Goa Hira dan Masjid

Antara Tradisi Kontemplasi dan Syari'at 'Itikaf

273

Oleh: Sulaeman Jajuli

A- Goa Hira dan Kontemplasi.

Adanya Tuhan, sebagai oknum (Dzat) di luar konsekuensi diri manusia, terlepas apakah Dia hakiki atau sekedar imitasi adalah sebuah kebutuhan tersendiri untuk mengisi kekosongan ruang jiwanya.

Betapapun seorang digjaya bisa segala, tetap butuh Tuhan. Hingga raja Namrud yang demikian berkuasa. Dia belum merasa puas, kalau tidak didampingi Tuhan sebagai basis sandarannya. Akhirnya, dia membikin patung (berhala) sedemikian rupa, selanjutnya patung tersebut dia puja, dia sembah dan dia jaga dari kemungkinan yang kontra terhadapnya.

Pun berlanjut hingga era Jahiliah, tradisi membikin patung (berhala) seolah menjadi kemestian tersendiri. Berbagai jenis patung (berhala) dengan segala desain, variasi dan ornamennya mereka bikin. Tersebutlah nama-nama patung beken di belantika persyirikan seperti: Hubbal, Latta, ‘Uzza dan Manat .

Merasa tidak puas beribadah di hadapan Tuhan materi yang hampa daya dan reaksi (tidak bisa memberi manfaat dan madarat), mereka menempuh cara lain, yakni melakukan “kontemplasi’.

Dalam “Dictionary. Com”, kontemplasi dimaknai sebagai “tindakan merenungkan, pengamatan yang bijaksana” (the act of contemplating; thoughtful observation; atau “pertimbangan penuh atau mendalam; cerminan: kontemplasi keagamaan” (full or deep consideration; reflection:religious contemplation).

Jelasnya, kontemplasi tidak lain adalah pilihan sikap religiusitas untuk melakukan perenungan secara bijak dan mendalam (muhasabah, versi Islam) di tempat tertentu yang strategis (yang memiliki daya magic power tersendiri), bahwa di luar dirinya ada yang lebih segalanya yang bisa memberi pencerahan.

Adalah Muhammad Saw. pra bi’tsah (sebelum diangkat menjadi Rasul), bangunan teori religiusitasnya mengandalkan semangat doktrin ibrahimiyah-ملة ابراهيم حنيفا-(dan tentunya tidak abai juga terhadap nilai kearifan lokal yang ada).

Beliau pun melakukan “tahannuts” (kontemplasi) di Goa Hira, ketika dirinya dihadapkan pada gelombang masalah psikologi yang cukup hebat. Di sana beliau merenung, berdo’a, bermunajat dan bertakarub (mendekatkan diri) kepada Allah. Dan klimaks puncaknya, beliau mendapat Wahyu pertama dari Allah yang dikirim langsung melalui Jibril-‘Alaihis Salam-.

Adalah Hukaim Ibn Hazm, meminta pendapat kepada Rasul saw. atas kebiasaannya pada zaman Jahiliah suka melakukan ” tahannuts” (kontemplasi), beliau berkata:

أسلمت على ما أسلفت من خير والتحنث التعبد

“Kamu masuk Islam, atas masa lalumu yang baik. Kontemplasi itu adalah ibadah”.

Menjadi jelas, “tahannuts” (kontemplasi) adalah sebuah “kearifan lokal” yang pada zamannya (Jahiliah) dianggap sesuatu yang baik, bahkan termasuk aktivitas ibadah juga, mengingat konsep utuh tentang beribadah versi agama saat itu belum ada.

B- Masjid dan Syari’at ‘Itikaf

Betapapun versi rasio, bahwa “kontemplasi” itu baik, namun itu adalah produk Jahiliah. Oleh karena itu, “tahannuts” (kontemplasi) tidak dijadikan doktrin dalam agama Islam. Sejak Rasul saw. mendapat Wahyu pertama di Goa Hira, kontemplasi tersebut tidak beliau lanjutkan. Dan berikutnya para sahabat pun, tidak melakukan hal serupa. Kalau boleh dikata, “tahannuts”, adalah tradisi masa lalu beliau aw.

Konsep ” Tahannuts” telah dihapus karena khawatir bertendensi ke arah mitologi. Sekarang diganti dengan konsep baru yang dijadikan bagian integral dari ajaran (syari’at) Islam, yang keberadaannya jauh lebih baik, praktis dan sarat dengan nilai manfaat. Itulah dia “I’tikaf”.

Tegasnya, andai ingin mendapatkan ketenangan batin, berdo’a, bermunajat dan bertakarublah kepada Allah. Tempat dan sarananya jangan di tempat angker yang sarat mistis, datanglah ke “ke Masjid’.

Itulah dia rumah Allah. “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”, (al-Nur: 36).

C- Momentum 10 hari terakhir

Tidak perlu dikorek lebih jauh, kenapa mesti ada jargon sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan? Itu adalah hak permanen Rasul saw. Namun perlu dicatat, tidak sembarang, itu bukan sekedar teori dan asumtif, melainkan sebuah pengalaman pribadi yang empirically. yang langsung beliau saw. alami dan rasakan sendiri. Betapa sarat dengan nilai karomah.

Tidak perlu berlama-lama berkontemplasi di makam para wali, para tokoh atau mbah-mbah yang sakti mandraguna, yang malah justru bisa menjurus ke arah mistis. Yang legal formal, rasional serta syar’i saja , lakukan ” I’TIKAF” di Masjid.

الاعتكاف سنةٌ مؤكَّدةٌ، وقربة عظيمة، ثابت بالكتاب والسنَّة وإجماع الأمة؛ قال الموفق ابن قدامة رحمه الله: ولا نعلم بين العلماء خلافًا في أنه مسنونٌ

“I’tikaf adalah sunnah muakkadah dan merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah yang sangat agung. Status hukumnya, telah ditetapkan oleh al-Quran, al-Sunnah dan Ijma’ Ulama’. Versi al-Muwaffiq Ibn Qudamah, “Saya melihat, di antara ulama tidak ada silang pendapat, bahwa I’tikaf adalah disunahkan”.

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان، حتى توفَّاه الله، ثم اعتكَفَ أزواجه من بعده (متفق عليه)

“Dari Aisyah -radiyallahu ‘anha-, “Sungguh Nabi saw.senantiasa melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga diwafatkan Allah. Dan seteh itu dilanjutkan oleh para istrinya, (Muttafaq ‘Alaihi)”.

Selamat ber-I’tikaf!

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here