Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-34)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

157
Lukisan tentang Musa berdialog dengan (suara) Allah yang terdengar dari api pada pohon di lembah suci Thuwaa (Horeb).

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Allah melanjutkan firman-Nya, sedang Musa menutup mukanya tidak berani memandang: “Telah diberkahi orang-orang yang berada di dekat api, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Maha Suci Allah Tuhan seluruh alam. Wahai Musa. Sesungguhnya Aku adalah Allah, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan Aku telah memilih Engkau (sebagai Rasul), maka dengarkan apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sungguh Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakan shalat untuk mengingat Aku. Sungguh hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) orang-orang yang tidak beriman dan oleh orang-orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa,” (QS. An-Naml 8 –9, QS. Thaha 13 –16, 41). (Kitab Keluaran 3: 6 menjelaskan, Allah menyatakan dirinya adalah Allahnya Ibrahim, Ishaq, Ya’qub dan Allah ayah Musa).

Selanjutnya, Allah bertanya: “Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa. Dijawab oleh Musa, ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain. Allah kemudian berfirman, “Lemparkanlah wahai Musa,” (QS. Thaha 17-19). Lalu Musa melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, sehingga Musa lari balik ke belakang tanpa menoleh.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-33)

Lalu Allah memanggilnya “Wahai Musa, jangan takut. Sesungguhnya di hadapan-Ku para rasul tidak perlu takut, sesungguhnya engkau termasuk orang yang aman, kecuali orang yang berlaku zhalim yang kemudian mengubah (dirinya) dengan kebaikan setelah kejahatan (bertaubat), maka sungguh Aku Maha Pengampun, Maha Penyayang. Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya pada keadaan semula,” (QS. Al-Qashash: 31, QS. An-Naml: 10-11, QS. Thaha: 21).

Musa kemudian memegang ular tersebut yang kemudian menjadi tongkat itu kembali. Setelah itu, Allah memerintahkan Musa untuk memasukkan tangannya ke leher bajunya untuk dikepit di ketiaknya dan ketika tangan tersebut dikeluarkan maka dari tangan tersebut keluar cahaya putih tanpa cacat, dan Musa diperintahkan untuk mendekapkannya di dadanya apabila ketakutan. Itulah dua bukti kerasulan atau mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Musa untuk menghadapi Fir’aun, para pembesar istana dan bangsa Mesir (QS. Al-Qashash: 32, QS. Thaha: 22, QS. An-Naml: 12).

Kitab Keluaran 4: 3-7 menjelaskan dua mukjizat tersebut. Namun Nabi Musa merasa tidak cukup dengan mukjizat tersebut karena merasa tidak terlampau pandai bicara dan takut tidak bisa meyakinkan Bani Israel dan bangsa Mesir, sehingga memohon kepada Allah agar mengutus Harun untuk bersama-sama dan membantunya (sebagai wazir) dalam melaksanakan tugas kenabiannya. Allah meluluskan permohonan itu dan menguatkan Musa dengan Harun dan Allah akan memberikan kekuatan yang besar kepada mereka berdua sehingga musuhnya tidak dapat mencapainya. (QS. Al-Qashash: 34-35, QS. Thaha: 24-37, QS. Asy-Syu’ara: 10-14).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-32)

Allah kemudian memerintahkan Musa kembali ke Mesir, dan berdua bersama Harun menghadapi Fir’aun dengan membawa mukjizat yang telah dimilikinya. Namun demikian Musa diperintahkan agar berbicara dengan lemah lembut yang dengan demikian mudah-mudahan mereka menjadi sadar atau takut. Allah berjanji akan selalu bersama Musa dan Harun agar mereka berdua tidak takut dan khawatir, karena Allah selalu mendengar dan melihat (QS. Thaha: 42-46, QS. Asy-Syu’ara: 15-16).

Kemudian Musa kembali ke istri dan anaknya, diceritakannya kejadian yang telah dialaminya di lembah Thuwa, kemudian diajaknya kembali pulang ke rumah Nabi Syu’aib. Kepada mertuanya diceritakan semua yang dialaminya di lembah Thuwa. Nabi Syu’aib merestuinya dan membesarkan hati Nabi Musa dengan berkata, “Kembalilah ke Mesir, sebab semua orang yang ingin mencabut nyawamu telah mati,” (Kitab Keluaran 4: 18 –20).

Istri Nabi Musa (Rehuellah Zipora) adalah anak Nabi Syu’aib tentu memahami tugas suaminya sebagai rasul dan resiko yang akan dihadapinya di Mesir, namun dirinya tidak takut atas semua resiko sehingga kemudian mengikuti suaminya dan juga membawa anaknya pergi ke Mesir. Nabi Musa kemudian menaikkan istri dan anaknya ke atas keledai dan memulai perjalanan ke Mesir.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-31)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here