Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-35)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

123
Sepenggal adegan film Musa menemui Meremptah di istananya.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Untuk memperkuat permintaannya itu, Nabi Musa menyatakan bahwa dirinya adalah utusan dari Tuhan semesta alam yang datang dengan membawa bukti-bukti. Nabi Musa menyampaikan bahwa keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk, sedang siksa akan ditimpakan kepada siapapun yang mendustakan dan berpaling dari ajaran yang dibawanya.

Nabi Musa bertanya kepada Meremptah apakah ada keinginan untuk keluar dari kesesatan, dan Nabi Musa akan membimbingnya ke jalan Tuhan. Meremptah kemudian bertanya tentang siapa Tuhan Musa, yang dijawab oleh Nabi Musa bahwa Tuhannya adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta, bumi dengan segala isinya, yang mencipatkan manusia dan menjadikan bumi sebagai hamparan untuk hidup manusia, yang menurunkan hujan dari langit, yang menumbuhkan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, yang menciptakan hewan dan manusia kemudian menggembalakan hewan untuk bahan makanannya, kemudian diterangkannya tentang umat terdahulu yang dikenakan adzab Allah. (QS. Asy-Syu’ara: 17-24, QS. Thaha: 47-55, QS. Al-‘Araf: 104-105, QS. An-Naziat: 18-19, QS. Az-Zukhruf: 46).

Atas penjelasan Musa tersebut Meremptah berkata kepada orang yang ada di sekelilingnya dengan menganggap Musa sebagai orang gila, kemudian meminta Musa menunjukkan bukti-bukti itu yang kemudian oleh Musa ditunjukkan dengan melemparkan tongkatnya yang kemudian menjadi ular besar. Setelah itu ditunjukkan tangannya yang menjadi putih bercahaya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-34)

Namun Meremptah menertawakannya dan mengejek, mendustakan, mendurhakai. Oleh karena itu enggan menerima penjelasan dan berpaling dari kebenaran seraya menantang Musa, dan mengatakan pada Musa, akulah Tuhanmu yang paling tinggi dan meminta agar Musa mengakui dirinya adalah tuhannya Musa, dan bila tidak mau mengakui maka akan dipenjarakan.

Meremptah kemudian berbicara kepada pembesarnya (bernama Haman) bahwa Musa adalah penyihir yang pandai yang hendak mengusir kamu dari negerimu. Para pembesarnya (Haman dan Qarun) menyarankan agar Musa dan Harun untuk sementara ditahan dan dipenjara terlebih dahulu, dan agar mengutus petugas istana Fir’aun pergi ke kota-kota di seluruh Mesir untuk mengumpulkan para pesihir yang pandai. (QS. Al-Qashash: 36-37, QS. Asy-Syu’ara: 25-37, QS. Al-A’raf: 106-112, QS. Thaha: 56-57, QS. An-Naziyat: 20-24, QS. Ghafir: 23-24, QS. Az-Zhukruf: 47).

Meremptah sangat yakin bahwa bukti yang diperlihatkan Nabi Musa dan Harun hanyalah sihir semata, oleh karena itu mereka sangat yakin dapat mengalahkan Nabi Musa dengan mengerahkan seluruh pesihir dari Mesir. Kemudian dibuatnya perjanjian dengan Nabi Musa untuk dihadapkan dengan para pesihir dari Mesir di suatu tempat terbuka. Nabi Musa minta pertemuan tersebut pada hari raya waktu pagi hari (dhuha), kemudian Nabi Musa dan Harun ditahan dan dipenjara di istana (QS. Thaha 58 -60).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-33)

Meremptah bersikap sombong terhadap Nabi Musa dan Harun, karena mereka berdua adalah orang dari Bani Israel yang sedang diperbudaknya, orang-orang yang dianggapnya menghamba pada dirinya. Oleh karena itu kemudian mendustakan bukti-bukti nyata yang dibawa Musa (QS. Al-Mukminun: 45-48).

Namun, karena pertemuan dengan Musa ini, membuat Meremptah marah kepada Musa karena dianggapnya telah berkhianat terhadap dirinya dan bangsa Mesir. Bahkan kemudian Meremptah melampiaskan kemarahannya dengan menangkap dan menyiksa istri Rameses II (Asyiah binti Muzahim) yang mengangkat Musa menjadi anaknya. Sebelum dibunuh, Asyiah masih ber berkesempatan berdoa: “Wahai Tuhanku, bangunkanlah aku sebuah rumah di sisi Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim,” (QS. Tahrim: 11).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here