Kiprah PITI dalam Konteks Kekinian: Menjaga Ukhuwah, Merawat NKRI

587
Insert: Foto bersama di Bengkulu tahun 1938. Tampak dari kiri ke kanan: Buya Hamka, Karim Oey Tjeng Hien, dan Soekarno. (foto dokumentasi dari buku karya Abdul Karim Oei Tjeng Hien Berjudul "Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa").

Oleh: Dr. H. Serian Wijatno., SE., MM., MH (Ketua Harian Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, dan pengurus di DMI Pusat, PP Parmusi, dan Tim Ahli Pinbas MUI)

Sejak eksis pada tahun 1938, jauh sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sudah berkiprah bagi bangsa dan negara ini.

Hal itu bisa dilihat dari sejumlah dokumen dan catatan sejarah tentang keakraban antara Ir. Soekarno yang juga Presiden pertama RI, tokoh ulama Buya HAMKA yang juga pahlawan nasional dengan salah seorang pendiri PITI, yakni Haji Karim Oey.

Dengan bukti sejarah yang pernah disampaikan PITI kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri, pemerintah pun mengakui PITI sebagai organisasi kemasyarakatan yang lahir sebelum kemerdekaan. Dengan kata lain, kiprah PITI yang saat itu masih bersifat lokal tapi sudah ikut berjuang bersama elemen bangsa yang lain untuk merebut kemerdekaan RI.

Hal ini perlu dicatat dalam sejarah perjalanan kemerdekaan kita bahwa PITI yang merupakan peleburan dari dua organisasi Muslim Tionghoa sebelumnya, yaitu Persatuan Islam Tionghoa (PIT) dan Persatuan Muslim Tionghoa (PMT) tak hanya berjuang bagi kemerdekaan negeri ini tapi dalam perjalanannya kemudian juga telah ikut berperan besar dalam mewarnai secara positif keberagaman di negeri ini hingga sekarang.

BACA JUGA: Wafatnya Verawaty dan Perhatian Terhadap Pebulutangkis

Kehadiran dan peran ormas PITI saat ini telah banyak membantu etnis Tionghoa baik yang sudah mendapatkan hidayah, yakni mereka yang telah memeluk dan belajar Islam maupun kalangan Tionghoa di Indonesia secara umum.

Selain berkontribusi di bidang dakwah, PITI juga ikut berkontribusi dalam upaya peningkatan perekonomian.

Peran dakwah PITI bisa dilihat dengan kiprah organisasi ini dalam membumikan dan menyelaraskan tentang pemahaman Islam kepada kalangan Tionghoa dengan selalu menekankan bahwa Islam yang sejati adalah Islam yang memberikan kedamaian dan kesejukan kepada seluruh penghuni alam atau Islam sebagai rahmatan lil alamiin. Sehingga ketika ada kekerasan yang mengatasnamakan Islam mereka tidak terpengaruh.

Perkembangan dakwah PITI ini khususnya di kalangan etnis Tionghoa sudah sangat pesat dan mendapat respon yang positif. Sehingga sering terjadi dialog yang positif tentang pandangan Islam dan ajaran Islam.

BACA JUGA: Muslim Tionghoa, Akulturasi Sosial dan Religi Sejak Berabad Silam

Dengan begitu, tidak ada lagi miskomunikasi dan tidak ada lagi ruang bagi orang yang sengaja ingin memberikan informasi yang salah tentang Islam. Karena sebelumnya tak jarang mereka mendapatkan informasi yang tidak tepat atau kurang tepat tentang Islam. Tapi Alhamdulillah, informasi itu terbantah oleh penjelasan dan sikap PITI yang selalu menyampaikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Langkah PITI yang membangun jembatan komunikasi dengan dakwah yang komprehensif di kalangan Muslim Tionghoa, itu tidak hanya mampu membangun image Islam tapi juga menjaga bangun persatuan negara bangsa. Sehingga tercipta persatuan dan kesatuan. Hal ini sesuai dengan konteks keindonesiaan dimana persatuan adalah pondasi utama dalam merawat keberagaman yang ada.

Selain meneguhkan secara politik yakni memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, PITI juga memahami bahwa kiprahnya harus dibarengi dengan peningkatan perekonomian bagi anggotanya. Karenanya, PITI terus membangun dakwah dan pengembangan ekonomi umat agar bisa serasi dan saling melengkapi. Karena bagi kami dakwah agama penting, tapi perkembangan ekonomi juga tidak kalah pentingnya.

BACA JUGA: Serian Wijatno: Alhamdulillah Gedung DMI Siap Berkiprah

Karena itu langkah PITI seperti juga umat Islam lainnya akan beriringan dengan kalangan organisasi keislaman ahlusunnah wal jamaah yang ada di negeri ini salah satunya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah serta yang lainnya dalam hal untuk kemaslahatan umat.

Untuk itu PITI tetap berjuang dan berdakwah bersama umat Islam yang lain dan tidak akan membeda-bedakan dari suku maupun keturunan apa pun untuk bersatu padu dalam menciptakan ukhuwah yang kuat dan menjadikan perbedaan sebagai keberagaman dan pemersatu bangsa, sehingga kerukunan beragama dan antar pemeluk agama tetap terjaga dengan baik.

Karena sebagai wujud pengamalan Islam rahmatan lil alamin PITI terus mengingatkan agar selain membangun ukhuwah Islamiyah yakni persatuan Islam juga membangun ukhuwah basyariyah yakni persaudaraan kemanusian yang juga salah satu doktrin ajaran Islam, serta meningkatkan ukhuwah antar sesama anak bangsa atau ukhuwah wasathiyah.

Dengan demikian, keberagaman yang ada dapat dibingkai dengan kesalehan teologis dan kesalehan sosial seluruh bangsa untuk mewujudkan negara kesatuan Republik Indonesia sebagai negara “baldatun toyyibatun warrobbun ghafur” yang dapat dimaknakan sebagai negeri yang terdapat banyak kebaikan alam dan kebaikan manusianya. Suatu negeri yang subur makmur namun penduduknya tidak lupa bersyukur. Insya Allah!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here