Filsafat dalam Rekonstruksi Peradaban Manusia

216

Oleh: Teddy Khumaedi (Dekan Fakultas Dakwah & Komunikasi Islam (FDKI) Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor)

Peradaban adalah kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan intelektual yang dibangun dan dihidupkan seluruh isinya. Ia seperti rumah, yang sengaja kita bangun untuk melindungi diri dan keluarga agar hidup kita berjalan baik, aman, tentram dan nyaman. Akan tetapi tidak selalu kita sebagai manusia berhasil membangun rumah sebagai istana yang diidamkan.

Seringkali kita harus menghadapi berbagai masalah yang menguras waktu dan tenaga, sebaliknya justru ketika orang lain sudah mampu membangun peradaban maju, humanis, dan produktif yang mampu menegur pribadi kita seakan menjadi inspirasi bagi setiap manusia lainnya.

Saat pandemi Corona melanda dunia pertama kalinya, saat itulah monster Covid-19 menunjukkan wajah kita yang sebenarnya, siapa diri kita sebenarnya dan apa wujud asli setiap manusia sebenarnya?

Ketika dunia bekerja sama dan bekerja keras memaksimalkan kemampuan untuk menekan angka penderita Covid-19 dengan berlomba-lomba menemukan vaksin sebagai obat daripada virus tersebut.

Negara Indonesia malah masih harus terus berjibaku menghadapi warganya yang tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan, akibatnya sampai tulisan ini terbit jumlah penderita dan korban jiwa terus meningkat secara drastis dari hari ke hari memang istilah disiplin seperti barang baru dan asing bagi bangsa Indonesia, bisa juga diartikan seperti musuh bebuyutan yang selalu menjadi momok menakutkan karena sangat sulitnya rakyat Indonesia untuk berdisiplin.

Ada apa gerangan dengan bangsa kita? Apa yang salah dengan peradaban kita? Bangsa yang berpenduduk mayoritas umat Islam di dunia kenapa begitu sulit untuk sekedar menjalankan disiplin yang diinstruksikan pemerintah? Jawabannya bisa beragam atau tanyakan pada rumput yang bergoyang..!!

Anehnya lagi, kebanyakan warga negara Indonesia yang mengaku bahwa agama adalah hal penting dalam hidupnya belum sepenuhnya mampu melaksanakan disiplin itu, kiranya tak perlu rasa ragu untuk meneliti persoalan ini dari aspek agama. Para Sosiolog Muslim banyak berpendapat, salah satunya yaitu Akbar S. Ahmed, telah mengamati mengapa Islam dapat bangkit di belahan benua eropa salah satunya Negara Turki, setelah puluhan tahun dipaksa menjadi sekular?

Karena kisah kebangkitan Islam di Turki dan gagalnya sekularisme sering menjadi kajian dunia kuncinya adalah disiplin bersama, ada pelajaran penting dari kebangkitan Islam di Negara Turki pasca perubahan sistem Negara menjadi sekulerisasi, hakikatnya ajaran Islam tidak lenyap begitu saja di masa pemerintahan Kemal Ataturk sebagaimana diduga kebanyakan orang. Islam tetap bergerak di bawah permukaan, menunggu iklim dan momentum yang lebih baik ini semua dilakukan secara disiplin.

Secara kasat mata masih terlihat jelas, bahwa masyarakat perdesaan hampir tidak terpengaruh sama sekali oleh gerakan sekularisasi. Mereka tetap memegang teguh ajaran Islam secara kokoh. Disisi lain, segala bentuk upaya westernisasi yang digembor-gemborkan pemerintahan Ataturk drastis ternyata tidak menyelesaikan masalah bangsa Turki. Sedangkan dibelahan dunia lain, arus besar kebangkitan Islam tahun 1970an sampai tahun 1980an sedang terjadi di mayoritas jazirah dunia Islam, turut memberikan dorongan cukup berarti bagi rakyat Turki.

Banyak rakyat Turki yang merasakan kebanggaan sebagai muslim dan mulai mengalihkan pandangan mereka ke dunia Islam, berita beberapa waktu lalu Masjid Hagia Sophia (Aya Sofya) telah resmi dikembalikan pada fungsinya sebagai tempat ibadah umat Islam di Turki sempat menjadi berita trending topik dunia sekalipun memunculkan sikap protes dari kalangan umat non muslim karena bangunan tersebut awalnya merupakan sebuah gereja yang dianggap memiliki sejarah panjang perjalanan umat Kristen dunia.

