Tiga Pilihan Hidup

39

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, Ummul Qura University, dan Pembina Alhusniyah Islamic School)

Dalam QS. Faathir, surah ke-35 ayat 32, halaman 438, Allah memberi kita 3 pilihan hidup.  Pilihan ada di tangan kita.

Realita hidup ini, di setiap komunitas, kelompok, organisasi, yayasan, dan perkumpulan apa pun, selalu ada orang-orang yang baik, sedang sedang saja dan ada pula yang nakal.

Pilihan ada di tangan kita, karena memang Allah SWT memberi kita pilihan.

Pimpinan, pengurus, ummat, masyarakat dan anggota komunitas, terbagi 3 kelompok berdasarkan QS. Faathir ayat 32:

BACA JUGA: Doa Agar Terhindar dari Kecelakaan Maut

1- Ada yang berhati riya, mencari nama, banyak bicara tapi tidak berbuat apa-apa, cenderung pelit, tapi rajin mengomentari orang yang akif berbuat baik. Kontribusinya hanya nyinyir dan cacian.

Orang-orang seperti ini disebut “Zhaalimun Li Nafsihi” (ظالم لنفسه) dan terkadang pula disebut “Munafik” (منافق). Munafik artinya orang yang jika berbicara lain di hati, lain di mulut. Muka manis saat bertemu, namun ada namiimah dan ghiibah setelahnya. Adu domba dan gossip. Bahkan suka menghambat orang yang mau berbuat baik.

2- Ada yang sedang sedang saja, kontribusinya ada, meski tidak signifikan, dan cenderung tidak banyak ikut aktif. Orang-orang seperti ini disebut “Muqtashid” (مقتصد), artinya sedang-sedang saja.

3- Yang berhati baik, ikhlas, tidak banyak bicara tapi banyak berbuat, ingin berbuat yang terbaik karena mendambakan rahmat dan ridha Allah. Orang-orang seperti ini disebut dalam QS. Faathir sebagai “Saabiqun Bil Khairaat (سابق بالخيرات), terkadang juga disebut “Muhsin” (محسن).

“Saabiqun Bil Khairaat” artinya orang yang berlombat cepat berbuat kebaikan. “Muhsin” artinya, orang yang suka berbuat kebaikan.

BACA JUGA: Yang Tidak Mendengar Adzan Lebih Nakal dari Setan

TRUE STORY:

1- Allah SWT berfirman menjelaskan tentang ketiga macam orang-orang tersebut di atas:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (فاطر الاية ٣٢)

“Kemudian Kitab Al-Quran itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, yang pertengahan dan ada pula yang berlomba mengejar lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu, adalah karunia yang besar,” (QS. Faathir, surah ke-35, ayat 32, halaman 438).

2- Rasulullah ﷺ bersabda mengenai 3 golongan tersebut di atas:

أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: {ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ} قَالَ: “فَأَمَّا الظَّالِمُ لِنَفْسِهِ فَيُحْبَسُ حَتَّى يُصِيبَهُ الْهَمُّ وَالْحُزْنُ، ثُمَّ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ

“Sahabat Rasulullah ﷺ bernama Abu Dardaa RA, menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ membaca Firman Allah (QS. Faathir ayat 32): “Kemudian Kitab Al-Quran itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang ‘Zhaalimun Linafsihi’, yaitu menganiaya diri mereka sendiri”. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Adapun orang yang menganiaya dirinya sendiri, maka ia ditahan hingga mengalami kesusahan, hukuman, penyiksaan dan kesedihan, barulah kemudian dimasukkan ke dalam Surga”.

BACA JUGA: Curahkanlah Infakmu dan Doamu di Mihrab

– Ada yang “Muqtashid”; yaitu orang-orang yang melaksanakan yang wajib wajib dan meninggalkan larangan-larangan Nya. Namun, terkadang dia tidak mengerjakan perbuatan yang dipandang Sunnah dan masih mengerjakan juga yang hukumnya MAKRUH.

– Ada yang “Saabiqun bil Khairaat”, yaitu orang-orang yang selalu mengerjakan amalan yang wajib dan Sunnah, menjauhi segala yang Haram, Makruh, dan sebagian yang mubah, yang masih dibolehkan”. (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Abu Dardaa).

POINTERS:

1- Allah SWT memberi pilihan, silahkan mau menjadi orang yang Zhaalimun li nafsihii dan Munafik, atau Muqtasidun atau Saabiqun Bil Khairaat atau Muhsin.

