Merdeka dalam Persepektif 3 Nabi

186

Oleh: Ustadz Syukron Ma’mun Albhogori (Pengurus MUI Kota Bogor)

17 Agustus 1945 merupakan tanggal, bulan dan tahun paling bersejarah bagi bangsa indonesia, karna itulah saat-saat bangsa indonesia terlepas dari cengkraman penjajah lebih dari 350 tahun lamanya.

350 tahun bangsa ini tidak bisa menentukan nasibnya, 350 tahun bangsa ini menjadi budak asing (penjajah), 350 tahun bangsa yang kaya akan sumber daya alamanya ini, tapi tidak bisa menikmati kekayaannya sendiri.

Apakah setelah Merdeka, bebas terlepas dari penjajahan kita bisa menentukan nasib sendiri?, bisa berdiri sendiri? Bisa menikmati sumber daya alamnya sendiri? Karna merdeka artinya terlepas, bebas dan tidak lagi bergantung kepada pihak lain, begitu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Rasa-rasanya nya kita masih harus merenung dan introspeksi diri untuk menjawab haqikat dari kemerdekaan itu sendiri. Apakah benar kita sudah Merdeka?, atau justru kita masih terjajah dengan pola penjajahan gaya baru yang berbeda dengan pola penjajahan sebelumnya?

BACA JUGA: Makna Hijrah dalam Filosofi “Marfu’atul Asmai”

Lalu apa makna dibalik sebuah kemerdekaan, dan apa yang seharusnya di lakukan setelah kita merdeka?

Sebagai ummat yang mayoritas di negeri ini, baik rakyat dan pengelola negaranya semestinya kita ummat Islam bisa merujuk kepada sejarah Islam dan kitab suci ummat Islam, yakni al-Qur’an agar mendapatkan gambaran yang jelas tentang haqikat KEMERDEKAAN dan Apa yang harus dilakukan setelah merdeka?

Merdeka dalam persepsi 3 Nabi Ulul ‘Azmi, Ibrahim As, Musa As, dan Muhammad ﷺ.

Pertama, makna kemerdekaan dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim, ketika ia membebaskan dirinya dari orientasi asasi yang keliru dalam kehidupan manusia. Dalam Surat Al-An’am Ayat 76-79 dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan.

Pencarian spiritual tersebut merupakan upaya Ibrahim dalam membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang diyakininya keliru, namun hidup subur dalam masyarakatnya.

BACA JUGA: Jadilah Mujaddid, Jangan Jadi Mujaddil

Seperti diketahui, masyarakat Ibrahim saat itu menyembah berhala. Bagi Ibrahim, penyembahan terhadap berhala merupakan kesalahan besar. Sebab manusia telah melakukan penghambaan yang justru menjatuhkan harkat dan martabat dirinya sebagai manusia.

Bentuk penghambaan yang menjatuhkan harkat-martabat manusia seperti itu juga terjadi pada era modern. Penghambaan terhadap materialisme dan hedonisme telah mengantarkan manusia modern untuk melakukan korupsi tanpa perasaan bersalah, mengorbankan nyawa-nyawa tak berdosa, menghalalkan berbagai cara untuk meraih kursi dan posisi, dan seterusnya.

Penghambaan-penghambaan yang demikian bukan hanya melukai harkat-martabat manusia, namun juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang hakikatnya menjadi tujuan dari proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 77 tahun yang lalu.

BACA JUGA: Rahasia Puasa di Balik Kewajiban Kutiba (كتب)

Kedua, makna kemerdekaan juga dapat dipetik dari kisah Nabi Musa As, ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Kekejaman rezim Firaun terhadap bangsa Israel dikisahkan dalam berbagai ayat Alquran. Rezim Firaun merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi (mustakbirun fi al-ardh).

Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki bangsa Israel dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat (QS Al-A’raaf:127, Al-Baqarah:49, dan Ibrahim:6).

Mengakhiri Keangkuhan

Seperti halnya kisah sukses Nabi Musa, Proklamasi 17 Agustus 1945 hakikatnya juga merupakan momen yang mengakhiri episode keangkuhan dan penindasan rezim kolonial. Sebuah keangkuhan yang membuat bangsa kita miskin dan terhina selama ratusan tahun.

Namun jangan lupa, berakhirnya keangkuhan dan penindasan rezim kolonial tidak serta merta membebaskan rakyat Indonesia dari keangkuhan dan penindasan rezim lain dalam bentuk yang berbeda.

Tugas terberat dari sebuah bangsa merdeka sesungguhnya adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan dirinya sebagai bangsa merdeka, serta bebas dari hegemoni internal dan eksternal yang menindas. Merdeka dari hegemoni penindasan internal berarti bebas dari penguasa-penguasa pribumi yang bertindak dan bertingkah laku laksana penjajah asing.

BACA JUGA: Ramadhan, Bulan untuk Buktikan Eksistensi Iman

Kita memerlukan pemerintahan yang sayang dan cinta kepada rakyatnya sendiri. Tidak hanya cinta sebatas bibir, namun juga mencintai dan mengayomi dalam bentuk dan tindakan nyata.

Merdeka dari hegemoni eksternal artinya bebas dari pengaruh dan tekanan asing (terutama di bidang politik, ekonomi, dan budaya).

Bangsa yang merdeka, namun di bawah tekanan politik negara lain, sesungguhnya bukan bangsa yang merdeka. Bangsa yang merdeka, tapi menyerahkan pengelolaan sumber daya alamnya kepada pihak asing tanpa share yang adil, bukan pula bangsa yang merdeka.

Bangsa yang merdeka, namun sangat inferior terhadap identitas budaya bangsa lain, bukan pula bangsa yang merdeka. Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia haruslah kemerdekaan yang holistik dan integral dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

BACA JUGA: Apa dan Siapa Salaf?

Ketiga, kisah sukses Nabi Muhammad dalam mengemban misi profetiknya di muka bumi (QS. Al-Maa’idah:3) menjadi sumber ilham yang tak pernah habis bagi bangsa Indonesia untuk memaknai kemerdekaan secara lebih holistik dan integral.

Ketika diutus 14 abad silam, Nabi Muhammad menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus: disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial.

Disorientasi hidup diekspresikan dalam penyembahan patung oleh masyarakat Arab Quraisy. Rasulullah berjuang keras mengajarkan kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan ‘’tuhan-tuhan’’ yang menurunkan harkat dan derajat manusia (QS. Luqman:13; Yusuf:108; Adz-Dzaariyaat:56; Al-Jumu’ah:2).

Penindasan ekonomi itu dilukiskan Alquran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja (QS. Al-Hasyr:7). Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta tanpa memedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS. Al-Humazah:1-4; Al-Maa’uun:2-3).

BACA JUGA: Men-Dhomirkan Al-Quran

Rasulullah mengkampanyekan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah dan kesederajatan bangsa-bangsa. Dalam khutbah terakhirnya di Arafah, saat haji wadaí, beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara hitam dan putih, antara Arab dan non-Arab.

Semuanya sama di mata Tuhan. Tidak ada celah yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketakwaan mereka kepada Tuhan-Nya (QS. Al-Hujuraat:13).

Semoga 77 tahun merdeka nya negara Indonesia adalah merdeka yang sesungguhnya,yakni merdeka dari segala bentuk penjajahan baik internal maupun eksternal.

Dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia ke 77 pulih lebih cepat bangkit lebih kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here