Faktor penting yang menjadi pemicu kuat kebangkitan Islam di Negara Turki yaitu, situasi perkembangan sosial politik di Eropa yang mengalami kemajuan pesat. Adapun segala usaha dan upaya bangsa Turki untuk menjadi bagian dari bangsa barat, sekalipun sudah berusaha mati-matian untuk menjadi “Barat” dan menjadi “Eropa”, akan tetapi mereka tetap saja dianggap“orang luar” bagi Eropa.

Memang persoalan peradaban tidak akan semudah yang kita bayangkan. Sikap beragama dalam lembaga keagamaan yang sengaja dibangun punya sejarah dan geneologi yang panjang di masa lalu terkhusus dalam perjalanan panjang sejarah peradaban Islam. Begitu juga dengan peradaban Islam yang terjadi di benua Asia, Artinya hal semacam itu sudah sangat mengakar dalam kesadaran masyarakat terkhusus di Indonesia.

Beberapa waktu lalu ramai ditengah masyarakat reaksi penolakan terhadap vaksinasi masal rakyat Indonesia, dilanjut penolakan tenaga kerja asing di Indonesia yang secara spesifik tertuang dalam draft investasi UU Cipta Kerja yang telah disahkan oleh presiden.

Hal itu sangat menjelaskan mengapa ada orang yang sudah menjadi professor, doktor ataupun dokter mereka beragama justru malah terlihat tidak rasional, menolak gagasan bernegara dalam berbangsa secara utuh, menolak teori perubahan, menolak nasionalisme, menolak investasi asing, menolak transaksi bank modern, dan menolak mewabahnya Covid-19 di negaranya bahkan di dunia sekalipun.

Logika atau peradaban mereka tidak berjalankah atau tidak punya peradabankah mereka? Karena sikap semacam ini yang sudah sangat mengakar ditengah masyarakat, maka solusi untuk menghadapinya juga harus dengan sesuatu yang kuat dari akarnya, bisa melalui pendekatan spikologi atau pun sosiologi–antropologi yang dapat melacak kebiasaan cara hidup masyarakat sampai ke akar-akarnya.

Namun, salah satu cara yang paling ekstrem adalah menggunakan pandangan dalam filsafat (filosofi) yang sudah jelas lebih teruji, pandangan dan pola pikir berfilsafat banyak mengkaji dan menelaah bagaimana menemukan solusi dalam mengatasi kebuntuan berpikir disebabkan lemahnya logika dalam berpikir ataupun minimnya pemahaman tentang peradaban.

Di sinilah letak dan fungsi Filsafat salah satunya filsafat Islam, hadirnya filsafat Islam adalah sebuah disiplin ilmu dan disiplin hidup berasaskan iman kepada Allah dengan tujuan menciptakan kesejahteraan (maslahat hidup) bagi setiap muslim di dunia melalui cara-cara yang adil, rasional, empiris, dan bertanggung jawab dengan tetap memegang teguh prinsip Sunnatullah.

Dengan mendalami filsafat manusia secara langsung dipaksa untuk mengaktifkan daya pikir irasional (unlogical thinking) demi menemukan ujung pangkal berpikir (solution) dalam setiap permasalahan, hal itu sudah dibuktikan oleh orang-orang dahulu dizaman yunani kuno sampai memasuki era kelahiran dan kebangkitan Islam di abad pertengahan.

Maka tidaklah heran peradaban manusia pada masa itu mencapai puncak peradaban paling tinggi dimasanya, karena hampir setiap permasalahan dalam kebuntuan berpikir selalu didobrak dengan filsafat untuk menyelesaikannya. Bahkan filsafat Islam lahir dan berkembang pesat ketika mulai memasuki awal abad pertengahan dimana ketika dinasti Umayyah menjadi imperium Islam dan mampu menguasai daratan Andalusia.

Dalam pembahasan ini saya mencoba menyambungkan sejarah filsafat Yunani dengan filsafat Islam. Karena saat ini sudah banyak bermunculan buku filsafat Islam yang ditulis oleh filusuf muslim khususnya dimasa abad pertengahan seperti yang telah disinggung diatas, tapi sebelum sampai kepada umat Islam tentunya filsafat mengalami perjalanan panjang dan berliku penuh dengan benturan.

Sebenarnya perjalanan filsafat dari Yunani ke dunia Islam dimulai dari pertalian hubungan guru dan murid seorang Aristoteles dan Alexander The Great. Sebagaimana Plato pernah berkata bahwa Negara ideal adalah Negara yang dipimpin oleh seorang filsuf, dan faktanya Alexander The Great adalah contoh nyata dari seorang filusuf, realitanya Aristoteles berhasil merealisasikan visi sang guru.

