir ke saluran irigasi, selokan, kolam bahkan semua sumber air termasuk sumur-sumur berubah menjadi darah dan membuat Mesir mengalami bencana air bersih dan krisis air minum. Ladang-ladang gandum dan perkebunan banyak yang layu dan mati. Masyarakat Mesir harus banyak menggali tanah untuk mencari sumber air baru.

Masyarakat Mesir menyaksikan suatu peristiwa yang sulit untuk disebut sebagai sihir yang dilakukan oleh manusia. Mereka menyadari bahwa mustahil ada manusia yang dapat membuat sihir seperti itu, yang bisa mempengaruhi bukan hanya pandangan dan perasaan manusia, namun berpengaruh langsung pada kondisi tanah, air dan tumbuh tumbuhan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here