Antara Amr Ma’ruf dan Nahyu Munkar

163

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP PARMUSI, Direktur An Nahl Institute Jakarta, Ketua DPP Partai UMMAT)

ISLAM adalah agama yang syámil mutakàmil, sempurna–amat sangat sempurna. Bahkan Allâh تعالى sendiri yang mengumumkan kesempurnaan itu. Hal ini sebagaimana langsung diumumkan oleh Allâh تعالى dalam surah Al Máidah ayat ketiga.

Kesempuraannya meliputi semua hal, bukan hanya berdiri di bawah pondasi amr ma’ruf saja, namun ada kewajiban kita juga untuk juga merealisasikan nahyu munkar atau mencegah bahkan memerangi kemungkaran dan kezhaliman.

Keutuhan Islam yang sempurna itu janganlah membuat kita mengambil setengah-setengah yang kita sukai saja. Yang tidak kita sukai kita biarkan bahkan acuhkan begitu saja. Karena agama ini bukanlah seperti hidangan prasmanan yang bisa kita pilih sesuka hati kita saja.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Berdoalah dengan Hati

Sebagai agama yang penuh rahmat bagi semesta alam, Islam tampil secara utuh, seimbang juga berimbang, karenanya amr ma’ruf dan nahyu munkar hendaknya ditegakkan secara simultan dan atau berkesinambungan tanpa mengangkat yang satu dan meninggalkan yang lain.

Kita dapat menyaksikan dari sirah hidupnya Rasûlullâh ﷺ. Bagaimana beliau mengaktualisaikan atau mempraktekkan Islam dengan sangat indah dan berkeadaban. Keseimbangan dan proporsionalitas Islam begitu terasa dan membumi dalam kehidupan sehari-hari, tetap saja dapat tantangan bahkan perlawanan.

Begitulah halnya dengan orang kafir dan musyrik, saat Rasûlullâlh ﷺ harus menghindar, beliau dianggap sebagai pengecut. Pada saat yang lain beliau tampil tegas dengan melawan bahkan memerangi, mereka kemudian memberi cap (maaf ‘preman’) bahkan dianggap ‘pemberontak’.

Pada saat beliau bersiasat atau menghindar, mereka para kaum kuffàr atau munáfiqún, mungkin bergumam: Nabi kok pengecut, seharusnya dihadapi dong, bukannya lari atau menghindar.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: The Power of Doa

Di sisi lain begitu melihat Nabi tampil gagah menghadapi kezhaliman dan kemunkaran, apalagi memimpin perang seperti Badar, Uhud, khandaq dan lainnya, mereka para pendengki dan pembenci berkomentar: Nabi kok hobinya perang, mestinya Nabi itu mengajarkan kedamaian, toleransi, persatuan, & kesatuan he he … ( ingat kisah Luqmàn Al Hakim yang tengah memberi pelajaran pada anaknya dengan seekor keledai).

Pada kesempatan yang berbeda, mereka yang telah tertutup oleh hidayah, ketika mendengar Rasûllâh ﷺ berdoa, mereka akan berujar: Nabi kok mendoakan yang jelek, mestinya Nabi mendoakan yang baik-baik saja.

Apalagi ketika mereka menyaksikan Rasûlullâh marah dan tetap menghukum potong tangan perempuan dari kalangan bangsawan, mereka mencemooh: Nabi kok keras dan pemarah begitu? Seharusnya Nabi itu mengayomi dan mudah memaafkan. Wow….apa pula celoteh mereka pada saat Rasûlullâh ﷺ memberlakukan qishash? Pasti lebih usil dan nyinyir lagi.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Ulama Pewaris Para Nabi

Pada saat mendengar Nabi memerintahkan untuk membakar dan menghancurkan Masjid Dlirâr, merekapun berteriak: Nabi kok radikal begitu, harusnya Nabi itu lemah lembut tidak sadis seperti itu dong…

Semua peristiwa yang dialami oleh Rasûlullâh ﷺ itu adalah nyata–amat sangat jelas—apalagi dengan kita hari ini. Andai para kaum “buzzeRp” alias warga nyinyiriyyun alias Bani Janggaliyyiun itu hidup di zaman Rasûlullâh-pun, niscaya mereka tetap akan melakukan serangan demikian, apalagi terhadap perjuangan di zaman yuan dan dollar ini.

Karenanya, tetaplah bersama untuk melawan kezhaliman dan tegakkan keadilan. Serta teruslah semangat dalam amr ma’ruf dan istiqomah dalam nahyu munkar.

Jum’ah mubârakah, jangan lupa Al Kahfi dan perbanyak shalawat atas Nabi…

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here