Islamophobia (Bagian 1)

218

Oleh: Mutawakkil Abu Ramadhan (Pimpinan Pesantren Pendidikan Islam Terintegrasi PPIT As Salam Cigombong Bogor)

Islam adalah agama yang menakutkan dan harus dikhawatirkan oleh kemanusiaan, inilah setidaknya menurut hemat penulis tentang substansi dari makna islamophobia.

Istilah ini secara efektif lahir didunia barat terutama setelah peristiwa teror Menara kembar WTC di kota New York pada tanggal 11 September 2001. Setelah peristiwa itu dunia Islam mengalami dua penderitaan yang luar biasa:

1- Agitasi secara fisik dan non fisik dari dunia non muslim, secara fisik negara negara muslim setelah 11 September 2001 mengalami agresi militer dari pihak luar. Situasi domestik dinegara negara muslim juga sama, aparat dalam negeri mengintai, mengejar dan menangkapi aktifis aktifis Islam dengan alasan mengancam negara dan kemanusiaan. Secara non fisik, opini dunia dan domestik diarahkan oleh media untuk mencurigai dan mengucilkan Islam dan penganut taatnya.

2- Terjadi perpecahan di dalam tubuh umat Islam. Perpecahan ini memiliki karakter yang berbeda dari masa masa sebelum 11 September. Perpecahan ini dipicu oleh rasa saling curiga mencurigai antar sesama umat Islam akibat terpengaruh oleh propaganda dan pandangan sempit peradaban barat terhadap Islam pasca serangan 11 September.

Karena peristiwa 11 September 2001 memiliki agregasi yang bernuansa global, maka perpecahan bangsa bangsa muslim menyikapi hal ini juga bersifat global. Bukan hanya di Timur Tengah dan Indonesia, namun perpecahan besar ini melanda seluruh umat Islam di dunia.

Fenomena Islamophobia meski baru mencuat setelah peristiwa 11 September dan terus mewabah hingga detik ini, sesungguhnya perilaku Islamophobia sudah muncul sejak awal dakwah Islam setelah Rasulullah SAW menerima wahyu di Gua Hira di bukit Nur di Kota Suci Makkah.

Islamophobia secara bahasa terdiri dari dua kalimat, yaitu Islam dan phobia, Islam adalah agama Islam dan phobia adalah ketakutan yang berlebihan.

Awal dari perilaku Islamophobia ini muncul sejak seorang yang bernama “Muhammad bin Abdullah” seorang pedagang yang dijuluki sebagai “jujur dan sangat dipercaya” oleh masyarakatnya yang saat itu masih menyembah berhala.

Lalu beliau menjadi utusan Allah (Rasulullah SAW) dan sekonyong konyong dibenci oleh masyarakat yang sempat memujinya dengan julukan “tukang sihir”, “orang gila”, “plagiat”, “pendusta”.

Menghadapi serangan ini, Nabi Muhammad SAW sangat sedih, namun turunlah ayat Al-Quran (Al-An’am ayat 33) yang menjelaskan bahwa sesungguhnya mereka (masyarakat jahiliyyah) tidak menyerang kamu secara pribadi, yang disasar adalah agama ini (Islam)

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”.

Jadi, konteks Islamophobia meski kerap menyerang para penganut dan ulamanya diseluruh dunia, namun sebenarnya pemicu dari semua itu menurut ayat di atas adalah rasa ketakutan pihak pihak yang merasa dirugikan oleh kemunculan Islam.

Islam menghapus paham kasta, kartel, kultus individu, keadilan sosial, persamaan hak, moralitas tinggi, mistisme, fanatisme secara perfect sangat sempurna. Tentunya hal ini sangat merugikan mereka yang sudah menzalimi kemanusiaan selama ini.

Penyebab munculnya fenomena Islamophobia:

1- At-tamsil As-Sayyi’: Sangat disayangkan, banyak dari umat Islam saat ini menampilkan/merepresentasikan Islam bukan dengan performa peradaban, atau dengan kata lain ditampilkan dengan buruk.

Dari sektor politik dengan banyaknya diktatorisme di negara negara timur tengah, dari sektor ekonomi dimana banyak dari negara negara muslim yang tidak mampu menciptakan keadilan sosial, dari sektor sosial kita melihat kebanyakan bangsa bangsa muslim memiliki tingkat keterdidikan dan pengetahuan yang relatif rendah dari bangsa bangsa non muslim.

Padahal sejarah Islam sudah membuktikan bahwa sistem kekuasaan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem kesehatan Islam,sistem pendidikan Islam, sistem perdagangan dan pertanian Islam, sains dan pengetahuan Islam adalah pelopor dari apa yang dijuluki saat ini sebagai dunia modern.

2- Al ‘Unsuriyyah: yaitu rasisme, masih bayak stereotip dari kalangan non muslim yang menilai bahwa Islam itu adalah Arab, konsep dasar Islam adalah universal untuk seluruh makhluk dialam semesta. Akibat dari stereotip ini kita banyak melihat orang-orang kulit putih di dunia barat yang masuk Islam akan mengalami proses alieniasi (pengasingan, pengucilan) dari masyarakat mereka.

3- At tabrir/Justifikasi (pembenaran) untuk melakukan penjajahan ulang dinegara negara muslim, bangsa bangsa penjajah itu akan selalu menggambar gemborkan sebuah alasan kuat mengapa mereka harus menyerang dan menguasasi dunia Islam, alasan yang dibuat-buat oleh mereka adalah bahwa Islam adalah agama “yang maunya lain sendiri” dari agama agama lain di dunia ini.

Islam dinilai sebagai agama yang mau benar sendiri, suci sendiri dan selamat sendiri sehingga Islam dinilai sebagai agama aneh, mencampuri urusan keduniaan, mencampuri urusan privasi, penuh dengan kegilaan dan terror sehingga dunia ini tidak akan aman kecuali jika dunia Islam (negara Islam,pergerakan Islam dsb) kembali dikuasai dan ditindas oleh mereka.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here