Gerakan Terburu-buru dalam Shalat dan Pengaruhnya pada Fokus Ibadah

Muslimobsession.com - Mungkin tidak sedikit orang menyelesaikan shalat dalam tempo yang nyaris tanpa jeda. Rukuk dan sujud dilakukan cepat, bacaan berjalan, lalu salam, sementara perhatian sering masih tertinggal pada urusan di luar shalat. Situasi ini kerap dianggap persoalan niat, padahal riset neurosains menunjukkan ada pergeseran sistem kerja otak yang membuat ibadah dijalani secara otomatis.
Dalam kondisi tergesa, aktivitas otak lebih banyak ditangani oleh sistem kebiasaan. Mekanisme ini efisien untuk rutinitas, tetapi tidak melibatkan perhatian penuh. Akibatnya, shalat tetap sah secara gerakan, namun kualitas fokus dan kehadiran mental tidak terbentuk optimal. Penjelasan ini memberi dasar ilmiah mengapa tempo shalat berpengaruh langsung pada tingkat konsentrasi dan kesadaran dalam ibadah.
Dua Sistem Otak yang Berbeda
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa khusyuk dalam shalat berasal dari korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur kehadiran mental, kesadaran emosional, niat, dan refleksi spiritual. Studi dari Journal of Religion and Health (2019) menemukan bahwa praktik ibadah meditatif seperti shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran mengaktifkan area prefrontal cortex yang berkaitan dengan regulasi emosi dan perhatian fokus.
Dr. Andrew Newberg, neurosaintis dari Thomas Jefferson University, dalam penelitiannya tentang meditasi dan doa menemukan bahwa ketika seseorang benar-benar hadir dalam ibadah, aktivitas di korteks prefrontal meningkat signifikan, menciptakan pengalaman spiritual yang mendalam.
Ketika Terburu-buru Otak Beralih ke Mode Autopilot
Namun, ketika kita shalat dengan tergesa-gesa, otak beralih ke sistem yang berbeda: ganglia basalis, pusat kebiasaan otomatis. Bagian ini memang efisien untuk tugas rutin, tetapi tidak melibatkan kesadaran penuh atau makna spiritual.
Penelitian dalam Frontiers in Psychology (2018) menjelaskan bahwa aktivitas berulang yang dilakukan tanpa kesadaran penuh justru menekan fungsi korteks prefrontal. Akibatnya, gerakan shalat menjadi mekanis tanpa kedalaman spiritual.
Perlambat dan Hadirlah
Rasulullah ﷺ bersabda: "Shalat yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya."* Para sahabat bertanya, "Bagaimana ia mencuri shalatnya?"
Beliau menjawab, "Ia tidak menyempurnakan rukuknya dan tidak menyempurnakan sujudnya." (HR. Ahmad)
Memperlambat gerakan shalat, berhenti sejenak di setiap rukun, merenungkan makna bacaan, dapat mengaktifkan kembali korteks prefrontal. Ketika shalat dijalani dengan ritme yang lebih teratur, fokus lebih mudah dijaga dan rasa hadir dalam ibadah menjadi lebih konsisten.
Tambahkan 3 detik keheningan di setiap sujud dan Insya Allah kita bisa merasakan perbedaannya.
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































