Ambisi

198

Oleh: Aunur Rofiq (Ketua Dewan Pembina HIPSI/Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Keinginan terhadap suatu jabatan/kedudukan dengan dorongan yang sangat kuat disertai ambisi, sebaiknya hindarilah. Ingatlah pesan Rasulullah Saw. Dari Abdurrahman bin Samurah ia berkata, Nabi Saw. bersabda:

“Ya Abdurrahman bin Samurah, engkau jangan minta menjadi pemimpin, sebab jika engkau dijadikan atas dasar permintaanmu, maka engkau menjadi beban, jika engkau dijadikan pemimpin tanpa permintaanmu engkau akan dibantu untuk mengatasinya”. (HR. Al-Bukhari).

Berambisi menjadi pemimpin, janganlah dilihat sekadar menjadi orang yang diutamakan, namun ingatlah bahwa cukup berat bebannya dan dituntut kesanggupannya.

Sebagai pemimpin diperlukan kewaspadaan serta sikap yang adil dan bijaksana dalam melayani masyarakat.

Adil tidak membedakan yang kecil dengan yang besar, tidak condong pada golongan tertentu, sehingga memerlukan kemauan yang keras dan cerdas. Maka janganlah ketika telah memperoleh amanah sebagai pemimpin akan melupakan beban kepemimpinannya.

Jabatan digunakan sebagai alat memuaskan sifat rakusnya, angan-angannya, membagikan keuntungan kepada golongannya.

Kesenangan dunia bukanlah sesuatu yang kekal, adakalanya datang dan ada kalanya pergi. Demikian juga kedudukan yang diemban, pada saatnya pasti pergi. Hal ini merupakan janji Yang Kuasa bahwa kekuasaan itu dipergilirkan.

Post power syndrome adalah keadaan yang menyakitkan bagi orang-orang yang menikmati kedudukan, oleh karenanya godaan untuk tetap berkedudukan menjadi tantangan yang berat.

Namun jika keikhlasan menerima amanah dan saat melepaskan amanah itu akan terasa sama. Bagi orang-orang yang beriman, ambisi untuk pemimpin akan digunakan sebagai wasilah melayani, meningkatkan ketaatan dan meningkatkan untuk berbagi manfaat.

Allah Ta’ala berfirman, yang intinya mengingatkan hamba-hamba-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 96:

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab”.

Berambisi hidup lama maupun meraih kedudukan, jika dimaksudkan untuk memperbanyak ketaatan, melayani dan meningkatkan berbagi manfaat, maka itulah ambisi yang baik. Karena bertambah usia bagi orang beriman akan bertambah kebaikannya.

Bagi orang yang baik, usia panjangnya dan kedudukannya membuatnya bersyukur. Bagi pendosa, usia panjang maupun kedudukannya memberinya kesempatan bertobat.

Hati-hatilah jika ambisinya membuahkan keburukan, maka itulah seburuk-buruknya ambisi. Menikmati kesenangan akan melalaikan untuk memperbanyak kebaikan.

Seorang penyair mengatakan, “Lakukanlah perbuatan yang baik sebanyak-banyaknya, maka apabila engkau turun dari jabatannya, maka sesungguhnya kebaikanmu itu tidak akan turun”.

Pemimpin yang baik akan sadar bahwa jabatan itu adalah amanah yang nantinya akan dipertanggung jawabkan bukan hanya di dunia, tetapi kelak di akhirat.

Pengertian amanah adalah, menempatkan sesuatu pada tempat yang wajar, seperti kedudukan tidak diberikan kecuali benar-benar kepada yang berhak, ahli dan mampu menunaikan tugas jabatan itu.

Maka angkatlah orang yang mempunyai kecakapan pada bidang itu bukan karena kerabat atau kawan akrab sedaerah.

Jadi tidak cukup dengan mempunyai ambisi dengan landasan kebaikan, masih perlu adanya syarat “kecakapan” untuk menerima suatu amanah.

Ini ada tuntunan dari Rasulullah Saw. Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Ya, Rasulullah, mengapa tidak menunjuk saya?” Rasulullah bersabda, “Hai Abu Dzarr kau seorang yang lemah, dan jabatan itu sebagai amanah yang pada hari kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali hanya orang yang dapat menunaikan hak dan kewajibannya, dan menenuhi tanggung jawabnya,” (HR. Muslim).

Permintaan Abu Dzarr tidak diluluskan karena Rasulullah Saw. tahu kemampuannya dan tidak akan sesuai dengan jabatan yang diminta. Tidak meluluskan karena ingin menyelamatkan sahabat dari tanggung jawab yang kemungkinan menjadi beban dan teguh menempatkan orang pada posisi yang tepat.

Suatu bangsa yang tidak mengemban amanh, itu merupakan tindakan mempermainkan kepentingan yang telah ditetapkan, akan melemahkan atau mengabaikan para tenaga ahli. Posisi ditempati orang yang bukan ahli pada bidangnya dan ini memberikan petunjuk kerusakan yang akan terjadi pada akhir zaman.

Islam telah mengajarkan kita ikhlas bekerja dan suka memperhatikan hak-hak manusia yang dipercayakan padanya.

Bagi para generasi muda sebagai calon pemimpin, hendaklah lebih memilih diberi amanah dari pada berambisi. Jika berambisi dengan cara apapun untuk meraihnya, maka enyahkanlah.

Semoga negeri ini akan diisi para pemimpin yang beramanah, sehingga menjadikan negeri berkemajuan yang gilirannya menjadi negeri makmur. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here