Guru Besar UMM Ingatkan Susu Sapi yang Dikonsumsi Sangat Mungkin Mengandung Residu DDT

470
Prof. Dr. Indah Prihartini,MP menerima cindera mata dari Ketua PW Parmusi Jawa Tengah, Anding Sukiman. (Foto: Parmusi Jateng)

Solo, Muslim Obsession – Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Profesor Dr. Indah Prihartini MP mengingatkan bahwa sangat mungkin susu sapi yang dikonsumsi masyarakat mengandung residu DDT (Dichloro- Diphenyl-Trichloroethane) sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan.

“Dalam satu penelitian yang kami lakukan, ternyata susu sapi dari sebuah peternakan menunjukan adanya kandungan residu DDT tersebut,” ujar Prof. Indah saat tampil sebagai narasumber pada Workshop Hulu-Hilir Pertanian yang diselenggarakan PW Parmusi Jawa Tengah, Selasa (18/1/2022) di Ruang Pedan Hotel Sahid Jaya solo.

Pada kegiatan yang dibarengi dengan Musykerwil V Parmusi Jawa Tengah ini hadir juga sebagai narasumber Prof. Dr. Ir. Muhammad Nur, ahli ozon dari Universitas Diponegoro Semarang, Dr. Ir. Agus Riyanto, pemula padi indah dari Universitas Jendral Sudirman Purwokerto, dan perwakilan dari PT. Pasar Induk Nusantara off taker dari Jakarta.

BACA JUGA: Kembangkan Ekonomi Berbasis Masjid, Parmusi Jateng Gelar Workshop Hulu-Hilir Pertanian

Prof. Indah menyampaikan, DDT pernah dipakai petani pada tahun 1970 untuk memberantas hama.

Meskipun sudah 40 tahun tidak lagi dipakai ternyata residu DDT masih menempel di tanah dan terserap oleh akar dan masuk ke batang, daun dan buah tanaman, kemudian batang dan daun tanaman dimakan sapi perah.

Setelah menghasilkan susu, ternyata susunya mengandung residu DDT yang mengganggu kesehatan manusia.

“Tidak hanya ke susu sapi, bahkan makanan yang kita konsumsi sehari-hari juga mengandung residu yang mengganggu kesehatan kita,” jelas guru besar yang masuk salah satu dari 15 guru besar terbaik di Indonesia ini.

Mengingat hal tersebut, Prof. Indah menyarankan dan mengajak para petani di Indonesia untuk kembali ke organik.

BACA JUGA: Buka Ruang Dakwah Islamiyah, Ketum Parmusi Puji Gubernur Kepri

Yakni dengan menggunakan bahan-bahan organik sebagai pupuk, seperti pupuk kompos dari kotoran sapi, kambing dan ayam yang kemudian dipadukan dengan pupuk hayati yang salah satunya adalah pupuk organik cari ribost yang merupakan formulasi yang merupakan hasil penelitian bertahun-tahun.

Ia menjelaskan, untuk membangun pertanian organik yang menyehatkan tidak sulit. Yaitu dengan cara memasukkan bahan-bahan organik secara bertahap, mulai dari 3 ton/ha sampai akhirnya dicapai 20 ton/ha.

“Dengan cara ini sudah menghasilkan produk pertanian organik, asal dipadukan pupuk hayati seperti poc Ribost,” lanjutnya.

Mengakhiri penyampaian materinya, Prof. Indah menyampaikan apresiasi kepada PW Parmusi Jawa Tengah yang punya itikad baik untuk membangun pertanian berbasis jamaah masjid.

Sebagai bentuk apresiasi, Prof. Indah bersedia menjadi dosen untuk memberikan mata kuliah pertanian lewat zoom meeting apabila Parmusi Jawa Tengah mengaktifkan diri membuka kelas pelatihan pertanian untuk para petani jamaah masjid. (Anding)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here