Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-10)

II. Nabi Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq.

83
Bukit Shafa dan bukit Marwah sekarang berada di dalam Masjidil Haram. Menjadi ujung lintasan Sa’i, bagian dari prosesi ibadah haji dan umrah.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

A. Nabi Ibrahim

Telah beberapa hari rombongan kecil ini menginap di lembah gersang dan ganas tersebut. Ketika perbekalan air sudah mulai habis, tiba-tiba Nabi Ibrahim memerintahpara pembantunya membongkar tenda. Namun tenda Nabi Ibrahim tidak dibongkar.

Hajar yang segera menyadari bahwa dirinya dan Ismael akan ditinggal di tempat tersebut, kemudian bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Wahai Nabi, apakah Allah SWT memerintahkanmu berbuat demikian?”. Nabi Ibrahim kemudian membenarkan pertanyaaan Hajar. Kemudian Hajar bertanya kembali, “Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?. Jawab Ibrahim, “Aku menitipkanmu pada perlindungan Allah SWT”. Lalu dijawab Hajar, “Aku ridha bersama Allah SWT,” (Al-Bukhari 4: 584).

Nabi Ibrahim mendapat wahyu untuk meninggalkan tempat tersebut dengan meninggalkan Hajar dan Ismael sendirian tanpa ada orang lain yang menemani. Dengan keyakinan yang sangat kuat, Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anak satu-satunya tersebut. Hajar juga sangat yakin dengan wahyu yang diterima Nabi Ibrahim.

Dengan demikian Hajar adalah wanita yang sangat kuat keyakinan tauhidnya dan ikhlas ditinggalkan sendirian dengan bayinya di tempat yang ganas, sulit dicari makanan dan bahkan tidak pernah kelihatan terdapat air. Suatu ujian keyakinan yang luar biasa bagi Hajar.

QS. Ali Imran ayat 96 menginformasikan tempat tersebut dinamakan Bakkah, yaitu Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Suatu pemberian nilai ilahiyah pada Bakkah yang sulit diukur dengan ukuran apapun yang dikenal manusia.

Perjalanan Nabi Ibrahim ke Bakkah adalah perjalanan fisik dan spiritual yang paling berat yang pernah dilakukannya, yang akan diabadikan sebagai bagian dari ibadah kaum muslim di masa berikutnya.

Nabi Ibrahim berjalan semakin jauh. Ketika ditengoknya Hajar tidak nampak lagi, sambil menghadap ke Bakkah, kemudian ia berdoa sebagaimana dapat dibaca pada QS. Ibrahim ayat 35-38, yang dalam doa tersebut Nabi Ibrahim memohon kepada Allah, yaitu: a) agar menjadikan tempat tingggal Hajar dan Ismael menjadi negeri yang aman; b) anak cucunya tidak menyembah berhala;

c) Karena dirinya telah menempatkan sebagian keturunannya berada di dekat Baitullah, maka agar mereka (anak dan cucunya) melaksanakan shalat, menjadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka; d) memberikan rizki buah-buahan kepada Hajar, Ismael dan orang-orang yang ada di tempat itu.

Dengan doa tersebut maka terlihat bahwa a) Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismael di Bakkah karena ada misi yang berkaitan dengan Baitullah. Nabi Ibrahim mengetahui ada Baitullah di situ dari wahyu yang diterimanya. Saat itu Baitullah tinggal pondasinya, sehingga belum nampak adanya bangunan;

b) Dengan demikian Baitullah yang pertama kali dibangun adalah Baitullah yang ada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam, sebagaimana disebut pada QS. Ali Imran ayat 96-97; c) di Bakkah akan kedatangan orang-orang lain yang hatinya baik dan terpikat dengan tempat tersebut, yang akan menjadi jalan berkembangnya keturunan Nabi Ibrahim di Bakkah;

d) Kata-kata Nabi Ibrahim tentang sebagian keturunannya juga dapat bermakna bahwa terdapat sebagian keturunannya yang lain akan berada ditempat yang berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here