Orang Pelit Bukan Umat Rasulullah

320

Oleh: H. Winarto AR bin Darmoredjo (Majelis Dakwah Edwin Az-Zahra)

Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang yang pelit bukan bagian dari umatnya. Nabi berkata, “Laisa minna, laisa minna”, yang artinya (orang yang pelit itu) bukan bagian dari kami.

Dalam rangka itu, umat Islam sejatinya harus memahami bahwa setiap harta dan karunia yang didapat adalah milik Allah. Allah SWT menitipkan harta tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya untuk diambil kembali dengan cara-cara yang Dia perintahkan.

***

BACA JUGA: Lomba Tanpa Finish

Sebab terjadinya seseorang pelit adalah karena kecintaannya pada harta yang berlebihan. Dikisahkan, pada dasarnya manusia diciptakan pada sebuah materi, tanah. Sehingga, rasa enggan dalam memberikan harta kepada orang lain secara cuma- cuma bukanlah perkara yang baru, di zaman dulu juga sudah ada.

Sehingga jika sudah dapat satu lembah emas, dia akan mau dua lembah emas, dan seterusnya. Sifatnya material, sifat dasar manusia secara naluriah itu, dia tidak senang jika diminta orang lain meski dia kaya raya.

Inilah sebab yang bisa menjadikan manusia itu bakhil karena kecintaannya pada dunia atau harta itu lebih besar. Di dalam Alquran, level pelit terbagi- bagi. Ada bakhil yang sifatnya berdosa, yakni orang pelit yang tidak mau memberikan zakat meskipun itu wajib.

BACA JUGA: Sudahlah Hidupnya Kafir, Matinyapun Kafir

Ada pula bakhil yang sifatnya tidak baik dalam etika sosial, yakni orang yang abai dan enggan menyisihkan harta kepada orang-orang yang membutuhkan. Itu pula mengapa Nabi SAW menyatakan, bahwa “laisa minna, laisa minna’, yang artinya (orang yang pelit itu) bukan bagian dari kami.

Jadilah dermawan-dermawan yang selalu berbagi atas harta yang diperolehnya, agar tidak jadi Qorun.

Wa basysyiril mukminiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here