Nikmatnya Berbagi Kebaikan

202

Oleh: H. Winarto AR bin Darmoredjo (Majelis Dakwah Edwin Az-Zahra)

Namanya juga berbagi kebaikan, jika dilakukan dengan ikhlas pastinya mendatangkan kenikmatan, baik bagi si pemberi maupun si penerima. Apapun yang dibagikan, apakah barang atau material maupun ilmu atau pengalaman.

Membiasakan diri bersedekah setiap hari, terutama di pagi hari mejadi cara yang ampuh untuk merasakan berbagai kenikmatan di balik kebiasaan berbagi.

BACA JUGA: Saling Berkabar Baik

***

JIKA kita ceramah, jamaahnya mendapatkan ilmu, penceramahnya mendapatkan kepuasan. Jika kita mengisi liqo’ (mentoring), peserta mendapatkan penguatan fikroh, pembinanya mendapatkan kepuasan.

Jika kita menulis atau membuat video dakwah, yang membaca dan menonton mendapatkan pencerahan dan yang membuatnya mendapatkan kepuasan.

Jika kita berbagi rezeki dan menolong orang lain, sekecil apapun yang diberi mendapatkan pertolongan dan yang memberi mendapatkan kepuasan.

Jalan-jalan dakwah sesungguhnya membahagiakan bagi para pelakunya. Jauh lebih bahagia daripada aktivitas lain. Dukanya saja membahagiakan, apalagi sukanya.

BACA JUGA: Kecenderungan Mencari Keburukan Orang Lain

Itulah sebab orang yang paling bahagia di muka bumi, yaitu para nabi dan ulama, mengambil jalan dakwah sebagai jalan hidupnya.

Suatu ketika Fudail bin Iyadh, seorang ulama tabiin ditanya muridnya: “Apakah guru bahagia?”

Sang guru menjawab, “Iya..aku bahagia. Seandainya para raja mengetahui betapa besar kebahagiaanku, niscaya mereka akan berusaha merebutnya walaupun dengan menggunakan pedang-pedang mereka.”

Sayangnya, jalan ini malah dianggap sulit dan dicitrakan buruk oleh sebagian orang, sehingga banyak yang malas berbagi dan berdakwah.

BACA JUGA: Kita Semua Menunggu Pulang

Padahal jalan dakwah adalah “rahasia” kepuasan dan kebahagiaan yang Allah sediakan untuk kita.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS. 41: 33).

 


#Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan kepadanya dari rezekimu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.” (HR. ‘Abdurrazaq).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here