Ihsan

742

Oleh: Dea Guru H. Ahmad Nahid, M.Pd (Wakil Pengasuh dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa Indonesia)

Dalam Islam terdapat landasan-landasan yang wajib dipahami, karena landasan ini yang menjadi ‘ruh’ dari seluruh kegiatan berIslam. Islam mengajarkan bahwa sedikitnya terdapat 3 landasan utama yang harus dipahami dan dimaknai secara mendalam kemudian diimplementasikan dengan sebaik-baiknya.

Makna berIslam akan tidak sempurna ketika ketiga landasan ini tidak tersinkronisasi dan termaksimalkan dengan baik. Tiga landasan tersebut adalah rukun Iman, rukun Islam, dan rukun Ihsan.

Rukun Iman dan Rukun Islam adalah dua hal yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun banyak yang melupakan untuk yang ketiga, yaitu Ihsan. Padahal Ihsan memiliki dampak sangat besar ketika diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA: Wakaf (Bagian 1)

Ihsan bisa menjadi motor penggerak, bahkan peningkat kualitas setiap amalan yang dilaksanakan. Dalam sebuah hadits yang cukup panjang di mana Rasulullah ﷺ ditanya perihal Islam, Iman, dan Ihsan, beliau menuturkan tentang Ihsan sebagai berikut:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu,” (HR Muslim).

Definisi Ihsan yang dijavarkan Rasulullah di dalam hadits tersebut adalah kita, umat Islam, beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah namun ketika kita merasa tidak dapat melihatNya, maka kita harus senantiasa yakin bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah luput untuk memperhatikan dan mengawasi kita dImanapun dan kapanpun kita berada.

Hakikat Ihsan mengajarkan kita agar senantiasa menjaga dan memperhatikan hak-hak Allah, serta menyadari betapa agungnya kebesaran Allah selama menjalankan ibadah. Ihsan mengajarkan kepada seluruh Muslim untuk bersikap professional dalam setiap aktivitas yang dilakukannya.

BACA JUGA: Wakaf (Bagian 2)

Meningkatkan kualitas, memperbanyak kuantitas, menebar kebermanfaatan, dan mempersembahkan yang terbaik yang ia mampu merupakan syarat-syarat seorang muslim untuk berlaku professional. Karena memang, hakikat hidup ini adalah sebagai ajang untuk berlomba-lomba mempersembahkan amal terbaik.

Imam Nawawi juga dalam menjelaskan bahwa bila seseorang di dalam ibadahnya mampu melihat secara nyata Tuhannya maka sebisa mungkin ia tidak akan meninggalkan sedikit pun sikap khusyuk dan khudlu’ (merendah diri) di dalam ibadahnya tersebut. Keterengan tersebut tertulis dalam kitab al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibnil Hajjâj.

Dengan begitu benar adanya jika Ihsan bisa meningkatkan kualitas diri seorang muslim dan amalannya dilandasi sebuah keyakinan bahwa sesungguhnay Allah senantiasa mengawasi dan menilai amalan-amalannya dImanapun dan kapanpun.

BACA JUGA: Hibah atau Hadiah

Ihsan terbagi menjadi dua macam:

1- Ihsan di dalam beribadah kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq)

2- Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah

Ihsan di dalam beribadah kepada Al-khaliq memiliki dua tingkatan:

a. Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, ini adalah ibadah dari seseorang yang mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Nama lain dari perbuatan ini disebut Maqam al-Musyahadah (مقام المشاهدة).

Dan keadaan ini merupakan tingkatan Ihsan yang paling tinggi, karena dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan dan kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Sikap seperti ini membuat hatinya terang-benderang dengan cahaya Iman dan merefleksikan pengetahuan hati menjadi ilmu pengetahuan, sehingga yang abstrak menjadi nyata.

BACA JUGA: Zakat (Bagian 1)

b. Jika kamu tidak mampu beribadah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu, dan ini ibadah dari seseorang yang lari dari adzab dan siksanya. Dan hal ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama, karena sikap Ihsannya didorong dari rasa diawasi, takut akan hukuman.

Sehingga, dari sini, ulama salaf berpendapat bahwa, “Barangsiaa yang beramal atas dasar melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia seorang yang arif, sedang siapapun yang bermal karena merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia seorang yang ikhlas (mukhlis).”

Maka suatu ibadah dibangun atas dua hal ini, puncak kecintaan dan kerendahan, maka pelakunya akan menjadi orang yang ikhlas kepada Allah. Dengan ibadah yang seperti itu seseorang tidak akan bermaksud supaya di lihat orang (riya’), di dengar orang (sum’ah) maupun menginginkan pujian dari orang atas ibadahnya tersebut.

BACA JUGA: Zakat (Bagian 2)

Tidak peduli ibadahnya itu tampak oleh orang maupun tidak diketahui orang, sama saja kualitas kebagusan ibadahnya. Muhsinin (seseorang yang berbuat Ihsan) akan selalu membaguskan ibadahnya disetiap keadaan.

Berbuat Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah dalam empat hal, yaitu:

Harta. Yaitu dengan cara berinfak, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Jenis perbuatan Ihsan dengan harta yang paling mulia adalah mengeluarkan zakat karena dia termasuk di dalam Rukun Islam. Kemudian juga nafkah yang wajib diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya seperti istri, anak, orang-tua, dll. Kemudian sedekah bagi orang miskin dan orang yang membutuhkan lainnya.

Kedudukan. Manusia itu bertingkat-tingkat jabatannya. Sehingga apabila dia memiliki kedudukan yang berwenang maka digunakannya untuk membantu orang lain dalam hal menolak bahaya ataupun memberikan manfaat kepada orang lain dengan kekusaannya tersebut.

BACA JUGA: Jin, Iblis dan Setan

Ilmu. Yakni menerapkan ilmu yang diketahuinya untuk kebaikan orang banyak atau orang-orang di sekelilingnya, memberikan ilmu bermanfaat yang diketahuinya kepada orang lain, dengan cara mengajarkannya.

Badan. Yakni menolong seseorang dengan tenaganya. membawakan barang-barang orang yang keberatan, mengantarkan orang untuk menunjukan jalan, dan ini termasuk bentuk sedekah dan bentuk Ihsan kepada makhluk Tuhan.

Wallahu a’lam bish shawab.

Mari istiqamah dalam beribadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here