Makna Hijrah dalam Filosofi “Marfu’atul Asmai”

207

Oleh: Ustadz Syukron Ma’mun Albhogori (Pengurus MUI Kota Bogor)

Dalam kajian ilmu Nahwu (gramatika Bahasa Arab) ada yang disebut dengan Marfu’atil Asma (Isim-isim yang di rafakan). Kalo dalam bahasa Indonesia, Rafa’ itu artinya tinggi atau bisa juga artinya kesuksesan.

Di antara isim yang dirafa’kan itu adalah Mubtada’, yakni isim yang berada di awal kalimat. Khobar, yakni isim yang dibaca rafa’ yang jatuh setelah mubtada’. Fa’il, yaitu subyek atau pelaku. Naib Fa’il atau pengganti fa’il, kemudian Tawabi’ yang mengikut terhadap yang dirafa’kan.

BACA JUGA: Jadilah Mujaddid, Jangan Jadi Mujaddil

Mubtada’ itu artinya pelopor, inisiator, selalu yang terdepan. Jadi jika kita ingin menjadi manusia yang sukses, jaya dan bahagia, jadilah pelopor dan inisiator dalam kebaikan yang menginspirasi bagi banyak orang.

Khobar, artinya berita atau informasi, kuasai berita, kuasa informasi, karna informasi dapat melahirkan wawasan yang luas. Dengan wawasan yang luas dan dalam, maka kita akan menguasai keadaan dan dunia.

Fa’il, artinya pelaku, pembuat sejarah bukan berdiam diri dan berpangku tangan, yang akhirnya menjadi korban sejarah.

BACA JUGA: Rahasia Puasa di Balik Kewajiban Kutiba (كتب)

Naib Fa’il, artinya pengganti Fa’il, jika pelaku tidak ada udzur atau meninggal, jadilah penggantinya Fa’il yang baik seperti apa yang telah dilakukan oleh Fa’il sebagai pendahulunya.

Tawabi’, yang mengikuti. Jika tidak mampu menjadi Mubtada’, menjadi Khobar, menjadi Fa’il, maka ikuti jejak mereka. Ikuti kebaikan orang-orang yang sudah meletakan dasar-dasar kebaikan tersebut. In syaa Allah hal itu pun akan menghantar kan kepada rofa’, ketinggian kesuksesan dan kemuliaan.

Mari berhijrah menuju ketinggian, kemulian, kebaikan, seperti karakter “Marfu’atul Asmai”.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here