Anda Muslim, Jangan Kaget yaa..!!

304

Oleh: Abu Abdillah

Anda jangan kaget ya.. Saya mau ngasih kabar mengejutkan. Pokoknya Anda jangan kaget.

Pernah beberapa kali saya iseng nanya ke teman-teman. Mereka semuanya adalah anak pengajian. Kalau di sekolah atau di kampus, mereka dibilangnya anak rohis atau aktivis dakwah.

Ternyata hampir semuanya menjawab: “Belum pernah!”

Pertanyaan saya sebenarnya sederhana: “Selama hidup ini, berapa kali Anda menamatkan baca terjemahan Al-Quran?”

Hayoo… ! Kalau Anda pernah berapa kali? Jangan-jangan belum pernah sekali pun!

Kenapa saya iseng mengajukan pertanyaan seperti ini?

Ceritanya, waktu itu saya pernah berkunjung ke rumah teman yang baru pulang dari Madinah. Kebetulan teman ini mengajak menginap di rumahnya karena masih belum lepas kangen, kata teman yang belum mau dipanggil ustadz ini.

Ketika di kamar setelah tadi asyik ngobrol seharian, tiba-tiba teman saya ini bertanya: “Ente pernah berapa kali namatin baca terjemahan Al-Quran?”

Saya waktu itu nggak bisa jawab langsung. Saya terdiam sejenak. Karena seingat saya, tidak pernah sekalipun saya meniatkan untuk membaca rutin terjemahan Al-Quran dari awal sampai akhir.

Kalau khatamin Al-Quran, alhamdulillah sering. Terutama di bulan Ramadhan. Tapi kalau namatin baca terjemahannya, sepertinya belum pernah.

Pernah waktu masih aktif sebagai remaja masjid dulu, sambil nunggu waktu Isya, saya biasa baca-baca buku tafsir Al-Quran yang ada di rak masjid. Tapi nggak sampai selesai.

Kesimpulannya memang saya belum pernah sekalipun membaca terjemahan Al-Quran dari awal sampai akhir, dengan niat untuk menamatkannya.

Teman saya, kemudian berkata: “Orang non Muslim saja ada yang mau membaca terjemah Al-Quran sampai selesai… Banyak yang kemudian dapat hidayah karena baca terjemahan Al-Quran….”.

Semenjak itu, saya jadi tersadar. Bener juga kata teman saya ini. Mestinya kita orang Islam yang harusnya lebih semangat baca terjemahan Al-Quran. Bukankah kita sering mengatakan:

Al-Quran pedoman kita….

Al-Quran adalah petunjuk kita….

Al-Quran adalah pelita….

Al-Quran ibarat peta….

Namun yang jadi pertanyaan sekarang: “Bagimana bisa Al-Quran jadi petunjuk, kalau artinya saja kita nggak tahu??? Terutama kita yang memang tidak mengkhususkan belajar bahasa Arab? Ya kan?”

Nah…! Ini PR buat kita semua. Ini renungan buat kita bersama, termasuk saya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Hajrul Qur`an (berpaling dari Al-Quran) itu ada beberapa bentuk.”

Pertama, berpaling tidak mau mendengarkannya, dan tidak mengimaninya. Kedua, tidak mengamalkannya, dan tidak berhenti pada apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkannya, walaupun ia membaca dan mengimaninya.

Ketiga, tidak berhukum dengannya dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya. Keempat, tidak merenungi dan tidak memahami, serta tidak mencari tahu maksud yang diinginkan oleh Dzat yang mengatakannya.

Kelima, tidak mengobati semua penyakit hatinya dengan Al-Quran, tetapi justru mencari obat dari selainnya. Semua perbuatan ini termasuk dalam firman Allah Azza wa Jalla: “Rasul berkata: “Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan,” (QS. Al-Furqan/25: 30).

Mungkin ini saja sedikit renungan dari saya. Semoga yang sedikit ini jadi pengingat untuk kita semua.

Luangkan waktu untuk membaca terjemahan Al-Quran, ya.. Sampai khatam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here