Selamat Jalan Bung Hadi (Sahabat Baik yang Sangat Peduli)

382

Oleh: Lukman Hakiem

Berita duka menyergap tiba-tiba, Bung Hadi Supeno wafat pada tanggal 17 Juli 2022. Baru sebulan yang lalu dia, istri, anak, dan menantunya datang ke rumah untuk menjenguk saya yang masih dalam masa pemulihan akibat vejal stroke ringan.

Pagi itu, dia menelpon dan mengabarkan keberadaannya yang sudah dekat dengan rumah saya. Suatu kunjungan yang mengejutkan. Ketika hendak pamit, dia mengajak berfoto bersama, kemudian dia viralkan ditambahi kalimat, “Alhamdulillah, Bung Elha sudah banyak perkembangan. Jelas bicara, jelas melihat, lincah gerak melangkah, semoga cepat recovery, bugar dan kembali beraktivitas.”

Saya mengenal Hadi Supeno sejak tahun 1979 ketika dia menjadi mahasiswa FIP IKIP Yogyakarta. Dengan takdir Allah, Hadi memilih tempat kos di sekretariat HMI Korkom IKIP Yogyakarta. Sejak saat itu, persahabatan kami semakin erat. Sebagai junior, Hadi Supeno tidak segan berdebat dengan saya, dan saya pun meladeninya dengan semampu saya.

Sebagai aktivis HMI, Hadi Supeno dikenal sebagai aktivis yang mendalami pikiran-pikiran Bung Karno. Karena itu, beberapa teman menyebut Supeno itu semangka, luarnya hijau, dalamnya merah. Tapi buat saya, itu adalah hal yang wajar saja, karena Sukarno adalah proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia yang tentu saja seluruh pikiran dan tindakannya harus dipelajari oleh segenap anak bangsa, tidak terkecuali kader-kader HMI. Dalam hal inilah saya sering berdiskusi dengan Hadi Supeno, mengenai pikiran-pikiran Sukarno.

Saya dan Hadi Supeno ditakdirkan Allah sama-sama senang menulis. Kami bagai berlomba melahirkan tulisan untuk dimuat di media lokal maupun nasional. Sebagai aktivis mahasiswa, Hadi Supeno menjalani kehidupan sambil menjadi guru SD.

Di tempat kosnya, di pinggiran kota Yogya, Hadi Supeno tetap beraktivitas misalnya menggerakkan kegiatan-kegiatan keislaman seperti pelaksanaan shalat Idul Fitri. Karena itu, saya melihat Hadi Supeno sebagai kader HMI yang nasionalis dan tidak pernah kehilangan gairah keislamannya.

Ketika saya menjadi Ketum HMI Cabang Yogya, Hadi saya tunjuk menjadi Ketua bidang Kepemudaan dengan tugas khusus mendinamisir diskusi Kelompok Cipayung. Alhamdulillah, tugas khusus itu dia laksanakan dengan penuh semangat.

Saya mengenang Hadi Supeno sebagai seseorang yang sangat peduli kepada teman. Ketika tiga mahasiswa IKIP Yogya diskorsing oleh Rektor karena tidak berdiri saat Presiden Soeharto memasuki lapangan upacara, Hadi Dupeo memimpin Komite Solidaritas, menuntut supaya rektor mencabut skorsing.

Meskipun harus berhadapan dengan tantara, ia dan beberap anggota Komite diciduk tentara pada suatu dini hari– perjuangan Hadi dkk berhasil. Rektor St. Vembriarto menyerah terhadap aksi mahasiswa dan mencabut skorsing.

Saya, terkena gejala stroke ringan dan dirawat di RS PKU Muhammadiyah, beberapa kali dia menelepon anak saya dan menanyakan keadaan saya. Bahkan dia sempat mengirimi saya uang. Yang mengejutkan, pada tanggal 17 Juni pagi, tiba-tiba dia menelpon dan mengabarkan posisinya yang sudah dekat dengan rumah saya.

Saya sama sekali tidak menduga itulah kunjungan dan pertemuan saya yang terakhir dengan Hadi Supeno. Ketika berkunjung itu dia mengabsen beberapa nama, apakah sudah menjenguk saya atau belum. Beberapa nama yang dia absen, alhamdulillah sudah datang ke rumah.

Selamat jalan, Bung. Surga menantimu, Insya Allah.

Allahummagfirlahu warhamu wa’afihi wa’fu ’anhu waakrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here