Kisah Ruqayyah, Putri Rasulullah yang Wafat saat Perang Badar

96

Jakarta, Muslim Obsession – Selain Fatimah az-Zahra Nabi Muhammad SAW juga memiliki anak perempuan lain yang rupawan, baik paras maupun hatinya, termasuk Ruqayyah. Ruqayyah lahir dari istri pertama Rasulullah, Khadijah.

Dikutip dari Mahajjah, Ruqayyah lahir tiga tahun setelah kelahiran kakak tertuanya, Zainab dan saat Rasulullah hampir berusia 33 tahun. Ruqayyah beserta saudara-saudaranya dibesarkan dan dididik penuh oleh sang ayah.

Kala itu, menikahkan anak perempuan dengan laki-laki yang masih merupakan kerabat menjadi hal lazim. Ruqayyah menikah dengan Utbah, putra Abu Lahab.

Akan tetapi, rumah tangga Ruqayyah dan Utbah tak bertahan lama. Utbah harus menceraikan Ruqayyah akibat kebencian sang ayah, Abu Lahab pada Nabi Muhammad dan Islam.

“Jika kamu tidak menceraikan anak perempuan Muhammad, aku tidak akan menunjukkan wajahku atau melihatmu,” ujar Abu Lahab.

Setelah perceraian itu, Allah SWT memberikan Ruqayyah seorang suami beragama Islam berdarah Quraisy, Utsman bin Affan. Keduanya kemudian hijrah ke Habasyah.

Di Habasyah, mereka diterima dengan baik dan hidup dengan layak. Ruqayyah pun memiliki anak bernama Abdullah. Namun, Abdullah meninggal di usia 6 tahun karena sakit.

Wafat di Tengah Suasana Perang

Kerinduan akan kampung halaman membuat Ruqayyah ingin pulang. Namun, saat pulang ke Makkah, ia justru mendapati sang ibu, Khadijah telah wafat.

Belum sampai dukanya sirna, ia harus kembali hijrah bersama sang suami ke Madinah. Tak berselang lama, terdengar seruan Perang Badar.

Dalam suasana ketegangan ini, Ruqayyah jatuh sakit. Rasulullah meminta Utsman bin Affan untuk tetap menjaga putrinya.

Kala sang ayah berperang melawan musuh-musuh Allah, Ruqayyah justru berperang melawan penyakitnya.

Ruqayyah pun wafat saat Perang Badar masih berlangsung. Berita ini dibawa Zaid bin Haritsah ke Badar.

Baru jelang pemakaman Ruqayyah, Rasulullah kembali ke Madinah. Ia membawa berita kemenangan kaum Muslimin, namun diliputi duka kematian sang putri.

Banyak perempuan Madinah yang menangisi kepergian Ruqayyah. Sang adik, Fatimah az-Zahra, juga menangis di dekat liang kubur Ruqayyah.

Anas bin Malik meriwayatkan Rasulullah duduk di atas kuburan Ruqayyah dengan kedua mata yang berlinang air mata.

“Apakah ada salah seorang di antara kalian yang tidak melakukan hubungan suami istri semalam?” tanya Muhammad.

Abu Talhah menjawab. “Saya”. Lalu, Rasulullah berkata, “Turunlah ke liang kuburnya”. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here