Sedangkan filsafat masuk ke dunia Islam di masa dinasti Abbasiyah pertama (132-232H/750-847M), tepatnya dimasa khalifah Harun Ar-Rasyid yang mempelopori berdirinya Bait Al-Hikmah, perpustakaan terbesar di Baghdad. Filsafat Islam merupakan hasil pemikiran para filsuf tentang ketuhanan, kenabian, kemanusiaan dan alam yang dilandasi ajaran Islam dengan logis dan sistematis.

Filsafat Islam berupaya memadukan antara wahyu dengan akal, antara akidah dengan hikmah, antara agama dengan filsafat, dan menjelaskan bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal. Maka tidaklah heran ketika para filsuf Islam begitu mahir dan cakap ketika berbicara konsep tata Negara karena dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan dalam membangun peradaban suatu bangsa (umat).

Dari sini umat Islam sebenarnya sudah lebih aktual terkait bagaimana membangun peradaban suatu bangsa, apalagi di fase kebangkitan Islam pada masa itu dunia barat sedang mengalami kegelapan ilmu pengetahuan sehingga keterbelakangan sain dan knowledge sebagai pondasi utama membangun peradaban sangat tertinggal jauh.

Memasuki awal abad dua puluh (century age) dunia barat mulai menemukan ritme dan pola dalam merancang kembali peradaban mereka hingga akhirnya beberapa revolusi pernah terjadi dibelahan dunia barat, dunia Islam malah sebaliknya semakin terlena seolah tertidur lelap perlahan menjauh dari sain dan filsafat.

Begitu juga dengan umat Islam Indonesia seharusnya seiring semakin menuanya Negara ini umat Islam Indonesia selayaknya semakin kuat dalam memperkokoh peradaban Islam nusantara dalam segala hal.

Namun, realitanya malah sebaliknya umat Islam yang notabene mayoritas penduduk bangsa ini seperti sedang mengalami kegelisahan yang cukup mendalam banyak fakta yang muncul dalam pemberitaan dimedia massa bahwa umat Islam sering kali menjadi sasaran target dalam framing pemberitaan di media yang acap kali merusak citra nama baik Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Sebenarnya apa sedang terjadi dengan umat Islam Indonesia?mengapa peradaban kolektivitas sesama umat semasa pra penjajahan sudah tidak terlihat lagi saat ini? Dari dua pertanyaan yang muncul tersebut bisa dipastikan akan banyak jawaban yang tentunya bakal beragam berdasarkan persepsi cara pandang masing-masing umat Islam yang terkelompokan dalam beberapa wadah organisasi masyarakat (ormas) apalagi kalau dikaitkan dengan pemahaman madzahib fiqhiyah.

Muhammadiyah dan NU merupakan basis terbesar umat Islam di Indonesia yang hingga saat ini mampu bertahan dalam membangun peradaban Islam di Indonesia, kedua ormas tersebut sudah tidak diragukan lagi sumbangsihnya bagi bangsa ini banyak pula tokoh negarawan, tokoh agama, tokoh politik dan tokoh pendidikan yang telah menorehkan sejarah dalam membangun peradaban Islam bangsa Indonesia yang lahir dari kedua ormas tersebut.

Namun saat ini torehan sejarah itu mulai pudar seiring kondisi umat Islam yang sudah mulai terkotak-kotakan disebabkan begitu sulitnya untuk disatukan kembali dalam satu perjuangan seperti masa pra penjajahan dahulu.

Faktor lainnya lemahnya umat Islam terhadap pemahaman politik sebagai alat legitimasi dalam meraih kekuasaan yang tentunya dengan kekuasaan politik itulah bisa menentukan segala kebijakan demi kepentingan umat Islam itu sendiri. Sikap umat sekarang pun cenderung dinilai mudah terprovokasi oleh isu-isu yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga mudah untuk diadu domba oleh sekelompok orang yang jelas punya kepentingan besar terhadap kekuatan umat Islam itu sendiri.

Hal ini kadang dilupakan dan bahkan diabaikan oleh mayoritas umat Islam, padahal kalaulah berpikir cerdas kepentingan umat seharusnya diatas segala kepentingan kelompok dan pribadi namun faktanya tidak, karena dalam tubuh umat Islam sendiri masih sering terjadi perdebatan dan perselisihan terkait pemahaman madzahib fiqhiyah yang menjadi penyebab utama ketidakmajuan pola pikir umat Islam Indonesia.

Sampai di sini pendapat penulis seharusnya umat Islam wajib mulai banyak berinstropeksi diri (muhasabah) dalam konteks berukhuwah Islamiyah sesama umat Islam lainnya, baik secara perlahan mau langsung action dengan berbagai ide dalam merekonstruksi kembali peradaban umat Islam Indonesia.

Semoga umat Islam Indonesia bisa segera bangkit kembali untuk membangun peradaban umat yang bermartabat sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam dakwahnya di kota Madinah Al-Munawarah. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here