Taliban ke Norwegia Minta Asetnya Dicairkan Karena Terancam Bangkrut

160

Jakarta, Muslim Obsession – Delegasi Taliban bertolak ke Norwegia bertemu dengan sejumlah perwakilan negara Barat hingga organisasi terkait. Taliban meminta agar bantuan kemanusiaan bagi Afghanistan dan pencairan aset negara.

“Kami meminta mereka untuk mencairkan aset warga Afghanistan dan tidak menghukum warga biasa karena wacana politik,” tutur salah satu delegasi Taliban, Shafiullah Azam, kepada Associated Press, pada Ahad (23/1).

“Karena kelaparan, karena musim dingin yang mematikan, saya pikir ini adalah waktu bagi komunitas internasional untuk mendukung warga Afghanistan, bukan menghukum mereka karena perselisihan politik,” ucapnya menambahkan.

Sejak Taliban berkuasa lagi pada Agustus 2021, seluruh negara yang bekerja sama dengan Afghanistan menangguhkan hubungan hingga bantuan.

Berbagai negara termasuk Amerika Serikat bahkan membekukan aset Afghanistan di luar negeri senilai lebih dari US$10 miliar (Rp143 triliun).

Pembekuan aset ini juga menjadi masalah mengingat kini warga Afghanistan kian terpuruk kemiskinan. Banyak masyarakat yang kelaparan dan bahkan harus menjual anak mereka demi mendapat uang.

Sementara itu, sekitar 80 persen anggaran Afghanistan bergantung pada bantuan internasional sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan.

Setidaknya 23 juta warga di Afghanistan mengalami kelaparan ekstrem, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebanyak satu juta anak di bawah 5 tahun juga terancam meninggal dunia karena kelaparan.

Kondisi yang sangat parah itu membuat beberapa rumah sakit, yang tak memiliki dana untuk membeli bahan bakar, terpaksa menebang pohon demi menghangatkan kamar pasien. Beberapa kelompok bantuan juga memperingatkan situasi ini akan semakin parah jika komunitas internasional tak bertindak.

Tingkat pengangguran di Afghanistan pun kian meroket. Akibat terancam bangkrut karena uang kas negara semakin menipis, rezim Taliban pun dikabarkan sudah tak sanggup membayar gaji para pegawai negeri Afghanistan selama berbulan-bulan.

Selain soal bantuan, lawatan Taliban ke Norwegia juga menjadi salah satu upaya kelompok itu meminta pengakuan dan legitimasi kepada dunia sebagai pemerintahan sah Afghanistan.

Azam mengatakan pertemuan dengan perwakilan Barat di Norwegia adalah “langkah untuk melegitimasi pemerintah Afghanistan.”

“Undangan pertemuan dan bentuk komunikasi seperti ini akan membantu komunitas Eropa, AS atau banyak negara lain untuk menghapus gambaran yang salah tentang pemerintah Afghanistan,” ucapnya.

Meski begitu, pemerintah Norwegia memastikan bahwa undangan pertemuan ini bukan merupakan bentuk pengakuan terhadap Taliban. Oslo menegaskan pertemuan dengan Taliban ini berlangsung demi mengatasi krisis kemanusiaan di Afghanistan yang kian memburuk.

Lawatan ke Norwegia ini memang menjadi kunjungan pertama delegasi Taliban ke negara Barat setelah mengambil alih pemerintahan Afghanistan sejak Agustus 2021 lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Afghanistan di rezim Taliban, Abdul Qahar Balkhi, mengunggah sejumlah foto delegasi Taliban saat menaiki jet pribadi mewah menuju Ibu Kota Oslo.

“Delegasi Emirat Islam Afghanistan (IEA) yang dipimpin Menlu Mawlawi Amir Khan Muttaqi terbang menuju Norwegia dengan penerbangan khusus di mana akan digelar pembicaraan bersama perwakilan dari berbagai negara lain terkait bantuan kemanusiaan, politik, pendidikan, dan masalah ekonomi lainnya,” bunyi kicauan Balkhi pada Sabtu (22/1).

Delegasi Taliban akan berada di Norwegia selama tiga hari. Selain bertemu perwakilan negara, Taliban juga akan bertemu dengan beberapa organisasi masyarakat sipil Afghanistan, membuka peluang untuk berunding sejak mengambil alih kekuasaan. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here