Ustadz Yusran Hadi Jelaskan Keutamaan 10 Hari Bulan Dzulhijjah

79

Banda Aceh, Muslim Obsession – Wakil Ketua Majelis Pakar Parmusi Provinsi Aceh Dr. Muhammad Yusran Hadi Lc., MA mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak amal shalih pada bulan Zhulhijjah ini, khususnya sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah.

“Alhamdulillah kita sudah berada di awal bulan Zhulhijjah. Bulan yang agung dan mulia karena bulan ini termasuk salah satu bulan-bulan haram yang empat yaitu Rajab, Dzulqa’dah; Dzulhijjah, dan Muharram, di mana pahala amal shalih padanya dilipat gandakan sebagaimana dosa maksiat padanya dilipat gandakan. Bulan yang agung dan mulia karena ibadah haji dan kurban disyariatkan padanya,” ujar Ustadz Yusran.

“Pada bulan ini disyariatkan untuk memperbanyak amal shalih khususnya sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah mulai dari tanggal 1 sampai 10 Dzulhijjah ini mempunyai keutamaan yang besar dan agung yaitu Allah ta’ala sangat mencintai amal shalih yang dilakukan seorang hamba pada hari-hari ini.”

“Inilah hari-hari yang paling agung dan utama di sisi Allah ta’ala dalam sepanjang tahun, maka perbanyaknya amal shalih padanya. Amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini paling paling dicintai oleh Allah ta’ala,” paparanya.

Nasihat ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA dalam khutbahnya selama lebih kurang 25 menit di Masjid Besar Abu Indrapuri Kecamatan Indrapuri Aceh Besar pada hari Jum’at (1/7/22) kemarin.

Selanjutnya, Ustadz Yusran yang juga anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara menyebutkan dalil-dalil mengenai keutamaan amal shalih pada sepuluh hari awal Dzulhijjah.

“Allah ta’ala paling mencintai amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini sepuluh hari awal Dzulhijjah. Banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaannya.”

“Di antaranya, hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (awal) bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari)

“Dalil lainnya, hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah hari-hari yang paling agung dan dicintai oleh Allah untuk melakukan amal shalih padanya melainkan hari-hari sepuluh hari (awal Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad)

“Dalil lainnya, hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah hari-hari yang paling utama di sisi Allah dari sepuluh hari (awal) Dzulhijjah.” (HR. Abu ‘Awanah dan Ibnu Hibban).”

“Dan Dalil lainnya adalah Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alahi wasalam bersabda, “Hari yang paling utama adalah hari ‘Arafah.” (HR. Ibnu Hibban).”

Kemudian, Ustadz Yusran yang juga Doktor Fiqh dan Ushul Fiqh jebolan International Islamic University Malaysia (IIUM) menjelaskan amalan-amalan yang disyari’atkan dalam sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah.

“Di antara amal shalih yang disyariatkan pada sepuluh hari awal Zhulhijjah yaitu: Pertama; Melaksanakan ibadah haji dan Umrah. Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Umrah ke umrah (berikutnya) menghapus (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga“. (Muttafaq ‘alaih).”

“Kedua; Berpuasa Sembilan Hari dari Hari-Hari tersebut dari 1-9 Dzulhijjah, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Dari Huwaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebahagian istri Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di sembilan hari (awal) dari bulan Dzulhijjah, hari ‘Asyura, dan tiga hari setiap bulan yaitu Senin dan dua Kamis.” (HR. An-Nasa’i dan Abu Daud)”.

“Tidak diragukan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi, “Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku“. (HR. Al-Bukhari).”

“Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”. (HR. Muslim).”

“Ketiga: Takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan”. [al-Hajj/22 : 28]. Para ulama tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.”

“Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma. “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid“. [Hadits Riwayat Ahmad].”

“Imam Al-Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu.”

“Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah., “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].”

“Kempat; Taubat serta meninggalkan segala maksiat dan dosa sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.”

“Kelima; Memperbanyak amal shalih seperti: shalat sunnat, sedekah, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab, amalan-amalan tersebut pada hari-hari ini dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya yakni mati syahid.”

“Keenam; Disyariatkan pada hari-hari itu takbir muthlaq yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.”

“Ketujuh. Berkurban pada Hari Raya Qurban dan hari-hari Tasyriq. Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu“. [Muttafaqun ‘Alaihi].”

“Kedelapan; Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya..” Dalam riwayat lain :“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban“.”

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah, “dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

“Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.”

“Kesembilan; Melaksanakan shalat Iedul Adha dan mendengarkan khutbahnya. Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.”

“Kesepuluh:. Selain hal-hal yang telah saya sebutkan, hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan, memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya,” pungkas Ustaz. Yusran yang juga Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here