Puasa Hari Arafah Adalah Puasa Yang Paling Utama Setelah Puasa Ramadhan

81

Banda Aceh, Muslim Obsession – Wakil Ketua Majelis Pakar Parmusi Provinsi Aceh Ustaz Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA mengingatkan umat Islam mengenai keutamaan amal shalih pada sepuluh hari awal Dzulhijjah khususnya puasa hari ‘Arafah. Ustadz berpesan agar umat Islam melakukan berbagai amal shalih padanya terutama puasa hari ‘Arafah.

“Dianjurkan pada sepuluh hari awal Dzulhijjah untuk memperbanyak amal shalih. Keutamaannya adalah Allah ta’ala paling mencintai amal shalih pada hari-hari ini melebihi hari-hari lain dalam setahun.”

“Dalilnya adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (awal Dzulhijjah). Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”.

Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid).” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Abu Daud)”

“Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada sepuluh hari awal Dzulhijjah yaitu puasa pada sembilan hari awal Zhulhijjah yaitu mulai dari hari pertama Dzulhijjah sampai hari ke sembilan dari Dzulhijjah atau puasa pada sebahagian hari-harinya, terutama pada hari ke sembilan dari bulan Dzuhijjah yaitu hari ‘Arafah. Pada hari-hari ini disunnatkan melakukan amal shalih termasuk puasa, berdasarkan keumuman hadits Ibnu Abbas tersebut dan puasa termasuk amal shalih, bahkan amalan utama sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.”

“Hadits Ibnu Abbas ini menjadi dalil disunnatkannya puasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, khususnya puasa pada hari ke sembilan Dzulhijjah yaitu hari Arafah, karena puasa termasuk amal shalih. Ini dalil secara umum.”

“Adapun dalil secara khusus mengenai disunnatkannya puasa sembilan hari awal Dzulhijjjah yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebahagian istri Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sembilan hari (awal) dari bulan Dzulhijjah, hari ‘Asyura, dan tiga hari setiap bulannya yaitu awal Senin dan Kamis.” (HR. Abu Daud)”. Dalam riwayat lain, “Dan dua Kamis.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)”

“Dalil lainnya, hadits yang diriwayatkan oleh Hafshah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu puasa hari ‘Asyura, puasa sepuluh hari (awal) bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari dari setiap bulan (Hijriah), dan shalat dua rakaat (fajar) sebelum (shalat) shubuh” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).”

Nasihat ini disampaikan oleh Ustaz Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA dalam khutbahnya di masjid Babu Zamzam Peunayong Gampong Mulia Banda Aceh pada hari Jum’at (8/7/22) kemarin.

Ustaz Yusran yang juga Ketua Majelis Ulama dan Intelektual Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh menegaskan bahwa puasa hari ‘Arafah adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.

“Puasa yang paling utama di antara hari-hari sembilan awal Dzulhijjah ini adalah puasa pada hari ke sembilan yaitu hari ‘Arafah berdasarkan ijma’ para ulama, karena keutamaan hari ‘Arafah sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya:”

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hari yang paling banyak dibebaskan oleh Allah ta’ala seorang hamba dari api neraka dari hari ‘Arafah.” (HR. Muslim).”

“Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alahi wasalam bersabda, “Hari yang paling utama adalah hari ‘Arafah.” (HR. Abu ‘Awanah dan Ibnu Hibban).”

“Dari Jabir radhilyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alahi wasalam bersabda, “Dan tidak ada satupun yang lebih utama dari hari ‘Arafah.” (HR. Abu Musa Al-Madini).”

“Dengan demikian puasa ‘Arafah adalah puasa yang paling utama pada hari-hari ini bahkan hari-hari dalam setahun setelah puasa Ramadhan,” ujar Ustaz Yusran.

Kemudian Ustaz Yusran yang juga anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini menjelaskan hukum puasa “Arafah.

“Puasa hari ‘Arafah disunnatkan bagi orang yang tidak berhaji berdasarkan keumuman hadits-hadits shahih yang menjelaskan keutamaannya dan ijma’ para ulama mengenai hal itu.”

“Adapun bagi yang berhaji, puasa ini dilarang dan hukumnya makruh berdasarkan hadits-hadits shahih. Ini pendapat jumhur ulama termasuk imam Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad dan inilah pendapat yang kuat.”

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi saw melarang puasa hari ‘Arafah (bagi orang yang berhaji) di ‘Arafah. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).”

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa ‘Arafah (bagi orang yang berhaji) di Arafah. (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, dan dishahihkan oleh keduanya).”

“Orang yang berhaji di ‘Arafah disunnatkan untuk tidak berpuasa. Ini pendapat jumhur ulama di antaranya Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. Dalil mereka adalah hadits-hadits shahih di antaranya yaitu:”

“Dari ummul Fadhl radhiyallah ‘anha, ia berkata, “Orang-orang ragu pada puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari ‘Arafah, maka ia mengirim susu kepada Rasulullah, maka beliau minum, sedangkan beliau dalam keadaan berkhutbah di ‘Arafah.” (Muttafaqun ‘alaih).”

“Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa di ‘Arafah, dan ummu Fadhal mengirim kepadanya susu, maka beliau minum. (HR. At-Tirmizi).”

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: “Aku berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak berpuasa yakni hari ‘Arafah, bersama Abu Bakar namun beliau tidak berpuasa, bersama Umar, namun beliau tidak berpuasa, bersama Usman namun beliau tidak berpuasa.” (HR. At-Tirmizi).”

“Dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu “anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hari ‘Arafah, hari Nahr, dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita orang-orang Islam yaitu hari makan dan minum.” (HR. Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh At-Tirmizi), sebut Ustaz Yusran.

Selanjutnya Ustaz Yusran yang juga dosen Fiqh dan Ushul Fiqh pada Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh menjelaskan keutamaan puasa hari ‘Arafah beserta dengan dalil-dalilnya.

“Adapun keutamaan puasa ‘Arafah adalah menghapus dosa dua tahun sekaligus yaitu setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dalilnya adalah hadits-hadits shahih di antaranya:”

“Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasa pada hari ‘Arafah, aku mengharapkan kepada Allah, menghapus dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim dan At-Tirmizi)”

“Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa hari ‘Arafah menghapus dua tahun, yakni (setahun) yang lalu dan (setahun) yang akan datang. Puasa ‘Asyura menghapus setahun yang lalu.” (HR. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmizi), jelas ustaz Yusran.

Di akhir khutbahnya, ustaz Yusran yang juga Doktor Fiqh dan Ushul Fiqh pada International Islamic University Malaysia (IIUM) mengajak umat mengisi hari-hari ini dengan amal shalih khususnya puasa dan lebih lagi khusunya puasa hari ‘Arafah.

“Inilah keutamaan puasa ‘Arafah. Maka sangatlah rugi jika kita melewatkan hari-hari yang paling utama ini tanpa melakukan amal shalih khususnya amalan puasa pada hari-hari ini dan lebih khususnya lagi khususnya puasa hari ‘Arafah. Semoga kita bisa meraih keutamaan hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah dan keutamaan puasa pada hari-hari sembilan darinya, terutama keutamaan puasa ‘Arafah,” pungkas Ustaz Yusran yang juga Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Syah Kuala Banda Aceh. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here