Tanpa Alas Kaki

632

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University)

Salah satu sunnah Rasulullah ﷺ yang hampir terlupakan banyak orang adalah sesekali berjalan tanpa alas kaki, padahal sehat dan menyehatkan.

TRUE STORY:

1- Kisah menarik dari seorang Taabi’iin bernama Abdullah Bin Buraidah RA, menuturkan:

أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ رَحَلَ إِلَى فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ وَهُوَ بِمِصْرَ، فَقَدِمَ عَلَيْهِ. فَقَالَ: أَمَا إِنِّي لَمْ آتِكَ زَائِرًا، وَلَكِنِّي سَمِعْتُ أَنَا وَأَنْتَ حَدِيثًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ رَجَوْتُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مِنْهُ عِلْمٌ. قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَال: كَذَا وَكَذَا. قَالَ: فَمَا لِي أَرَاكَ شَعِثًا وَأَنْتَ أَمِيرُ الْأَرْضِ؟ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَنْهَانَا عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الإِرْفَاهِ. قَالَ: فَمَا لِي لَا أَرَى عَلَيْكَ [حِذَاء]؟ قَال: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأْمُرُنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا

“Seorang Sahabat Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan jauh untuk menjumpai Sahabat Fadhaalah Bin Ubaid RA yang ada di Mesir.

Waktu bertemu ia berkata: “Maksud kedatanganku ke sini bukanlah sekedar mengunjungimu wahai Fadhaalah, akan tetapi aku dan engkau telah mendengar sebuah Hadits dari Rasulullah ﷺ, maka aku berharap engkau mengetahui tentang Hadits tersebut”.

BACA JUGA: Tidak Banyak Waktu Lagi

Fadhaalah RA berkata; “Hadits apa itu?”. Dia menjawab, “Hadits yang begini dan begini”.

Setelah selesai, beliau berkata kepada Fadhaalah; “Mengapa engkau terlihat berpakaian lusuh padahal engkau Pemimpin di Daerah ini?”.

Fadhaalah RA menjawab; “Sungguh, Rasulullah ﷺ melarang kita untuk banyak berpenampilan mewah”.

Beliau bertanya lagi, “Mengapa engkau terlihat tidak memakai alas kaki?”. Bukankah Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan kita agar sekali sekali berjalan tanpa ALAS KAKI,” (Hadits Sahih oleh Al-Imam Abu Daud, diperkuat oleh Al-Imam Al-Albani ).

2- Al-Imam Al Qaari RA berkata:

“Kita berjalan tanpa ALAS KAKI sesekali waktu. Maksudnya: Berjalan tanpa sepatu atau sandal dalam rangka Tawaadhu’ dan menundukkan hawa nafsu, dan memberikan kenyamanan kaki saat berjalan ketika hal itu dibutuhkan. Oleh karena itu diberi batasan: ‘Sesekali waktu.’  Maksudnya: Kadang-kadang.’ (Kitab: Mirqatul Mafsatih, 7/2827).

BACA JUGA: Lansia itu Anugerah Istimewa

POINTERS:

1- Memakai alas kaki termasuk Sunnah Rasulullah ﷺ dan tidak memakai alas kaki sesekali juga termasuk sunnah Rasul. Keduanya mungkin sudah biasa dilakukan, namun melakukannya bukan karena meneladani Rasulullah ﷺ, sehingga tidak menjadi ibadah.  Agar menjadi ibadah maka niatkanlah mengikuti Rasulullah ﷺ.

2- Begitu pula larangan Rasulullah ﷺ untuk sering berpenampilan mewah, berarti hidup sederhana harus lebih sering menjadi gaya keseharian agar pahala sunnah didapat.

3- Supaya Allah SWT selalu mencinta kita, semua dosa diampuni, dan berhak masuk Surga, maka ikutilah sunnah Rasul-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu benar benar mencintai Allah, maka ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Aali Imraan, surah ke-3, ayat 31, halaman 54 ).

BACA JUGA: Jangan Menggerutu

4- Agar sehat, maka jalan kaki lah tanpa alas kaki secara tetatur:

 السُـنن التي تكاد تكون مهجورة: ﺍﻟﻤﺸﻲ ﺣـﺎﻓﻴﺎً

“Salah satu sunnah Rasul yang hampir terlupakan adalah sesekali berjalan kaki nyeker, tanpa alas kaki”.

Semoga Allah SWT senantiasa mengijabah doa-doa kita, dan menganugerahkan kita kemampuan rajin mengamalkan sunnah-sunnah Rasul.

Dan senantiasa pula Allah membimbing kita untuk selalu eling mengingat Allah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya pada Allah SWT.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here