Men-Dhomirkan Al-Quran

1041

Oleh: Ustadz Syukron Ma’mun Albhogori (Pengurus MUI Kota Bogor)

إنا إنزلناه فى ليلة القدر

“Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al-Quran), pada malam Lailatul Qodar..”

Ayat di atas menjelaskan tentang malam turunnya Al-Quran. Akan tetapi kata Al-Quran dalam ayat di atas tidak disebutkan secara langsung, melainkan menggunakan kata ganti ه (hu) atau dalam bahasa Arab dhomir.

Muncul pertanyaan, kenapa ditampilkan kata ganti, namun sebelumnya tidak disebutkan kata yang digantikannya?

Dalam ilmu bahasa Arab tepatnya ilmu nahwu, diungkapkannya kata ganti, akan tetapi tidak diungkapkan sebelumnya kata yang digantikannya, kata ganti (dhomir) tersebut bernama Dhomir Sya’n.

Apa itu Dhomir Sya’n? Dhomir Sya’n ialah:

ضمير الشأن هو الضميرالذى تفسره الجملة التى وقعت بعده

Dhomir Sya’n (ضمير الشأن) adalah dhomir yang ditafsiri dengan jumlah setelahnya, baik berupa jumlah ismiyyah maupun fi’liyyah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam nadhom Alfiyyah ibn Malik:

وَمُضْمَرُ الشَّانِ ضَمِيْرُ فُسِّرَا ** بِجُمْلَةٍ كَأَنَّهُ زَيْدٌ سَرَى

“Dhomir Sya’n adalah suatu dhomir yang ditafsiri dengan jumlah setelahnya, contoh:

كَأَنَّهُ زَيْدٌ سَرَى

Dalam ilmu Balghoh, tujuan dari Dhomir Sya’n adalah untuk menunjukkan arti penting (التفخيم) dan untuk menunjukan agungnya informasi yang berada setelah Dhomir Sya’n.

Dalam artian, kata yang memunculkan Dhomir Sya’n itu ingin mengungkapkan bahwa kandungan makna kalimat yang hendak diungkapkan (baik berupa jumlah ismiyyah maupun jumlah fi’liyyah) itu punya makna penting dan agung, yang mengharuskan telinga menyimak dengan sungguh-sungguh dan jiwa memperhatikan dengan serius atau fokus.

Seperti contoh di bawah ini:

قل هوَ اللهُ أحدٌ

“Katakanlah (bahwa/bahwasanya/ kedudukan) Allah adalah Esa”.

Dalam ayat itu diungkapkan kata ganti dulu, baru kata yang digantikannya, yakni Allah.

Menurut sebagian mufassir ,kata ganti untuk Al-Quran tidak mesti didahului kata Al-Quran sebelumnya, karena Al-Quran sudah begitu nyata dan jelas di hati orang yang mengimaninya dan di hati orang yang mengamalkannya.

Sebagaimana disebutkan di atas, sesuatu itu diungkapkan dengan kata ganti, dalam hal ini kata untuk Al-Quran adalah dhomir Hu (ه) maka tidak ada maksud lain dari pengungkapan itu selain dalam rangka untuk mengangungkan Al-Quran, baik ditinjau dari aspek keagungan yang menurunkannya, proses penurunannya maupun waktu diturunkannya.

Kata ganti yang dalam ilmu Nahwu disebut dengan dhomir, dan dhomir dalam bahasa Indonesia artinya adalah suatu yang tersembunyi atau tersimpan.

Sesuatu yang tersembunyi atau tersimpan itu adalah hati, yang dalam bahasa Arab disebut juga dhomir. Karena hati merupakan sesuatu yang sangat tersembunyi, batin dan rahasia, apalagi isinya.

Maka surat Al-Qadar ayat pertama ini memberikan isyarat kepada kita bahwa Al-Quran yang agung ini yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, yang melailatul qadarkan malam turunnya adalah Al-Quran yang harusnya tersimpan di dalam dhomir (hati), bukan pada tempat lainnya, seperti kertas apalagi android atau smartphone.

Tempat Al-Quran yang sebenarnya adalah hati, sebagaimana Al-Quran dibawakan malaikat Jibril As dan dimasukan ke dalam hati Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

Proses membaca Al-Quran, mentadaburi ayat-ayatnya dan menghafalkannya adalah proses mendhomirkan atau menghatikan Al-Quran.

Sehingga bagi orang yang sudah mendhomirkan Al-Quran maka seolah-olah dia telah melailatul qodarkan setiap malamnya dan meramadhankan setiap bulannya.

Semoga di Ramadhan ini kita bisa mendhomirkan Al-Quran atau meng-qolbukannya di hati kita, sehingga Al-Quran akan menjadi syafaat (pembela dan penolong) kita pada hari Kiamat nanti. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu a’lam Bi asshowaab.

Situpete, 17 Ramadhan 1443 H/18 April 2022 M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here