2- Jika hidup sulit, bahkan bertambah susah, hari demi hari ada saja problem yang menimpa, maka lihat apa yang telah kita perbuat, dan cepat bertaubat. Karna Allah selalu bersama orang-orang yang bertaubat.

BACA JUGA: Jika Ada yang Sakit, Kesempatan Emas Menambah Pahala

3- Biasanya orang-orang yang “Zhaalimun Li Nafsihii” jika diingatkan, dia merasa benar sendiri bahwa tindakannyalah yang betul. Allah SWT berfirman menjelaskan karakter mereka:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di Bumi ini”.  Mereka menjawab: “Sungguh, kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ

“Ingatlah, sungguh, mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar,” (QS. Al-Baqarah, surah ke 2, ayat 11-12).

Ini juga indikator kemunafikan. Hal ini ditegaskan pada surah yang sama di ayat-ayat sebelumnya:

فساد فى الارض

“Fasaadun fil Ardhi” (kerusakan di muka Bumi) bisa terjadi secara “hissiyah” atau fisik, yaitu kerusakan material dan lingkungan yang berhubungan dengan tempat yang kita tinggali.

BACA JUGA: Ikutilah Karakter Sang Panutan

Juga “fasaad” bisa secara ma’nawiyyah, tidak terlihat secara kasat mata namun dampaknya justru bisa lebih dahsyat. Di antaranya adalah kerusakan pola pikir, merasa berbuat baik, padahal sedang melakukan pengrusakan.

Bisa juga berupa perbuatan dosa, penyimpangan sikap moral, mental dan spiritual. Juga pelanggaran terhadap tata nilai yang baik dan benar.

Termasuk kerusakan ma’nawiyah adalah perilaku sosialnya, yang suka menebar fitnah, adu domba dan permusuhan, memecah kekompakan, merusak Silatur Rahim.

Orang yang pola pikir dan mental spiritualnya mengidap penyakit “nifaaq”, ketika mereka diberi tahu, diingatkan, dinasihati, dikritik agar kembali kepada kebenaran dan kebaikan, mereka menyangkalnya; mereka mengklaim bahwa “fasad” yang dituduhkan kepada mereka, mereka anggap adalah kemaslahatan, sudah benar secara prosedur dan mekanisme yang semestinya. Mereka mengklaim apa yang mereka lakukan adalah demi orang banyak.

4- Tanda orang yang “Zhaalimun Li Nafsihi”, suka Namiimah, Ghiibah dan iri berdasarkan difinisi Khalifah Ali Bin Abi Thalib RA, yakni: malas jika sendirian, rajin di muka orang, bertambah amal jika dipuji, berkurang kebaikannya bila dicela. (Khalifah Ali bin Abi Thalib RA).

BACA JUGA: Untunglah Suara Siksa Kubur Tidak Kita Dengar

5- Ingat, bahwa Allah SWT punya 2 Malaikat yang melekat mengawasi kita mencatat apa yang kita lakukan. Allah SWT berfirman:

إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ

“lngatlah ! ketika dua Malaikat mencatat semua perbuatan, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.”

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkan, melainkan ada di sisinya Malaikat Pengawas yang selalu siap mencatat,” (QS. Qaaf, surah ke 50, ayat 17-18, halaman 519).

6- Rasulullah ﷺ bersabda mengingatkan:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah Manusia itu disunggkurkan ke dalam Neraka muka dan hidung mereka, melainkan karena AKIBAT UCAPAN lisan mereka !” (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam At Tirmidzi).

BACA JUGA: Air Mata Khusyuk dan Air Mata Buaya

7- Orang-orang yang “Zhaalimun Li Nafsihii” atau “Munafik”, Allah akan menyiksanya sejak di Dunia ini dengan kehidupan yang selalu bermasalah, ditimpa kesulitan demi kesulitan dan kekurangan.

Hatinya selalu galau, pandangan matanya selalu awas dan liar. Kesulitan hidupnya akan berkurang jika bertaubat dan menghentikan prilaku keji nya itu.

8- Hati hati doanya orang yang tersakiti:

قال له:  أعطینی نصیحة یا امی، فقالت: إیاك أن یشتکیك أحد إلی الله سبحانه وتعالی

“Seorang anak bertanya kepada ibunya: “Nasehati aku ibu..!”

Ibunya menjawab: “Hati-hatilah akibat perbuatanmu yang menyebabkan seseorang mengadukan mu kepada Allah SWT”.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kita kemampuan menjadi orang yang “Saabiqun bil Khairaat” bukan yang “Zhaalimun Li Nafsihi” .

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu eling mengingat Allah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya pada Allah SWT.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here